BerandaARTIKEL UTAMAUskup Agung Jakarta Pimpin...

Uskup Agung Jakarta Pimpin Misa Arwah Warga Brasil yang Dieksekusi

Floresa.co – Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo memimpin misa arwah Rodrigo Gularte, warga Brasil yang dieksekusi matim Rabu (29/4/2015) dini hari tadi.

Misa ini yang digelar di rumah duka RS St Carolus, Jakarta Pusat, berlangsung pukul 19.05-20.00 WIB. Ratusan umat Katolik, utusan dari Kedutaan Besar Brasil, aktivis HAM serta para wartawan ikut hadir dalam Misa ini.

Pastor Frans Magnis Suseno, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, salah satu sosok yang dikenal vokal menentang eksekusi juga hadir, bersama sejumlah imam.

Dalam konferensi pers usai Misa, Mgr. Suharyo menyatakan penyesalannya terhadap eksekusi mati, di mana ia menyebut hal itu mencederai amanat sila kedua Pancasila.

“Sejak eksekusi yang pertama, kedua dan selanjutnya semoga tidak tejadi, bagi saya semua proses ini, maaf, mencederai sila kedua Pancasila,” katanya.

Mgr. Suharyo melanjutkan, sila tersebut yang berbunyi ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’ seperti terabaikan begitu saja. Nyawa diambil dengan begitu mudah.

Suharyo menyebut, seharusnya Indonesia dapat sejalan dengan negara lain yang lebih dulu memiliki pemahaman terhadap hukuman mati. Salah satunya dengan penghapusan hukuman tersebut.

“Sudah waktunya hukuman mati di Indonesia yang kita cintai dapat dihapuskan,” tegasnya. (Ario Jempau/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT