BerandaPOLITIKLurah di Mabar Kerap...

Lurah di Mabar Kerap Minta Jatah Saat Warga Jual Tanah

uangLabuan Bajo, Floresa.co – Warga Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) kecewa dengan tindakan pemimpin mereka, Lurah Sipri Parut yang kerap minta jatah saat ada warga yang mengurus administrasi penjualan tanah.

Teo Urus, toko adat atau tua golo Kampung Lancang, salah satu wilayah kelurahan ini mengatakan kepada Floresa.co di kediamannya, Sabtu (14/03), mereka memiliki bukti-bukti tindakan Lurah Sipri.

“Bayangkan saja kalau ada warga yang menjual tanah, lurah harus ada dapat jatah,” katanya.

Ia menjealasakan, kalau harga tanah 1 miliar, lurah dapat satu persen dari harga tanah tersebut.

“Itu baru satu orang. Kalau banyak orang di Kelurahan Wae Kelambu menjual tanah harga miliaran? Ya, lurahnya jangan heran kalau sudah pulang pesiar dari luar negeri hasil dari pungli”, katanya.

Ia mengatakan, dirinya sudah menyurati Bupati Agustinus Ch Dula dan Ketua DPR Matheus Hamsi melapor kasus ini.

Isi suratnya, kata dia, meminta Dula dan Hamsi mempertimbangkan keluhan warga.

Sementara itu, saat dikonfirmasi via telepon seluler, Lurah Sipri menampik tuduhan warga.

Iamengatakan, tidak ada upaya mempersulit proses pengurusan administrasi di kantornya.

“Tidak ada pungutan liar,yang ada kalau ada Baba yang kasih Rp 500 000 kita terima, bukan minta”, kilahnya.

Ia menambahkan, “Kalau masyarakat biasa tidak ada pungutan dan juga tidak ada aturan pembayaran administrasi. Hanya kalau merka kasih, ya terimalah. Kalau tidak kasih, tidak apa-apa.” (Laporan Ril Ladur, Kontributor Floresa.co di Labuan Bajo)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....