Floresa.co membuka kesempatan kepada Anda yang ingin menulis untuk publik melalui rubrik “Analisis” dan “Literasi.”

BerandaPERISTIWAIni Alasan RSUD Ruteng...

Ini Alasan RSUD Ruteng Nyerah Tangani Pasien yang Sudah Dioperasi

 

 Enik Nangge (44) didampingi suaminya di rumah keluarga usai dioperasi di RSUD Ruteng (Foto:Ardy Abba)
Enik Nangge (44) didampingi suaminya di rumah keluarga usai dioperasi di RSUD Ruteng (Foto:Ardy Abba)

Ruteng, Floresa.co – Keluarga pasien Enik Nangge (44), warga asal Wae Lengga, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur kecewa dengan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Manggarai, Flores, NTT.

Mereka kecewa lantaran perut Enik Nanggge yang divonis mengidap  penyakit kista itu sudah dibelah oleh dokter di RSUD Ruteng pada saat operasi pada Sabtu (21/2) akhir pekan lalu. Namun, pihak rumah sakit kemudian angkat tangan untuk melakukan tindkan lebih lanjut.

Menanggapi ketidakpuasan pasien tersebut, pihak RSUD pun, hari ini, Selasa (23/2/2015) menggelar jumpa pers untuk memberikan klarifikasi.

Dalam jumpa pers ini hadir antara lain Direktur RSUD Ruteng dokter Dupe Nababan, Penanggungjawab SMF Kebidanan dan Kandungan dokter Wayan Rusdiana Eka Putra, Kepala Seksi Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap dokter Maria D Yunita serta dokter Ari Diana yang menangani pasien Enik Nangge.

Dokter Wayan Rusdiana Eka Putra menjelaskan penyakit yang dialami Ibu Enik merupakan Kista Endometriosis yang sudah mengalami pelengketan hebat pada usus. Hal tersebut baru diketahui setelah perut ibu Enik dibelah.

“Waktu melakukan rontgen, kita tidak melihat pelengketannya. Kita hanya bisa melihat paru-paru dan jantungnya, kira-kira layak tidak dioperasi,” ujar Dokter Rusdi.

Lebih lanjut dokter Rusdi mengatakan pihaknya sudah menjelaskan kepada suami Ibu Enik bahwa kista yang diderita istrinya itu tidak bisa diangkat kerena sudah mengalami pelengketan pada usus. Di sisi lain, kondisi peralatan di ruang operasi juga tidak mendukung proses jalannya pengangkatan kista yang telah melengket tersebut.

Apalagi, katanya, dokter bedah juga tidak berani melakukan operasi. “Coba kalau paksa maka akan terjadi robek atau komplikasi yang lain,” ujar dokter Rusdi.

“Kami tidak bisa melakukan tindakan yang ekstrim karena sudah melihat kondisinya,” tambahnya.

Dokter Rusdi mengatakan memang dari pemeriksaaan dokter sebelumnya, kista yang diidap Ibu Enik tidak mengalami pelengketan pada usus, hanya coklat saja. “Karena kita tidak bisa tafsir, makannya ini harus dilakukan tindakan eksplorasi,” katanya.

Terkait jadwal operasi yang seharusnya pada Kamis, tetapi ditunda ke Sabtu karena dokter sedang liburan Imlek, dokter Maria D Yunita mengatakan para dokter tidak mengenal hari libur. Hanya saja, menurutnya, saat itu pihak rumah sakit menilai penyakit kista yang diderita Ibu Enik tidak masuk dalam kategori emergensi sehingga bisa ditunda.

Sedangkan terkait keluhan pasien soal beban biaya perawatan, Dokter Dupe Nababan mengatakan hal tersebut sudah diatur dalam peraturan daerah mengenai tarif di rumah sakit tipe C itu.

“Sebenarnya kami ini sudah melakukan yang terbaik dengan masyarakat. Semuanya, kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 tidak ada bedanya,” ujar Dokter Dupe .

Dupe juga menepis tudingan bahwa RSUD Ruteng dikenal dengan pelayanannya yang buruk. Dupe mengklaim pihaknya sudah memberi pelayanan terbaik untuk masyarakat. (ADB/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga