BerandaARTIKEL UTAMAWae Musur di Matim...

Wae Musur di Matim Meluap, Warga Batal Jual Hasil Bumi ke Pasar

Borong, Floresa.co – Meluapnya Kali Wae Musur di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat warga tiga desa di Kecamatan Rana Mese batal ke pasar pada Senin (27/4/2015) untuk menjual hasil bumi mereka.

Warga tiga Desa yakni Desa Bea Ngencung, Desa Lidi dan Desa Satar Lenda yang hendak menuju Pasar Inpres Borong akhirnya terpaksa kembali ke kampung masing-masing.

Katarina Amul, penjual sayur asal Lidi mengaku tidak tahu, jika Wae musur meluap hari ini.

“Hari pasar Minggu lalu tidak seperti ini, makanya kami semangat bawah sayur-sayuran mau dijual karena sayur kami Minggu lalu habis terjual,” katanya kepada Floresa.co.

Sementara itu, Ferdi, sopir bis kayu yang biasa mengantar penumpang di jalur ini mengaku tidak bisa lagi melewati Wae Musur.

“Airnya setinggi 3 meter. Apalagi arusnya sangat deras. Saya tidak berani mau lewat,” katanya.

Warga Bea Ngencung, Lorensius Obon mengatakan, memang sejak kemarin  di kampung di hulu seperti di Sita, turun hujan lebat sehingga Wae Musur meluap.

“Akibat persoalan ini, warga dirugikan, hasil bumi kami sengaja dijual di Borong agar bisa sekaligus membeli beras di pasar,” katanya.

Dia berharap Pemkab Matim serius memperhatikan akses transportasi menuju kampung bagian selatan Borong ini.

Tahun 2012 memang pernah dibangun jembatan di Wae Musur. Namun, akibat derasnya air dan tidak kuatnya banguan jembatan, membuatnya ambruk. Warga yang kemudian dirugikan jika musim hujan seperti ini. (Satria/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.