BerandaPERISTIWAFrans Making: Peternak Ikan...

Frans Making: Peternak Ikan Asal Lembata, Pernah Ditawari Jadi Penasehat Jokowi

JOGJA
Berpose dengan Frans Hero Making di depan kolam di sekitar rumahnya.

Floresa.co – Bertemu  dengan orang hebat tetapi secara kebetulan merupakan sesuatu yang lucu, menyenangkan, sekaligus berkat tersendiri.

Demikianlah saya menggambarkan pertemuan dengan Frans Hero Making, salah satu orang hebat asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pertemuan  itu benar-benar kebetulan semata. Saat itu, bersama seorang teman dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, saya tengah mencari seorang kenalan pengusaha bibit ikan lele di Yogyakarta, tepatnya di kilometer tiga belas ke arah Sleman.

Melalui perkenalan lewat media sosial (internet), ia sudah beberapa kali mengirimkan bibit ikan lele ke Labuan Bajo.

Pertemuan itu sebenarnya hanya mau melihat dari dekat bagaimana pengusaha tersebut melakukan pengembangan ikan lele. Apa mau dikata, ternyata penguasan tersebut hanya meminjamkan nama tempat itu untuk beriklan di media sosial.

“Itu penipu. Sudah banyak orang  ke sini, tanya alamat yang sama” jawab orang-orang yang kami temui, saat ditanya.

Kecewa dengan itu, kami  akhirnya berjalan terus, mencari para peternak lele. Kami melewati daerah persawahan. Dan rumah-rumah sudah semakin berjarak. Beberapa kali kami tersesat dan akhirnya tiba di Kecamatan Ngemplak.

Di sebuah rumah kecil  di tengah persawahan dan ada beberapa kolam  iklan di depannya, kami sebenarnya hanya sekadar ingin bertanya lebih lanjut, di manakah kami bisa mencari peternak ikan lele.

Ternyata, kami bertemu seorang Frans Making. “Mari masuk. Jarang peternak ikan dari Flores datang ke sini,” sambutnya, membuat kami merasa begitu beruntung.

Saat itu ia baru saja selesai syuting acara “Jejak Petualang”, salah satu program TV.  Semenjak menjadi terkenal, ia memang kebanjiran tamu: wartawan, mahasiswa, dosen, pejabat pemerintah, dan lain-lain. Hanya kami yang datang tanpa pemberitahuan saat itu.

Orang Hebat

Frans Making dikatakan hebat  karena beberapa bulan lalu namanya menjadi perhatian banyak orang, termasuk Presiden Joko Widodo, berhubung di media sosial, tersebar sebuah foto tentang model pertanian kreatif. Ia berdiri di tengah sawah di mana  di tempat itu sekaligus dikembangkan peternakan ikan.

Seperti kata pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, demikian pun model pertanian tersebut ketika dikombinasikan dengan peternakan ikan. Inilah yang kemudian disebut sstem pertanian minapadi.

Model pertanian kreatif itu memang  merupakan hasil karya seorang Frans Making. Sudah lama ia bekerja sebagai penyuluh perikanan di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta yakni sejak tahun 1996.

Selain aktif di koperasi yang biasa menyuplai ikan air tawar berjumlah sekitar 60 persen di kota Yogyakarta, Frans Making terus mengembangkan rekayasa benih. Di depan rumahnya yang kecil di luar kota Yogyakarta itu, ada belasan kolam untuk usaha tersebut.

“Sebagai penyuluh, saya tidak mau hanya mengajarkan teori. Saya lebih dahulu mempraktikannya, biar orang lain percaya,” jelas penyuluh perikanan di Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak, Sleman ini.

mina-tani
Begini model sistem pertanian kreatif tersebut

Senang Disebut Anjing Flores

Saat ditemui di rumahnya, Frans Making  sangat antusias menerima saya. “Jarang orang Flores datang ke sini dan saya orang Flores,” jawabnya sambil segera menyiapkan kopi untuk saya dan seorang teman.

Frans sebetulnya begitu lama merindukan kampung halamannya. Sudah hampir 28 tahun ia meninggalkan Flores dan baru beberapa kali masa liburan ia berkesempatan pulang. Meskipun demikian, ia amat mengagung-agungkan asal-usulnya Flores.

“Saya suka kalau orang panggil saya anjing Flores!” katanya blak-blakan sambil tertawa lepas.

Menurut pria kelahiran Lembata, 26 Juli 1962 itu, di kalangan teman-temannya  gaya bicaranya terbilang sangat kasar dan keras. Bahkan sewaktu kuliah di Akademi Penyuluh Perikanan di Bogor pada tahun 1993-1996, karakternya yang terkesan beringas dan menakutkan itu dimanfaatkan teman-teman dan termasuk dosen.

“Kalau ada yang bikin keributan di kampus, dosen biasa memanggil saya untuk mengamankan situasi,” katanya.

Meski demikian, orang-orang di sana sudah sangat memaklumi wataknya. Di balik penampakan yang seringkali dinilai arogan itu, ternyata ia adalah orang yang jujur , rendah hati, sederhana, dan berbicara apa adanya. Atas alasan itulah, ia banyak berkenalan dengan orang,  mulai dari petani, mahasiswa, pejabat pemerintahan, bupati, sultan, hingga Presiden Jokowi, tanpa kesulitan yang berarti.

“Sekarang banyak mahasiswa datang. Dan mereka selalu bilang, bapak terkenal di internet. Saya bilang ke mereka, saya tidak tahu internet.” ujarnya terus terang.

Dan ia menerangkan, fotonya yang menjadi terkenal di dunia maya sekarang, bukan karena dirinya ingin terkenal. Ada orang lain, mungkin mahasiswa yang mewawancarainya yang meng-upload foto tersebut.

mina-padi-beritajogja
Salah satu daerah persawahan yang dikembangkan Frans Hero Making

Amplop dalam Bentuk Lain

Seiring dengan namanya menjadi terkenal, tawaran yang datang kepadanya berlipat ganda. Salah satunya adalah tawaran menjadi penasehat presiden.  Kejadian itu berlangsung saat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Prof. Dr. Sri Adingsih dan Mantan  Ketua MPR Sidarto Danusubroto mengunjunginya di Sleman.

Akan tetapi, sebaik apapun tawaran itu — misalnya dari sisi financial — ia  menolaknya. Menurutnya, ia lebih suka berada di tengah masyarakat yang lebih membutuhkan dirinya. Alasan yang lebih meyakinkannya, ia percaya bahwa rejeki bisa datang dalam bentuk lain.

Kenyataan itu ia alami sendiri dalam kehidupan anak-anaknya. Menurutnya, kenyataan bahwa keduanya anaknya (laki-laki dan perempuan) sering mendapat beasiswa, ia percaya itu adalah berkat yang ia terima dari Tuhan.

“Amplop itu bisa datang dalam bentuk lain,” ujarnya,

Yang sulung bernama Fernando Redondo. Sejak SD sudah mendapat beasiswa sekolah bola klub Real Madrid di Yogyakarta. Sekarang ia menjadi pemain tengah di tim yunior  Kabupaten Sleman dan mendapat beasiswa di Universitas Negeri Yogyarkarta.

“Saya bangga sekali dia bisa menjadi pemain bola. Dulu memang saya ingin dia jadi pemain bola, makanya diberi nama Redondo, ikut nama pemain Argentina. Ternyata sekarang betul.” jelasnya sambil memperlihatkan kamar anak sulungnya itu.

Sementara anak perempuanya yang bernama  Shinta Lestari tak kalah hebatnya. Ia mewakiliki Provinsi DIY Yogyakarta dalam Olimpiade Nasional cabang olahraga lompat jauh. Sekarang, anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah itu menerima beasiswa juga.

Frans mengatakan, kedua anaknya itu adalah harta terindah yang ia miliki. Ia tak menginginkan yang lebih lagi seperti tawaran jabatan, tetapi hanya ingin meyaksikan anak-anaknya meraih cita-cita sambil melayani masyarakat di pedesaan.

“Dulu saya sebenarnya bajingan. Tapi semenjak ada anak, semua sudah berubah seratus delapan puluh derajat.” akunya. (GAF/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rayakan HUT RI, Anak Muda di Kupang Mandikan Orang Gila

Floresa.co-Setiap orang atau komunitas pasti memiliki cara-cara sendiri merayakan hari Kemerdekaan...

Pulau Padar, Salah Satu Habitat Komodo, Diprivatisasi

Floresa.co - Atas nama konservasi dan eko-turisme, kini giliran Pulau Padar...

Ayo ke Lembata! Hanya dengan Satu Juta, Bisa Kunjungi Banyak Tempat

Floresa.co -  Ada kabar baik bagi para penggemar wisata, travelling, exploring,...

Di Seminari Yohanes Paulus II, Labuan Bajo, Aktivis HAM Menangis

Floresa.co - Di Wamena, Pegunungan Tengah, Papua pada 1991. Dalam sebuah perjalanan...

Ingin Kuliah di Jakarta? Ini Kisaran Biaya Hidup Tiap Bulan

Floresa.co - Jakarta tidak hanya menjadi pusat kegiatan ekonomi dan politik, tetapi...

Pantai Pede Penuh Sampah!

Floresa.co-Rasanya tak perlu dicari tahu lagi alasan mengapa masyarakat sangat getol...

Demokrasi dan Logika Balas Jasa

Oleh:  VENANSIUS HARYANTO Sebentar lagi lonceng demokrasi lokal kita di NTT akan...

Di Mana Tanah Air Beta?

Floresa.co-Semua orang butuh uang. Tetapi ketika terancam kehilangan tanah air dan...