Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam
Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam
Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam

Floresa.co – Sebuah video yang diunggah di situs YouTube beberapa waktu lalu, di mana Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang menampar seorang imam dalam sebuah Misa mendapat respon keras dari sejumlah biarawan Serikat Sabda Allah (SVD).

Mereka menulis sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Ketua Konferensi Waligereja  Indonesia (KWI) dan Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia di Jakarta serta Uskup Turang.

Surat tersebut ditulis oleh Pastor Fidelis Waton SVD yang tinggal di Jerman dan Br Martin Tnines SVD yang berdiam di Papua Nugini serta para imam dan awam SVD angkatan novisiat 1991/1992.

Mereka menegaskan dalam surat tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Mgr. Turang, tindakan uskup tersebut tidaklah etis.

“Kami menilai tindakan ini tidak terpuji, arogan, memalukan,  kalau tidak mau dibilang kriminal, apalagi ‘kelancangan tangan’ ini terjadi pada penghujung Perayaan Ekaristi kudus, di rumah Tuhan yang suci, di hadapan sekian banyak umat dan dilakukan oleh figur yang selalu disapa ‘Yang Mulia’ dengan tangannya yang terurapi dan diyakini menyalurkan berkat Ilahi”, tulis mereka dalam surat tersebut.

Mereka menegaskan, peristiwa memalukan tersebut tampaknya secara sengaja hendak didiamkan dan nyaris dilupakan.

“Beberapa pihak menginformasikan bahwa segelintir imam yang menjadi saksi tindakan itu dengan sengaja turut mendiamkannya bahkan menyangkalinya, ketika diminta konfirmasi. Iblis sang penyangkal tentu bersorak ria, ketika para pengikut Yesus yang berjubah putih mendiamkan dan menyangkal tindakan tidak terpuji tersebut”, tulis mereka.

“Akan tetapi luka yang disembunyikan akhirnya berbau busuk dan mengontaminasi lingkup sekitar. Borok hanya bisa disembuhkan, jika ia dibuka, dibersihkan dan diobati”, demikian surat tersebut.

Sebagaimana terlihat dalam video berdurasi 1 menit 8 detik itu, Uskup Turang menampar pipi seorang imam, setelah sebelumnya menegur imam tersebut yang tampak tidak mencium cincin di tangan uskup kelahiran Manado, Sulawesi Utara itu. Uskup Turang juga sempat menunjuk muka imam itu. Hal itu dilakukan di hadapan umat dan sejumlah imam yang hadir dalam gereja.

Pastor Fidelis dkk meminta agar pimpinan KWI dan Duta Besar Vatikan tidak diam dan menyikapi persoalan itu sekaligus memfasilitasi rekonsiliasi.

“Jika tidak kami menuntut agar penyelesaian kasus ini wajib menempuh  jalur hukum sipil berdasarkan prinsip keseteraan setiap orang di hadapan hukum, karena kita hidup di negara hukum dan menjunjung tinggi supremasi hukum di atas segala model otoritas lainnya”.

Berikut isi lengkap surat tersebut yang diperoleh Floresa.co, Sabtu, (16/8/2014)

Kepada Yth.
Yang Mulia Ketua Konferensi Waligereja  Indonesia
Yang Mulia Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia
di
Jakarta
Yang Mulia Mgr. Petrus Turang, Pr
di
Kupang

Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan penuh hormat.

Sebagai warga Gereja dan dalam rasa solidaritas kemanusiaan kami dikejutkan oleh posting video tentang Mgr. Petrus Turang dari Keuskupan Agung Kupang yang “mengejar“, menarik badan dan menampar seorang imam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Januari 2013 di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang pada penghujung perayaan misa natal bersama para imam dan biarawan-biarawati yang turut dihadiri sekian banyak umat. Korban tamparan adalah Romo Yohanes Subani, imam projo dari Keuskupan Atambua yang bertugas sebagai pengajar dan pendidik di Seminari Tinggi Santu Mikhael di Kupang.

Alasan  aksi “ringan tangan“ tersebut tampaknya sangat sepele, karena si korban hanya bersalaman dengan menunduk, membungkukkan badan dan berpegang tangan, dan bukannya  mencium cincin Uskup – sebagaimana dilakukan rekan-rekannya yang lain.

Lewat media online, pelbagai pihak telah mengecam tindakan feodal dan tak berperikemanusiaan dari Uskup Turang.

Berkaitan dengan tindakan tercela, tak bermoral dan memalukan di atas, kami pun menyampaikan beberapa sikap yang dituangkan dalam pernyataan dan tagihan di bawah ini.

Pertama, tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap Mgr. Turang, kami mengecam tindakan beliau yang tidak etis tersebut.

Tanpa meremehkan makna simbolis cincin Uskup dan maksud  “correctio fraterna“ (koreksi persaudaraan) yang langsung, spontan dan transparan (mungkin pula bermotif pedagogis dan preventif sebagai peringatan umum), kami menilai tindakan ini tidak terpuji, arogan, memalukan,  kalau tidak mau dibilang kriminal, apalagi „kelancangan tangan“ ini terjadi pada penghujung perayaan ekaristi kudus, di rumah Tuhan yang suci, di hadapan sekian banyak umat dan dilakukan oleh figur yang selalu disapa “Yang Mulia“ dengan tangannya yang terurapi dan diyakini menyalurkan berkat Ilahi.
Yesus dari Nazaret memang pernah berang dan menghalau para pedagang dari Bait Allah, akan tetapi si korban dan sikapnya tidak bisa dikategorikan ke situ. Di belahan dunia lain, tindakan itu sudah cukup menjadi alasan untuk melengserkan Uskup dari takhtanya.

Kedua, menurut hasil pelacakan, peristiwa memalukan tersebut tampaknya secara sengaja hendak didiamkan dan nyaris dilupakan. Beberapa pihak menginformasikan bahwa segelintir imam yang menjadi saksi tindakan itu dengan sengaja turut mendiamkannya bahkan menyangkalinya, ketika diminta konfirmasi. Iblis sang penyangkal tentu bersorak ria, ketika para pengikut Yesus yang berjubah putih mendiamkan dan menyangkal tindakan tidak terpuji tersebut. Akan tetapi luka yang disembunyikan akhirnya berbau busuk dan mengontaminasi lingkup sekitar. Borok hanya bisa disembuhkan, jika ia dibuka, dibersihkan dan diobati.

Secara moral, barangsiapa yang mendiamkan suatu persoalan, ia secara tidak langsung menyetujui tindakan tidak bermoral tersebut. Fenomen mendiamkan persoalan di atas kemungkinan besar lahir dari ketaatan buta dan ketakutan akan otoritas hirarkis dalam hal ini ketakutan terhadap Uskup Turang. Jika demikian maka ada praksis kekeliruan dalam memahami ketaatan dan otoritas kekudusan yang bertujuan untuk melayani telah disalahgunakan. Fenomen mendiamkan persoalan itu juga sangat mungkin dilandasi semangat picik “kekompakan“ ala militer, mafia dan bandit. Model kekompakkan antara Uskup dan para imamnya demikian menjadi lahan subur untuk menumbuhkan persekongkolan, dusta dan mematikan kepekaan serta meredam bisikan suara hati sebagai instansi moral tertinggi. Realitas ini bukan saja mengikis solidaritas, melainkan juga melecehkan korban dan ia  dengan demikian untuk kedua kalinya menjadi korban.

Dalam semangat solidaritas dengan korban yang secara tidak adil dan tidak benar dipermalukan di hadapan umum, kami mengecam dan mengutuk sikap tak bermoral Mgr. Turang, juga sikap bahkan budaya diam dan ketiadaan protes serta perlawanan khususnya dari kaum berjubah terhadap tindakan Bapak Uskup Turang. Barangsiapa yang tidak melawan, ia hidup tidak benar.

Di wilayah Nusa Tenggara Timur  yang mayoritasnya adalah penganut Nasrani, para pimpinan agama acapkali memainkan peran oposisi yang galak, tak kenal kompromi dan disegani berhadapan dengan pimpinan publik dan institusi politik. Sikap profetis-kritis yang lahir dari kepekaan dan keprihatinan sosial ini hendaknya bukan hanya berjalan satu arah (eksteren), melainkan juga interen. Bukan saja pemerintah dan masyarakat, melainkan juga Gereja (jemaat dan hirarki) memerlukan sikap kenabian. “Ecclesia semper reformanda“ (Gereja harus selalu direformasi).

Ketiga, video berdurasi 1:08 menit tersebut pertama kali diposting di Youtobe oleh Joshua Sinaga dengan judul “Mgr. Petrus Turang: Uskup arogan dan preman” pada tanggal 14 Juli 2014. Hingga tanggal 22 Juli 2014, video ini sudah dilihat sekitar 1.175 orang dan telah tersebar luas di berbagai akun facebook dan media sosial lainnya. Selain itu video yang sama diupload lagi ke Youtube oleh Cheluz Pahun, dengan judul “Perilaku buruk Petrus Turang (Uskup Kupang), pelaku kekerasan dalam Gereja”, yang mana sejauh ini sudah ditonton lebih dari 6.361 kali. Lebih dari itu, video yang sama juga diupload lagi ke Youtube oleh Anton Tamonob dengan judul “Mgr. Petrus Turang: Uskup Arogan dan Feodal” dan sudah dilihat sebanyak 187 kali.

Dengan posting  ini Joshua Sinaga, Cheluz Pahun dan Anton Tamonob  diberondongi kritik pedas: Mereka dituduh memprovokasi dan menghujat. Pelbagai tuduhan itu tidak beralasan dan lahir dari rasa malu kolektif dan pencitraan siluman yang tercoreng, yang berujung pada penyepelean dan penyangkalan kasus krusial di atas, pembelaan pelaku dan distorsi kebenaran.

Keberanian mereka  untuk mempublikasikan tindakan tidak terpuji Sang Uskup patut diapresiasi. Tindakan mereka berjalan pada lajur kebenaran. Kebenaran harus diungkapkan tanpa takut, biarpun hal itu memalukan, mencoreng dan menyakitkan.

Keempat, pepatah bahasa Latin mengatakan “errare humanum est“ (kesalahan adalah manusiawi). Tak seorangpun, termasuk Uskup, yang steril dari kesalahan. Dalam semangat hukum cinta kasih yang diajarkan dan dihidupkan Yesus Kristus, kita tentunya mengecam perlakuan negatif dan si pelaku tidak boleh dibenci, melainkan dimaafkan. Akan tetapi di hadapan kasih, yang salah harus dikatakan salah dan yang benar dikatakan benar. Prinsip salah atau benar adalah pemimpin, Uskup, kelompok atau Gereja kami, merupakan suatu sikap yang tidak konsekuen dan konyol.

Sebagai seorang pewarta iman, Uskup Turang sebagai manusia hendaknya dimaafkan yang tentu saja didahului rasa bersalah dan penyesalan darinya, namun perlakuannya mewajibkannya untuk meminta maaf baik kepada korban (korban dan nama baiknya yang telah dicabik secara sewenang-wenang di hadapan umum harus direhabilitasi dan dipulihkan) maupun kepada umum (Gereja maupun sipil) mengingat posisinya sebagai figur publik dan panutan.

Kelima, sungguh disayangkan bahwa seorang uskup yang seharusnya memberi teladan yang baik, mengayomi semua dombanya, ternyata berlaku anarkis, bahkan terhadap pelayan Tuhan sendiri. Menurut kesaksian korban di pintu keluar Gereja setelah perayaan ekaristi natal bersama dimaksud Uskup Turang juga menempeleng seorang biarawati . Rupanya  tindakan itu dilakukannya karena beliau sudah terkenal sangat emosional dan temperamental, akan tetapi kondisi psikis ini tidak mengizinkan dan membenarkan tindakannya yang tidak terkontrol, jika tidak sudah layaknya beliau harus mendarat di klinik psikologi terapi dan ditolong. Yesus juga rela dan tidak malu membiarkan Diri dibantu oleh Simon dari Sirene.

Keenam, berdasarkan konfirmasi korban, Uskup Turang sebagai pelaku tidak menghiraukan segala kritik dari pelbagai pihak dan tidak merespon pernyataan dan tuntutan pribadi si korban. Sikap ini sangat arogan dan otoriter. Keangkuhan ini menjadi dentang kematian untuk ketulusan, kejujuran, rasa bersalah dan rendah hati. Hal ini bukan saja patut disesali, melainkan sangat mengecewakan.
Untuk itu kami meminta pimpinan lembaga Gereja (KWI dan Nuntius) agar tidak diam dan menyikapi persoalan itu sekaligus memfasilitasi rekonsiliasi.

Jika tidak kami menuntut agar penyelesaian kasus ini wajib menempuh  jalur hukum sipil berdasarkan prinsip keseteraan setiap orang di hadapan hukum, karena kita hidup di negara hukum dan menjunjung tinggi supremasi hukum di atas segala model otoritas lainnya.

Salah satu ungkapan bahasa Latin mengatakan “in omnibus caritas“ (di atas segala-galanya adalah cinta kasih). Surat ini muncul karena kasih. Cinta kasih tidak boleh menyepelekan persoalan dan mengaburkan kebenaran. Slogan di atas akhirnya berkulminasi pada prinsip “in omnibus veritas“ (di atas segala-galanya adalah kebenaran). Di hadapan Gubernur Romawi Pontius Pilatus, Yesus  menyatakan tujuan kedatangan-Nya di dunia ini yakni untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran (Yoh. 18:37). Kebenaran itu jujur, tulus dan tidak bisa disembunyikan serta acapkali sangat menyayat hati, namun justru kebenaranlah yang akan memerdekakan kita (Bdk. Yoh 8:32).

Salam dalam Tuhan kita Yesus Kristus

Gerakan “Kita adalah Gereja“

P Fidelis Waton SVD  (Berlin, Jerman)
Br Martin Tnines SVD (PNG)
Para Imam dan awam SVD – Angkatan Novisiat 1991/1992