Percakapan dengan Ibu

Oleh: IWAN JEMADI, pecinta sastra “Untuk apa sebenarnya kita hidup, Bu?” Pertanyaan itu menggantung di sebuah ruang...

[Cerpen] Anak Tuhan

Oleh: BONEFASIUS SAGI Kupanggil namanya Jason. Tiga tahun umurnya. Sudah bisa memanggil namaku. “Mama Rina,” sebutnya. Kosakata yang dilafalkannya memang terbatas, tapi dalam banyak hal sudah...

Penyadap Nira

OLEH: Willy Matrona, Wartawan Majalah Hidup dan Ketua Komunitas Lingko Ammi Jakarta “Ayahku seorang penyadap nira. Ia kekuatanku. Denyut jantungku dan masa depanku. Jika engkau...

[Cerpen] Di Pantai yang Melupakan Waktu!

Oleh: GREGORIUS AFIOMA Jika kau duduk di pantai itu, waktu terasa berhenti. Kau bisa menikmati percakapan dengan temanmu hingga melupakan waktu. Dari pagi kau bisa...

Puisi Anjany dan Evan: Rindu Itu, Kita

Anjany Melempar Rindu Jarak iaa... jarak Itulah spasi rinduku Ingin ku berlari memeluk mu Tidakkk..... Itu cuma bayang-mu yang terus bergentayangan di hadapanku Hanya napas panjang yang terus bernada dan hanya...

Desember Rein ’14: Puisi-Puisi Adven Gerard Bibang

DESEMBER REIN ’14 (20.21.22)     JALAN   Sepanjang jalan pulang aku memikirkan kisah kami yang punya benang merah dengan cerita berjuta bintang yang berasmara melalui kilauan cahaya-cahaya mereka. Sekarang...

[Cerpen] Arang dalam Mata Garuda

Oleh: YOVAN ABDULLAH Orang bilang dia gagak. Ia malam berkabut. Kelam. Dan orang sekampung memanggilnya Ngkula. Hitam. Ia sebenarnya punya nama: Viktorius, dipanggil Viktor, itu saja,...

Menanti Senja Berlalu

Karya: Nana Lalong Bagaimana mungkin kau membiarkan aku menunggu selama ini? Gadis itu menyatakan kecemasanya dengan jujur. Seringkali ia mengatakannya sambil memandang ke cermin. Ada kemudian...

Endong Patola

Oleh: NANA LALONG Lelaki yang selalu nangkring di pantai itu bertahun-tahun terobsesi daya magis endong patola, patola tau sama wulang. Itulah matahari atau tepatnya sebentuk...

[Puisi] Mata Air

Karya: Febrianus Suhardi  I di bawah kaki bukit yang muram aku mengigau sepanjang pagi meratapi gusar dan letih yang meretak tak bertepi. II pada mentari yang meninggi kuoleskan bekas luka, mencungkil kembali bintik memerah pudar. III senja...

Puisi-puisi Yanti Mahu

JARAK Ada senja yang mengantar rindu. Ada spoi yang menggelitik raga. Mata ingin menikmati. Jarak mengingatkan hati akan kesabaran.                 Mereka bilang penantian indah.               Ku bilang rindu indah.               Jika jarak menjanjikan kebahagian.               Aku akan menanti sampai tak ada lagi jarak.   Nikmati kebersaman dari kolong langit yang berbeda. Tak apa!!ini adalah bagian cinta. Karena cinta tak selalu dipandang, Cinta meski kau jauh. Selalu ada yang bernama Rindu.   Menemani hati dan berjanji akan kembali.         SANATA  DHARMA   Rumah kah ini ? Atau surga? Mataku terpaku, hatiku bergetar. Seperti singa yang baru keluar dari jahitan kawat berduri. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Tanah Sanata Dharma terlalu luas di penglihatanku.               Orang-orang di sini,              Aku hanya pernah melihat mereka pada layar kaca kecil di gubukku.             Satu gadis cantik bak Luna Maya melintas tepat di sampingku.             Lalu aku memutar bola mataku mematutkan diri yang seperti upik abu ini             Aku berteriak “ aku takut tidak diterima, aku harus bagaimana?”                 Bagaimana jika mereka menertawakan sandal di kakiku Baju yang membalut tulangku, serta rambutku bak ijuk. Dalam gamangku, lentera itu datang, meski awalnya cahaya redup. Waktu ke waktu cahaya redup itu bagaikan cahaya di istana. Aku tak lagi takut, tak lagi menangis. Terimakasih lenteraku, terimakasih dosenku.          CITA-CITA   Pada malam ku bercerita. Mengulum senyum, lalu tertawa. Bintang mengejekku. Bulanpun terangnya seakan mengolokku. Tak peduli,meski dunia tahu akan kegilaanku.                                      Hatiku sudah tak ingin berkompromi dengan otakku.                     Perasaan ingin melihat ragamu.                     Otakku meyuruhku agar tinggal.                     Karena satu alasan yaitu cita-cita. TUGAS Saat malam dan jari-jarimu masih menari indah di atas keyboard leptopmu. Saat kasur selalu megajak matamu untuk segera menyentuhnya. Saat matamu bertemu pandang dengan lekukan guling di tempat tidurmu. Dan saat tugas-tugasmu masih menggunung seperti gunung merapi.                      Siapa yang kau salahkan di sini?                    Salahkah pemerintahmu?                    Yang mengharuskanmu sekolah sampai ujung langit.                    Demi tuntutan yang harus kau tuntaskan.   Bodohmu!!! Jika melihat balok di mata orang lain. Berjuanglah!!! kurangnya waktu pulasmu. Adalah pemerintah akan menghitungnya. Pemerintah tak suka dengan pemalas.                 Pemerintah pelahap jiwa pejuang tinggi.                 Yakinlah !! Engkau adalah satu di antara yang dilahap pemerintah.  HUJAN Hujan.. Beningmu jatuh membasahi gentengku Rintikanmu bagai bunyi piano yang indah. Sungguh, engkau melukis rindu. Untuk yang tak dapat kujangkau. Mungkinkah Tuhan menciptakan rindu itu di dalam suaramu?                         Hujan....                     Jika hari ini kau menyitari dia di sana.                     Sampaikan rinduku.                     Rindu untuk segera bertemu.                      KOPI DAN PETANG                        Kopi dan petang. Petang tak indah tanpa kopi. Tetapi kopi tetap ternikmati meski tanpa petang. Haruskan seegois itu?             Kita kata terindah sejak hari itu.          Sahabat janganlah kita seperti kopi dan petang.          Kuharap kita selalu seperti sandal usang.          Meski terlihat lama tetap saling mengisi.           BERLEHA   Sendiri,melawati hari Kamarku yang menjadi rumahku Buku-buku di sudut mejaku. Saksi bisu meyaksikan letihku                 Saat lelah datang               Lalu kuingat mereka               Merengkuh kesepuluh jari.               Lalu khusuk sebut namaku   Mereka bapa mamaku Orang yang menunggu kepulanganku. Lalu kusadari makin hari mereka makin abu. Haruskah ku berleha?   GULING DAN TUGAS   Cahaya petang menghampiriku Lewat jendela kamar usang Menyinariku dengan teriknya senja Aku terjaga dari pulasku                 Basah peluh keringat wajah               Guling menindihku.               Menatapku penuh birahi               Seakan mengajaku untuk tak beranjak   Tugas-tugas di meja itu Tersenyum manja menggelitikku Haruskah ku memilih? Guling atau Tugas? HANDPHONE   Apa suasana hatiku yang tak kau tahu? Tak malu-malu Segala ekspresi selalu kuperlihatkan didepanmu. Sedihku, kau saksi bisu. Marahku kau saksi bisu. Bahagiaku kau saksi senyumku.   Rela dibanting tak kala lawan bicaraku menyakitiku. Dielus, dicium tak kala di sana membuatku tersenyum. Kau paling tahu siapa saja yang pernah kusebut dengan “syg” lalu pergi dan hilang. Saat semua diambil waktu, kau begitu hening.   Aku malu, juga sedih. Kau yang bagai burung selalu berkicau di pagi hari. Membangunkanku dengan suara indah yang pernah kudengar dari handphoneku Hilang tak meninggalkan jejak.   Tiap mata bertemu pandang dengan handphoneku Seakan menatapku sedih, bertanya “di mana dia?” Aku tahu dia juga ingin mendengar suaramu. Aku dan handponeku sama-sama menikmati sepi. Yanti Mahu, dengan nama...

[Cerpen] Saat Cinta itu Sulit Dipercaya

  OLEH : GREGORIUS AFIOMA Pada hari Valentine, saya ada janji tukaran coklat dengan teman-teman di kelas. Ketika sedang membungkus kado pada pagi hari, seorang teman...

“Kepalsuan,” Puisi Anjany Podangsa

KEPALSUAN   Terbelenggu sepi dalam ruang hampaan hati Ku lihat langit Pertiwi ingin menangis perih keadilan telah dipermainkan dengan uang kebenaran telah di perjual belikan seakan akan nurani telah tiada..   Hanya fitnah...

TERKINI

Jenazah Pemuda yang Tewas Dikeroyok di Makasar Tiba di Labuan Bajo

Labuan Bajo, Floresa.co - Jenazah Arfentinus Flavianus Patris (24), pemuda yang tewas dikeroyok sekelompok orang tak dikenal di Makasar, Sulawesi Selatan akhirnya...

Sekolah-sekolah Katolik Flores-Lembata Gelar Konferensi di Labuan Bajo

Labuan Bajo, Floresa.co - Sekolah-sekolah Katolik di Flores dan Lembata menggelar konferensi di Labuan Bajo, ibukota Manggarai Barat pada 20-23 Juni 2019,...

ULP PLN Labuan Bajo Siapkan 80 KVA Listrik Untuk Dukung Pergelaran Tinju

Labuan Bajo, Floresa.co - Jelang pergelaran Tinju Piala Presiden RI ke-23 yang diselenggarakan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, (Mabar) Nusa Tenggara...

Kelompok Masyarakat Demo di KPK, Desak Investigasi Dugaan Korupsi Dana Kesehatan di Manggarai

Jakarta, Floresa.co - Kelompok masyarakat asal Manggarai menggelar aksi unjuk rasa di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta pada Senin, 17...

TERPOPULER

Jenazah Pemuda yang Tewas Dikeroyok di Makasar Tiba di Labuan Bajo

Labuan Bajo, Floresa.co - Jenazah Arfentinus Flavianus Patris (24), pemuda yang tewas dikeroyok sekelompok orang tak dikenal di Makasar, Sulawesi Selatan akhirnya...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi. Binatang berkaki empat ini memang selain memberikan manfaat ekonomi, tapi juga memiliki arti...

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi adalah makanan atau pakan. Tidak sulit menyediakan makanan untuk binatang yang satu ini...

Sekolah-sekolah Katolik Flores-Lembata Gelar Konferensi di Labuan Bajo

Labuan Bajo, Floresa.co - Sekolah-sekolah Katolik di Flores dan Lembata menggelar konferensi di Labuan Bajo, ibukota Manggarai Barat pada 20-23 Juni 2019,...

Kelompok Masyarakat Demo di KPK, Desak Investigasi Dugaan Korupsi Dana Kesehatan di Manggarai

Jakarta, Floresa.co - Kelompok masyarakat asal Manggarai menggelar aksi unjuk rasa di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta pada Senin, 17...