Marsel Sudirman (tengah, baju putih), bakal calon bupati Manggarai bersama DPC PDIP Manggarai (Foto; Ardy Abba/Floresa)
Marsel Sudirman (tengah, baju putih), bakal calon bupati Manggarai bersama DPC PDIP Manggarai (Foto; Ardy Abba/Floresa)
Marsel Sudirman (tengah, baju putih), bakal calon bupati Manggarai bersama DPC PDIP Manggarai (Foto; Ardy Abba/Floresa)

Oleh: MELKY PANTUR

Penjaringan bakal calon Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Manggarai telah berlangsung pada Januari-Februari 2015.

Kata petinggi DPC PDIP Manggarai sendiri, proses itu sudah sangat demokratis.

Tetapi, betulkah dalam menentukan calon yang bakal diusung, PDIP melewati mekanisme, yang menurut sambutan petinggi partai itu saat penjaringan di Sekretariat PDIP Manggarai, melewati tahap-tahap tertentu, seperti survei, baru menentukan pilhan?

PDIP telah menjaring 6 bakal calon, antara lain, Marsel Sudirman, Maksi Ngkeros, Aloysius Sukardan, Viktor Selamet, Kamelus Deno dan Heribertus Geradus Laju Nabit.

Apakah mereka dijaring secara demokratis? Ini tanda tanya besar di DPC PDIP Manggarai. Ataukah sudah ada deal dengan bakal calon tertentu sebelumnya?

Ada signal yang diperoleh penulis selama Pilres 2014, Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta.

Tentu saja, ini sebatas menduga.

Dukungan Jokowi-JK kala itu tidak hanya datang dari PDIP saja, tetapi juga dari PKB, Hanura, NasDem, dan PKPI. Maka muncullah Koalisi Indonesia Hebat versus Koalisi Merah Putih (KMP).

Di Kabupaten Manggarai mesin partai KIH mampu mengalahkan Prabowo-Hatta dengan perolehan suara nyaris mencapai 70%.  Bupati Manggarai, Cristian Rotok yang pro Prabowo-Hatta waktu itu harus angkat tangan menyaksikan kemenangan KIH.

Tetapi, ada tetapi-nya. KIH tidak berjalan sendirian. KIH butuh tim sukses dan pendukung lain dari luar parpol, sebut saja organisasi-organisasi pro Jokowi-JK.

Pendukung lain itu termasuk dari bakal calon yang sekarang sudah terjaring di DPC PDIP.

Bakal calon tersebut saat merapat ke KIH di Manggarai, diduga memberi kontribusi terhadap KIH dengan maksud menarik simpati PDIP dan partai pendukung lainnya di KIH agar kemudian pada Pilkada Manggarai yang entah akan dilangsungkan pada tahun 2015 atau 2016 akan mengusung dirinya.

Jadi, diduga ada deal sebelumnya baik dengan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan jajaran DPD di Kupang maupun dengan DPC di PDIP Manggarai.

Sebastian Salang yang hendak maju, yang sempat timnya datang untuk melamar ditolak mentah-mentah oleh DPC PDIP.

Lagi-lagi, bereskah PDIP dalam proses penjaringan?

Melihat apa yang terjadi, tampaknya penjaringan itu hanya sebuah formalitas belaka.

Ada suara-suara luar yang didengar oleh penulis bahwa penjaringan PDIP terlalu dini. Masyarakat menilai sebenarnya masih ada waktu. Tetapi DPC PDIP beralasan, mereka mau melakukan Konvercab pemilihan ketua baru menggantikan ketua lama, Gregorius Gaguk.

Penulis menyaksikan sendiri bahwa pada Pilpres 2014 di Manggarai, orang parpol yang sekarang maju menjadi bakal calon adalah Adolfus Gabur dari Hanura, Ansel Odi dari PKB. Ansel Ody mau menempati posisi nomor dua, demikian katanya.

Yang daftar ke PDIP adalah Adolfus Gabur yang menjadi Wakil dari Heribertus GL. Nabit.

Pertanyaannya, mungkinkah PDI Perjuangan ke arah sana? Lalu bagaimana dengan nasib Ansel Odi?

Bagaimana pula nasib bakal calon lain yang tidak bisa saya sebutkan namanya yang juga turut merapat ke Jokowi – JK waktu Pilpresi.

Bagaimana pula nasib balon yang  sudah daftar di PDIP yang ambil posisi netral saat Pilpres, agar menjaga keseimbangan?

Tentu, klaim DPC bahwa ada mekanisme survei, perlu dipertanyakan.

Jika mekanisme itu tidak dijalankan, tamatlah riwayat kepercayaan orang Manggarai tentang PDIP.

Lebih baik memilih salah satu balon secara terang-terangan ketimbang kucing-kucingan.

Penulis adalah jurnalis, tinggal di Ruteng, Kabupaten Manggarai.