Sabtu, 27 November 2021

Kemarau Panjang Picu Defisit Air di 10 Kabupaten di NTT

kekeringanFloresa.co – Musim kemarau yang datang lebih awal tahun ini semakin memicu persoalan defisit air yang dialami sekitar lima juta konsumen daerah setempat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Nusa Tenggara Timur Andre W Koreh mengatakan pada2013 jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur mencapai 4,679.316 jiwa membutuhkan air bersih 4,8 miliar m3 (Meter Kubik), sedangkan tahun 2014 diyakini lebih meningkat lagi dari segi jumlah konsumen maupun kubikasi air.

Kata dia ketersediaan air di NTT dalam sebulan diperkirakan mencapai 354 juta m3 per bulan atau 136 m3 per detik atau setahun hanya 2,82 miliar m3 sehingga defisit air di NTT dalam setahun mencapai 2 miliar m3 lebih.

“Kondisi ini (kemarau panjang picu defisit air) itu diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) sehingga debit air terus berkurang dari waktu ke waktu dan menyulitkan manusia dan ternak yang sangat membutuhkannya sebagai salah satu sumber penghidupan,” katanya, Selasa (23/9/2014) sebagaimana dilansir Antara.

Sebelumnya Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Hadji Husen mengatakan, sejauh ini baru ada sepuluh dari 22 kabupaten/kota di daerah itu yang dilanda kekeringan sudah melaporkan adanya ancaman itu.

Ke-10 kabupaten itu adalah Kabupaten Lembata, Flores Timur, Ende, Nagekeo, Alor, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, Sabu Raijua, Sikka, dan Kabupaten Kupang.

Sebanyak 890.000 orang menghadapi kesulitan untuk mengakses air minum, jauh lebih sedikit dari rata-rata 6,75 juta orang selama beberapa tahun sebelumnya.

Menurut Andre Koreh, untuk mengatasi kekurangan air akibat kemarau panjang kerusakan DAS setempat maka dibutuhkan sekitar 2.700 lebih embung besar dan kecil sebagai tempat penampung air untuk kebutuhan manusia, ternak dan tanaman hortikultura lainnya.

“Hingga 2013 di NTT baru memiliki sekitar 425 buah embung dari total kebutuhan sebanyak 2.700 buah embung. Jadi embung yang masih kurang sangat banyak,” katanya.

Existing sarana dan prasarana sumber daya air yang ada, jelas Andre lagi, baru memberikan kontribusi produksi beras di NTT sekitar 340-350 ribu ton per tahun atau mencapai 70% lebih dari total kebutuhan mendekati 450-500 ribu ton per tahun.

Sementara katanya areal irigasi potensial seluas 295.262 ha, yang sudah berfungsi seluas 126.168 ha yang meliputi irigasi teknis seluas 28.362 ha, irigasi sederhana seluas 97/806 ha.

Masih menurut Andre, pemerintah telah membangun Waduk Tilong untuk suplesi air irigasi seluas 1.484 ha dan untuk meningkatkan indeks pertanaman pada 40 kawasan daerah irigasi telah teridentifikasi 29 calon waduk suplesi irigasi.

“Terdapat 63.245 ha sawah tanah hujan dengan produksi lebih dari 1,5 ton gabah kering giling per hektar dan sering mengalami gagal panen karena kekurangan air hujan. Untuk itu perlu dikembangkan embung irigasi untuk suplesi irigasi tanah hujan. Untuk itu telah dibangun 24 buah embung irigasi dari rencana 60 buah,” terang Andre.

Sejak tahun kemarin, kata Andre lagi, terdapat 94 sungai rawan bencana banjir sedangkan prasarana pengendalian banjir yang ada belum memadai. Selain itu, pengembangan air tanah saat ini mencapai 1.289 sumur untuk manfaat 12.541 hektar dan air bersih untuk 9.270 KK dari rencana 7.891 sumur.

Ditambahkan, permasalahan dan tantangan dalam upaya pengembangan sumber daya air di NTT antara lain, degradasi DAS yang meningkat dari waktu ke waktu mengakibatkan kondisi debit sungai semakinmenurun. Kondisi ini berdampak pada penurunan itensitas dan luas tanam atau panenan, gagal tanam atau gagal panen.

 

- Advertisement -

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga