Sabtu, 23 Oktober 2021

Pemberantasan Korupsi Gaya Yesus

Yesus dan korupsiOleh: GABRIEL MAHAL 

Bagaimana Yesus memberantas kejahatan korupsi? Pertanyaan ini bisa saja bikin Anda kaget sedikit. Mungkin juga bertanya, emang Yesus pernah terlibat dalam urusan pemberantasan kejahatan korupsi ini? Dimana? Kapan? Siapa koruptornya?

Anda tentu pernah mendengar nama kota Yerikho. Setidak-tidaknya dari bacaan Injil. Kota ini terletak di lembah Yordan, kurang lebih 27 km sebelah Timur Yerusalem, dan 10 km Barat Laut Dead Sea (Laut Mati). Kota ini berada 250 m di bawah permukaan laut, sehingga menjadi kota paling rendah di dunia. Sekalipun dikelilingi padang pasir, kota ini diairi sumber-sumber mata air yang segar. Dalam bahasa Ibrani nama Yerikho berarti “harum” (fragrant). Pada masa sekarang disebut “Kota Palma” (City of Palms). Kota ini banyak tumbuhi balsem dan kota penghasil balsem.

Sejarah biblis tentang Yerikho berawal dari Moses yang melihat ke sisi barat melewati Yordan dari Gunung Nebo di Moab dan melihat lembah luas Yerikho, kota pohon-pohon palma. Adalah Yosua yang memimpin bangsa Israel menuju Tanah Terjanji (Promised Land) yang merencanakan Yerikho jadi kota pertama yang akan dia taklukan. Para arkeologist menuturkan bahwa kota kuno Yerikho dikelilingi dua dinding: dinding dalam setebal empat meter dan dinding luar setebal dua meter. Tinggi kedua dinding itu diperkirakan sembilan meter.

Dinding-dinding dibangun dengan ruangan-ruangan di dalamnya. Dikisahkan bahwa dalam rumah dalam dinding itu hidup seorang perempuan bernama Rahab. Dan Rahab-lah yang membantu para mata-mata yang dikirim Yosua sebelum menyerang kota itu. Dia menyembunyikan mereka dan meloloskan mereka lewat jendela. Dikisahkan Kota Yerikho direbut Yosua dengan cara yang tidak biasa. Di bawah pimpinan Yosua, bangsa Israel berjalan mengelilingi kota itu sekali setiap hari selama tujuh hari. Pada hari ketujuh mereka mengelilingi kota itu para imam meniupkan terompet, orang-orang Israel serentak bersorak dan berteriak sangat keras yang mengakibatkan dinding kota itu runtuh. Yosua mengambil alih kota itu dan hanya Rahab yang diselamatkan. Diyakini bahwa tangan Tuhanlah yang berperan dalam pengalihan kota itu.

Di hadapan Tuhan, Yosua kemudian mengutuk siapapun yang akan membangun kembali kota itu. Anak pertama dari orang yang membangun kota itu akan mati sebagai fondasi kota, dan anak bungsu dari orang yang membangun kota itu akan mati sebagai harga yang harus dibayar untuk membangun gerbang kota itu. Kutukan ini terpenuhi ketika beberapa abad kemudian saat Raja Ahab berkuasa, Hiel Bethel membangun kembali kota Jerikho. Anak pertamanya, Abiram, mati, dan anak bungsunya, Segub, mati (1 Raja-Raja 16:34)

Di zaman kehidupan Yesus, nampaknya Yesus akrab dengan kota itu. Setidak-tidaknya bisa kita lihat dari kisah “Orang Samaria Yang Baik Hati” yang dituturkan Yesus ketika menjawab pertanyaan para Ahli Taurat, “siapakah sesamaku manusia” (Lihat Lukas 10:25-37). Dalam cerita itu Yesus menuturkan seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Melewati jalan Wadi-Kelt. Orang itu dibegal. Jatuh ke tangan para penyamun yang tidak hanya merampoknya habis-habisan, tetapi menganiaya orang itu hingga sekarat.

Seorang imam turun melalui jalan itu. Imam itu hanya melihat dari seberang jalan. Seorang Lewi juga melewati jalan itu. Juga hanya melihatnya dari seberang jalan. Lalu lewatlah seorang Samaria. Dia tergerak hatinya oleh belas kasihan dan menolong, menyelamatkan orang itu. Di akhir kisah, Yesus bertanya, siapakah di antara ketiga orang itu sesama manusia. Mereka menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihnya.” Lalu kata Yesus, “pergilah dan perbuatlah demikian.”

Mungkin ada yang bertanya, kenapa dalam perumpamaan itu Yesus menggunakan tokoh Orang Samaria, Imam dan orang Lewi. Karena pertama, di zaman itu orang Samaria adalah orang yang dibenci orang-orang Yahudi. Kedua, Yerikho itu merupakan tempat peristirahatan para Imam dan orang-orang Lewi. Dalam Talmud Yahudi dikisahkan bahwa banyaknya jumlah imam di Yerikho hampir sebanyak jumlah Imam di Yerusalem. Sifat dan perilakunya, ya sama seperti dalam perempumaan yang dikisahkan Yesus itu. Jadi, perempumaan itu langsung mengkritik sifat dan perilaku para Imam dan orang-orang Lewi.

Itu sedikit kisah tetang Yerikho yang di masa kehidupan Yesus menjadi kota pusat penghasil dan pengekspor Balsem. Di kota inilah hidup Zakheus, kepala pemungut pajak. Sebagai kota penghasil dan pengekspor Balsem, maka Zakheus memegang posisi penting dan dengan posisinya tersebut yang dibacking oleh kekuasaan Kekaisaran Romawi, Zakheus jadi orang yang sangat kaya dan tentu saja korup. Orang-orang Yahudi tidak hanya membenci Zakheus karena dia jadi kepala pemungut cukai yang korup, tetapi juga dipandang sebagai pengkhianat Bangsa Yahudi. Karena pajak yang dipungutnya itu untuk disetor ke Kekaisaran Romawi, bukan untuk masyarakat Yahudi. Zakheus dianggap sebagai orang berdosa. Ini tentu sangat kontras dengan nama Zakheus yang dalam bahasa Ibrani berarti “murni”, “suci”.

Di kota Yerikho inilah Yesus memberantas kejahatan korupsi yang dilakukan oleh koruptor ulang kota Yerikho, Zakheus. Yesus tidak hanya berhasil memberantas kejahatan korupsi yang dilakukan Zakheus, tetapi juga berhasil mengembalikan aset-aset hasil kejahatan (proceeds of crime) kepada rakyat.

Strategi pemberantasan korupsi yang Yesus lakukan tidak seperti yang dilakukan KPK, atau Kepolisian dan Kejaksaan. Tidak dengan pendekatan memusuhi, membenci, dan dengan nafsu menghukum koruptor, tetapi justru sebaliknya.

Dalam Lukas (19:1-10), dikisahkan, Yesus masuk kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badanya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Namun, Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Dari kisah ini, dengan kekuatan silahturahmi kepada sang koruptor ulung ini, Yesus mendorong terjadinya “Revolusi Mental” dan “Revolusi Iman” dalam diri Zakheus. Yesus tidak memusuhi, menjauhkan diri, mencaci maki, mengutuk sang koruptor. Tetapi mendekati sang koruptor, menumpang di rumahnya, dan menawarkan dia keselamatan yang nilainya melampaui semua kekayaan hasil kejahatan yang dia miliki. Buah dari pendekatan itu, Zakheus mengalami “Revolusi Mental” dan “Revolusi Iman”. Dengan penuh suka cita dia menyerahkan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan kepada orang yang diperasnya empat kali lipat.

Dalam perkembangan hukum yang terkait dengan pemberantasan kejahatan-kejahatan yang berorientasi kepada profit (profit oriented crime), termasuk korupsi, pendekatannya ditekankan pada pengembalian aset-aset hasil kejahatan (the recovery of proceeds of crimes). Kita bisa lihat itu dalam Proceeds of Crime Act di Inggris. Dan rupanya, pendekatan yang menekankan pada pengembalian aset hasil kejahatan ini sudah dilakukan Yesus terhadap sang koruptor ulung di kota Yerikho, Zakheus.

Apakah strategi pemberantasan korupsi sang koruptor ulung Zakheus yang dilakukan Yesus di kota Yerikho ini bisa memberikan inspirasi dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia?

Penulis adalah seorang advokat, tinggal di Jakarta 

- Advertisement -

1 KOMENTAR

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga