Menjelekkan

ilustrasi
ilustrasi

Oleh: Pastor Markus Marlon MSC

Ketika saya sedang berenang di pantai Kilo Lima Luwuk – Sulawesi Tengah (Kamis, 29 Mei 2014), ada seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Kemudian saya bertanya mengapa menangis. Jawabnya adalah karena dirinya dijelek-jelekkan oleh temannya. Mendengar kata-kata anak kecil itu, pikiranku langsung melambung jauh memasuki lorong-lorong waktu beberapa tahun yang lalu, bagaimana nama saya dijelek-jelekkan. Memang menyakitkan!

Setiap orang tentu pernah dijelek-jelekkan atau difitnah. Dan – sialnya – sasaran kejelekan itu adalah nama diri kita. Kalau orang menjelekkan gigi saya yang tongos atau tangan saya yang ada panunya tidak masalah. Tetapi jika orang lain sudah menjelekkan nama diri, maka akan berakibat lain. “Nomen est omen” – Nama adalah pertanda. Dalam sebuah nama selalu terkandung sebuah harapan baik. Tidak mengherankan jika nama baik itu senantiasa dijunjung tinggi. Lihat saja berapa kasus tentang “pencemaran nama baik” yang sering masuk dalam media.

Dalam dunia politik, menjelekkan orang lain bisa disamakan dengan black campaign atau kampanye hitam. Kampanye hitam sebenarnya semacam gosip, hanya ini dilontarkan dalam rangka perebutan kedudukan, posisi dan kesempatan serta kepentingan pribadi/ kelompok. Kata-kata (whispering campaign)  yang dilontarkan lawan politiknya mampu menembus benteng atau geladak kapal  yang paling tahan meriam sekalipun. Bahkan Napoléon Bonaparte (1769 – 1821) lebih takut black campaign  daripada moncong meriam.

“Annus horribilis” – tahun yang dahsyat; tahun yang mengerikan ini orang-orang saling menjelekkan. Yang dulu lawan, kini menjadi kawan dan sebaliknya. Dalam dunia politik muncul suatu pepatah, “Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aeternum” – Lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Dulu saling memuji namun saat ini mereka  saling menjelekkan.

Bahasa Yunani untuk orang yang suka menjelekkan orang disebut  diabolos (bhs. Latin diabolus dan bahasa Inggris: diabolic)  yang juga diterjemahkan dengan “iblis.” Iblis adalah teladan bagi orang yang suka menjelekkan orang lain dan baginya iblis adalah pemimpinnya. Dalam arti tertentu, menjelekkan orang lain adalah dosa yang kejam. Kata sifat diabolical   memiliki arti: kejam. Diabolical torture  berarti penyiksaan yang kejam dan diabolical grin  berarti seringai yang menyeramkan, menyeringai seperti iblis. Bila harta benda seseorang dicuri, ia masih dapat mencarinya lagi tetapi jika nama baiknya jatuh, kerusakannya tidak dapat diperbaiki lagi.

Shakespeare (1564 – 1616)  pernah menulis puisi: Nama baik adalah permata indah di dalam jiwa.

Siapa yang mencuri kantongku hanya mencuri sampah, semua itu tidak berarti. Dulu milikku, kini miliknya dan telah menjadi milik ribuan orang.

Tetapi siapa yang mencuri nama baikku, merampok sesuatu yang tidak akan membuatnya kaya dan tentu membuat aku menjadi miskin, semiskin-miskinnya.

 

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.