Tampak depan RSUD Ruteng. (Foto: Ardy Abba/Floresa)
Tampak depan RSUD Ruteng. (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Oleh: ALFRED TUNAME

“Segala apa yang terjadi adalah akibat perbuatan satu orang”.Demikianlah pernyataan seorang sejarawan bangsa Yunani, Polybius (204-125 SM) yang menulis tentang Roma sejak perang hingga binasanya Kartago.

Segala sesuatu bermula dari seorang pemimpin. Pemimpin adalah penanggung jawab sekaligus pelayan utama bagi mereka yang dipimpin. Tanpa tanggung jawab dan semangat pelayanan sang pemimpin, segala sesuatu pasti akan hancur berantakan.

Publik tidak berharap sistem pelayanan kesehatan di RSUD Ruteng hancur berantakan lantaran ketidakbijaksanaan seorang pemimpin. Karena itu, menggantikan pemimpin RSUD Ruteng adalah suatu kebijakan impresif seorang Bupati Manggarai, Christian Rotok. Dokter Elisabeth Frida Adur menjadi Direktur RSUD Ruteng menggantikan Dokter Dupe Nababan. Pergantian ini sangat penting untuk keberlangsungkan pelayanan kesehatan di RSUD Ruteng.

Tidak adil memang untuk menyalahkan semua ketidakbecusan pelayanan RSUD Ruteng kepada Dupe Nababan. Persoalannya, ia memiliki otoritas yang besar untuk mengontrol manajemen pelayanan. Dan sebagai direktur, Dupe Nababan seharusnya berbuat maksimal untuk memimpin rumah sakit menjadi lebih baik.

Dupe Nababan dianggap gagal memimpin RSUD Ruteng. Sejumlah balada mengharukan, sedih, dan tragis bersumber dari pelayanan rumah sakit sering mampir di telinga publik selama Dupe Nababan menjadi direktur.

Ia tidak berhasil membangun citra yang baik bagi RSUD Ruteng dengan pelayanan kesehatan yang prima. Yang terjadi justru lumpuhnya kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit Ruteng.

Lumpuhnya kepercayaan publik itu dikarenakan oleh begitu banyak malpraktik yang terjadi di rumah sakit Ruteng. Di antaranya, pemotong jari bayi, salah diagnosa, gagal operasi, penelantaran pasien dan penggunaan bahasa yang tidak ramah kepada pasien.

Semua ketidakbecusan pelayanan rumah sakit Ruteng ini adalah simpton gagalnya kepemimpinan.

Uniknya sejumlah alibi dipajang di etalase publik. Kekurangan alat, dokter dan perawat. Semua persoalan dianggap teknis. Celakanya, sesuatu yang teknis itu berdampak fatal bagi kehidupan seseorang. Seseorang akan mengalami cacat seumur hidup atau bahkan kehilangan nyawa lantaran persoalan teknis tersebut.

Dokter seharusnya memberi kepastian terhadap pasien. Dokter bisa saja memberikan rujukan kepada pasien seandainya dokter tidak mampu melayani pasien atau peralatan medis tidak memadai. Di sinilah kerendahan hati seorang dokter.

Sebab kepentingan pasien adalah sembuh, maka kerendahan hati dan kejujuran dokter harus ada. Pasien datang ke rumah sakit karena alasan ingin sembuh. Pasien yakin seorang dokter bisa menyembuhkan penyakitnya dan perawat dapat merawatnya hingga sembuh. Oleh karena itu, semua pihak harus saling bekerja sama.

Komunikasi yang baik dan transparan akan lebih cepat menyembuhkan pasien secara “psikologis”, sebelum penyakit fisiknya benar-benar sembuh dan selamat.

Antropolog George M. Foster dan Barbara Gallatin Anderson (1986) dalam “Medical Anthropology” pernah mendeskiripsikan rumah sakit sebagai abstraksi organisasi masyarakat kecil. Di situ, lapisan-lapis masyarakat saling berkomunikasi akrab sebab nasib dan penderitaannya yang sama. Komunikasi terjalin dengan baik dan mesra, antara pasien, keluarga, profesional meksi berbeda bangsal. Komunikasi seperti ini akan membebaskan, meringankan beban, menguatkan semangat sekaligus menyelamatkan.

Seorang dokter tentu bukan Tuhan yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang, tetapi memiliki kualitas spesial untuk memperpanjang umur seorang yang sedang sakit. Spesialitas seorang dokterlah yang membedakan dirinya dengan seorang dukun dalam mekanisme etnomedis.

Dokter memiliki kemampuan yang lebih ilmiah dan detail dalam mendiagnosa dan mengambil langkah tepat, pasti dan pas untuk menyelamatkan pasien. Citra profesionalitas itu ada pada jas putih dan stetoskop yang sering menggantung di leher dokter.

Tetapi secara institusional, pasien akan semakin sekarat apabila dokter sendiri megidap “sakit” kepemimpinan. Di sini, semua sistem rumah sakit akan menjadi kacau balau.

Maka keputusan yang tepat bahwa direktur rumah sakit harus diganti. Prinsipnya, pemimpin yang tepat akan mampu memimpin institusi dengan tepat.

Publik berharap dokter Elisabeth Frida Adur adalah sosok pemimpin yang tepat untuk memimpin RSUD Ruteng. Dokter Elisabeth harus mampu menggenapi harapan masyarakat untuk kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik.

RSUD Ruteng merupakan satu-satunya rumah sakit yang paling dekat dengan masyarakat di tiga kabupaten, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Rumah Sakit Ruteng menjadi tumpuan masyarakat tiga kabupaten itu untuk berobat.

Secara ekonomi-politik, kondisi ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi Pemerintah Daerah Manggarai. Pemerintah Daerah Manggarai bisa mengakumulasi nilai tambah ekonomi yang di dapat dari jasa pelayanan kesehatan dan arus mobilitas transportasi.

Ekstensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Manggarai bisa diperoleh dari sektor ini. Jika pelayanan RSUD dikelola dengan manajemen yang baik dan fasilitasnya memadai, masyarakat tidak perlu bersusah payah lagi untuk berobat ke Kupang atau Denpasar.

Pemerintah Kabupaten Manggarai memang seharusnya bertanggung jawab atas kelangsungan RSUD Ruteng ini. Tentu publik tidak berharap bahwa orientasi institusi rumah sakit adalah mengejar keuntung (profit oriented). Privatisasi RSUD Ruteng akan semakin membuat rakyat menderita.

Rumah sakit harus tetap membuat masyarakat merasa nyaman dan yakin sembuh atas kualitas pelayanan kesehatan dan keterjankuannya. RSUD Ruteng bisa menjadi tempat berobat yang terjangkau oleh masyarakat kecil.

Kesehatan adalah hak rakyat, maka pemerintah harus menjamin itu. Direktur baru RSUD Ruteng harus menjamin prinsip kesehatan untuk rakyat ini.

Harapan publik sedalam-sedalamnya ada di pundak Dokter Elisabeth Frida Adur.

Selamat bekerja dokter. Tuhan senantiasa melindungimu.

Penulis adalah pemerhati isu-isu sosial politik di NTT. Saat ini tinggal di Yogyakarta