RSUD RutengFloresa.co–Kritikan terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin mengalir deras semenjak kasus yang menimpa pasien bernama Enik Nangge asal Waelengga, Kabupaten Manggarai Timur.

Dalam kasus Enik, diberitakan bahwa dokter angkat tangan setelah operasi sudah berjalan lantaran resiko besar yang akan ditanggung kalau operasi dilanjutkan.

Ibarat pelatuk, pemberitaan kasus tersebut ternyata memicu munculnya banyak kisah pilu lain tentang pelayanan di rumah sakit yang dikepalai oleh dokter Dupe Nababan ini.

Salah satunya adalah kisah seorang pasien yang dibentak secara kasar oleh seorang petugas medis.

“Kalau orang miskin, jangan masuk rumah sakit!” ujar petugas.

Dari sekian banyak orang yang menanggapi model pelayanan yang cenderung diskriminatif dan tak ramah tersebut, Charles Talu, salah seorang pemuda asal Manggarai, yang juga calon imam Fransiskan adalah salah satunya.

Menurutnya, kejadian tersebut memperlihatkan orang-orang Manggarai yang sudah semakin terasing dari akar budayanya.

“Orang Manggarai terkenal ramah, tapi di RSUD Ruteng kesan itu menghilang” katanya.

Pasalnya, keramahan orang Manggarai terhadap orang lain bukan pertama-tama adalah tuntutan pekerjaan, melainkan karena lahir dan sudah berakar dalam budaya Manggarai itu sendiri. Baginya, solidaritas yang tinggi amat nyata dalam sikap hidup orang Manggarai selama ini.

Sementara melihat buruknya model pelayanan di RSUD Ruteng selama ini, ada suatu cacat budaya yang serius dan perlu segera ditanggapi.

“Prinsip kebersamaan, solidaritas dan pelayanan yang ramah yang tidak saja berasal dari janji profesi tetapi juga yang mengalir dari nilai religi-kebudayaan para pelayan. Dugaan saya kebanyakan orang Manggarai telah abaikan nilai-nilai itu.” kata mahasiswa pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ini ini.

Atas dasar itu, menurutnya, segala praktik pelayanan diskriminatif selama ini semisal memperlakukan pasien di ruang VIP secara istimewa daripada di ruangan biasa perlu segera dibenah. Salah satunya adalah kembali merenungi kekhasaan budaya Manggarai.

“Pelayanan bagi para pasien sudah sepatutnya menunjukkan juga kekhasan yang sekali lagi tidak hanya berasal dari janji profesi, tetapi berangkat dari kultur dasar sebagai orang Manggarai. Kemanggaraian itu hendaknya dibawa kemana-mana, terutama dalam pelayanan.”

Ia cukup menyayangkan kalau apa yang selama ini dikenal sebagai karakter dasar orang Manggarai itu tinggal menjadi cerita belaka.

“Orang Manggarai yang terkenal ramah itu, jangan-jangan hanya tinggal ide besar dan hanya tersembunyi dalam slogan-slogan budaya tanpa ada gema dan buahnya lagi dalam kehidupan bermasyarakat secara khusus dalam bidang pelayanan.” kata pemuda asal Cibal ini. (GD/Floresa)