BerandaPERISTIWAKeuskupan Ruteng Ingkar Janji...

Keuskupan Ruteng Ingkar Janji Bangun Gereja Bersejarah di Jengkalang

Jengkalang Reo
Uskup Ruteng saat menghadiri Misa di Jengkalang pada tahun 2012. (hidupkatolik.com)

 

FLORESA.com – Umat Stasi Stasi Jengkalang, Desa Robek, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT masih menagih janji Keuskupan Ruteng untuk membangun Gereja mereka, yang memiliki nilai sejarah. Berhubung di tempat inilah, untuk pertama kali lima umat katolik dibabtis di Manggarai.

Kelimanya antara lain Henricus Andara, Agnes Aminah, Helena Luku, Sisilia Welu dan Katarina Arbero. Mereka dibaptis oleh Pater Henricus Looijmaas SJ pada 17 Mei 1912.

Sebagaimana dilansir theindonesianway.com, pada 2012 lalu, pihak Keuskupan Ruteng sudah berjanji akan membangun gereja stasi itu. Bahkan, pada 17 Mei 2012, sebelum merayakan Yubelium 100 tahun Gereja Katolik di Manggarai, Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, mengadakan Misa di Jengkalang. Saat itu juga, ia melakukan peletakan batu pertama pembangunan gereja tersebut.

Saat acara itu, Romo Kevikepan Geradus Janur, Pr mengatakan, pada tahun 2014 ini, pembangunan gereja tersebut harus rampung. Anggaran pembangunan mencapai Rp 800 juta.

Kala itu, ia juga menjelaskan, pengerjaan akan dilakukan sejak dilakukan peletakan batu pertama.

Tempat yang akan dibangun gereja menggunakan tanah yang diberikan keluarga Karolus Andara. Tetapi, karena tanah itu terlalu kecil untuk ditata sebagai tempat ziarah dan pariwisata, kata Romo Geradus, nanti tetap diupayakan perluasan tanah sehingga memadai untuk sebuah tempat sejarah yang bisa dikunjungi banyak orang.

Namun, dua tahun berlalu janji manis itu masih masih tinggal sebagai janji kosong. Di lapangan, tidak ada realisasi.

“Kami sangat mengharapkan, agar keuskupan Ruteng tepati janjinnya,” kata Vinsensius Yanto Pan, salah seorang umat stasi Jengkalang di Ruteng, Jumat (25/4/14).

Dionisius Reinaldo Triwibowo Sally Say, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng mendesak Keuskupan Ruteng menanggapi permintaan umat, apalagi janji pembangunan gereja ini disampaikan pada Yubelium 100 tahun Gereja Katolik di Manggarai itu.

Saat dikonfirmasi, Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Ruteng, Dominikus Waso mengatakan, pihaknya belum berani berkomentar seputaran keterlambatan pembangunan gereja Jengkalang. Sebab dirinya baru diangkat menjadi ketua Kerawam.

Sementara, saat hendak mengkonfirmasi hal ini ke Mgr Hubertus Leteng, ia mengatakan melalui pegawainya untuk bertemu Vikep Ruteng Romo Alfons Segar Pr.

Namun, hingga berita ini diturunkan, Romo Alfons belum berhasil dikonfirmasi.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.