Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe Jerabu, meluncurkan sebuah album rohani instrumental berjudul “Dere Serani In And On Guitar”, di Jakarta pada...

[Puisi] Gadis Malam

Oleh: ALDUS WAE Bagai puntung engkau berbaris Di samping rel engkau mengais Dengan bangga engkau narsis Demi hidup engkau berjualan karcis Masihkah engkau gadis? - Malam engkau terlihat mempesona Siang engkau terbujur kaku merana Meratapi nasib,...

Maria Matildis Banda Rilis “Suara Samudra” Novel dengan Latar Lamalera

Floresa.co - Maria Matildis Banda, sastrawati asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan karya terbarunya, sebuah novel dengan latar situasi di Lamalera, Kabupaten Lembata. Novel dengan judul “Suara Samudera” itu...

[Puisi] Nyanyian Rakyat dan Koruptor

Karya: MILIN KOWA Mimpi sejumpai menghanyutkan diriku Merekah masa depan yang penuh tanda tanya   Malam itu Kumengerti yang kucari Kumengerti yang kunanti Satu sebuah ya Aku tahu Aku temukan   Mataku memandang keanggunan Hatiku melirik kenikmatan Hasratku terpenuhi Badai padang pasir penghempas...

[Cerpen] Di Pantai yang Melupakan Waktu!

Oleh: GREGORIUS AFIOMA Jika kau duduk di pantai itu, waktu terasa berhenti. Kau bisa menikmati percakapan dengan temanmu hingga melupakan waktu. Dari pagi kau bisa duduk, matamu tak...

Menanti Senja Berlalu

Karya: Nana Lalong Bagaimana mungkin kau membiarkan aku menunggu selama ini? Gadis itu menyatakan kecemasanya dengan jujur. Seringkali ia mengatakannya sambil memandang ke cermin. Ada kemudian yang mulai tergerus...

Puisi Anjany dan Evan: Rindu Itu, Kita

Anjany Melempar Rindu Jarak iaa... jarak Itulah spasi rinduku Ingin ku berlari memeluk mu Tidakkk..... Itu cuma bayang-mu yang terus bergentayangan di hadapanku Hanya napas panjang yang terus bernada dan hanya Nadi yang terus...

Kopi de Molas

Karya: NANA LALONG Kopi bagai nafas bagi penghuni lembah ini. Hari dibuka dengan segelas kopi. Menutupnya, entah kapan, juga dengan kopi. Jika suatu pagi engkau datang kemari, akan kau...

[Cerpen] Anak Tuhan

Oleh: BONEFASIUS SAGI Kupanggil namanya Jason. Tiga tahun umurnya. Sudah bisa memanggil namaku. “Mama Rina,” sebutnya. Kosakata yang dilafalkannya memang terbatas, tapi dalam banyak hal sudah mengerti. Anak yang sehat,...

[Puisi] Pelacur Demokrasi dan Gadis Perempatan

Karya: FLAFIANI JEHALU PELACUR DEMOKRASI Akan tiba waktunya Aku akan berdiri di bawah bendera negerimu tanpa busana Biar kau lihat rusuk-rusukku yang mulai menangis darah Jantungku yang mulai berdetak pelan Akan ku kumpulkan para...

[Puisi] Lorang Tambang

Oleh: Gerard N. Bibang 1. di tepi lubang ini, kami duduk sambil menangis meratapi bumi wae teku* kami sudah lama mengering sungai-sungai mengalirkan bau amis natas labar* kami telah tiada uma rana* dan ladang-ladang kami telah digantikan...

Maut dan Cinta

Oleh: LIAN KURNIAWAN Suara-suara lelah sendiri. Kota Labuan Bajo serasa kota tanpa penghuni. Seolah hanya aku sendiri. Dalam sunyi, aku termangu sendiri. Duduk di tanduk ranjang tempat suamiku tercinta...

Puisi-puisi Yanti Mahu

JARAK Ada senja yang mengantar rindu. Ada spoi yang menggelitik raga. Mata ingin menikmati. Jarak mengingatkan hati akan kesabaran.                 Mereka bilang penantian indah.               Ku bilang rindu indah.               Jika jarak menjanjikan kebahagian.               Aku akan menanti sampai tak ada lagi jarak.   Nikmati kebersaman dari kolong langit yang berbeda. Tak apa!!ini adalah bagian cinta. Karena cinta tak selalu dipandang, Cinta meski kau jauh. Selalu ada yang bernama Rindu.   Menemani hati dan berjanji akan kembali.         SANATA  DHARMA   Rumah kah ini ? Atau surga? Mataku terpaku, hatiku bergetar. Seperti singa yang baru keluar dari jahitan kawat berduri. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Tanah Sanata Dharma terlalu luas di penglihatanku.               Orang-orang di sini,              Aku hanya pernah melihat mereka pada layar kaca kecil di gubukku.             Satu gadis cantik bak Luna Maya melintas tepat di sampingku.             Lalu aku memutar bola mataku mematutkan diri yang seperti upik abu ini             Aku berteriak “ aku takut tidak diterima, aku harus bagaimana?”                 Bagaimana jika mereka menertawakan sandal di kakiku Baju yang membalut tulangku, serta rambutku bak ijuk. Dalam gamangku, lentera itu datang, meski awalnya cahaya redup. Waktu ke waktu cahaya redup itu bagaikan cahaya di istana. Aku tak lagi takut, tak lagi menangis. Terimakasih lenteraku, terimakasih dosenku.          CITA-CITA   Pada malam ku bercerita. Mengulum senyum, lalu tertawa. Bintang mengejekku. Bulanpun terangnya seakan mengolokku. Tak peduli,meski dunia tahu akan kegilaanku.                                      Hatiku sudah tak ingin berkompromi dengan otakku.                     Perasaan ingin melihat ragamu.                     Otakku meyuruhku agar tinggal.                     Karena satu alasan yaitu cita-cita. TUGAS Saat malam dan jari-jarimu masih menari indah di atas keyboard leptopmu. Saat kasur selalu megajak matamu untuk segera menyentuhnya. Saat matamu bertemu pandang dengan lekukan guling di tempat tidurmu. Dan saat tugas-tugasmu masih menggunung seperti gunung merapi.                      Siapa yang kau salahkan di sini?                    Salahkah pemerintahmu?                    Yang mengharuskanmu sekolah sampai ujung langit.                    Demi tuntutan yang harus kau tuntaskan.   Bodohmu!!! Jika melihat balok di mata orang lain. Berjuanglah!!! kurangnya waktu pulasmu. Adalah pemerintah akan menghitungnya. Pemerintah tak suka dengan pemalas.                 Pemerintah pelahap jiwa pejuang tinggi.                 Yakinlah !! Engkau adalah satu di antara yang dilahap pemerintah.  HUJAN Hujan.. Beningmu jatuh membasahi gentengku Rintikanmu bagai bunyi piano yang indah. Sungguh, engkau melukis rindu. Untuk yang tak dapat kujangkau. Mungkinkah Tuhan menciptakan rindu itu di dalam suaramu?                         Hujan....                     Jika hari ini kau menyitari dia di sana.                     Sampaikan rinduku.                     Rindu untuk segera bertemu.                      KOPI DAN PETANG                        Kopi dan petang. Petang tak indah tanpa kopi. Tetapi kopi tetap ternikmati meski tanpa petang. Haruskan seegois itu?             Kita kata terindah sejak hari itu.          Sahabat janganlah kita seperti kopi dan petang.          Kuharap kita selalu seperti sandal usang.          Meski terlihat lama tetap saling mengisi.           BERLEHA   Sendiri,melawati hari Kamarku yang menjadi rumahku Buku-buku di sudut mejaku. Saksi bisu meyaksikan letihku                 Saat lelah datang               Lalu kuingat mereka               Merengkuh kesepuluh jari.               Lalu khusuk sebut namaku   Mereka bapa mamaku Orang yang menunggu kepulanganku. Lalu kusadari makin hari mereka makin abu. Haruskah ku berleha?   GULING DAN TUGAS   Cahaya petang menghampiriku Lewat jendela kamar usang Menyinariku dengan teriknya senja Aku terjaga dari pulasku                 Basah peluh keringat wajah               Guling menindihku.               Menatapku penuh birahi               Seakan mengajaku untuk tak beranjak   Tugas-tugas di meja itu Tersenyum manja menggelitikku Haruskah ku memilih? Guling atau Tugas? HANDPHONE   Apa suasana hatiku yang tak kau tahu? Tak malu-malu Segala ekspresi selalu kuperlihatkan didepanmu. Sedihku, kau saksi bisu. Marahku kau saksi bisu. Bahagiaku kau saksi senyumku.   Rela dibanting tak kala lawan bicaraku menyakitiku. Dielus, dicium tak kala di sana membuatku tersenyum. Kau paling tahu siapa saja yang pernah kusebut dengan “syg” lalu pergi dan hilang. Saat semua diambil waktu, kau begitu hening.   Aku malu, juga sedih. Kau yang bagai burung selalu berkicau di pagi hari. Membangunkanku dengan suara indah yang pernah kudengar dari handphoneku Hilang tak meninggalkan jejak.   Tiap mata bertemu pandang dengan handphoneku Seakan menatapku sedih, bertanya “di mana dia?” Aku tahu dia juga ingin mendengar suaramu. Aku dan handponeku sama-sama menikmati sepi. Yanti Mahu, dengan nama lengkap Odilia Jayanti Mahu berasal...

TERKINI