Pemandangan di Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, salah satu spot wisata alam yang diminati para wisatawan. (Foto: Ist)

Oleh: FRANS BUKARDI, Alumnus Sastra Perancis Universitas Hasanuddin, Makassar

Orang Manggarai Raya pasti tahu Golo Loni. Apalagi bagi pencinta traveling, pasti lebih familiar. Desa Golo Loni sesungguhnya sama dengan desa lain di Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Yang membedakannya sehingga dikenal luas adalah karena dua hal, yaitu view dan letaknya.

Latar berupa hamparan sawah yang membentang di kaki hutan tropis nan sejuk adalah pesona utama di mata wisatawan. Deretan rumah penduduk berarsitektur khas Manggarai menambah daya pikatnya.

Wisatawan Eropa, salah satu pangsa pasar utama pariwisata Flores, mengakui hal ini. Karena itu, hampir tak ada wisatawan, baik yang bermobil, bermotor atau bersepeda melewatkan spot ini. Tak ketinggalan warga Flores yang secara kebetulan melintasi tempat ini.

Singkat kata, Golo Loni telah menjadi pilihan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah timur maupun barat Pulau Flores.

Pasar Spontan dan Spot Foto

Hal menarik lain di Golo Loni adalah keberadaan dua pengungkit ekonomi, yaitu pasar spontan dan spot foto. Keduanya berada persis di bibir jalan. Tercatat ada 12 lapak jualan yang sehari-hari menjadi tempat menghampar dagangan pemiliknya.

Produk yang dijual adalah berbagai jenis sayuran lokal yaitu daun paku (pteridophyta), selada (lactuca sativa), berbagai jenis labu (sechium edule), terung (solanum melongena) dan buah-buahan seperti markis (passiflora edulis) dan pisang. Harga sayur-sayuran dan buah-buahn di pasar spontan ini relatif terjangkau.

Tak jauh dari pasar spontan ini terdapat tiga unit lopo-lopo. Lopo-lopo ini menjadi media berswafoto bagi para pengunjung. Latarnya adalah sawah, hutan tropis, kampung adat Lerang dan beberapa kampung sekitar. Harga karcis masuk sebesar Rp. 10.000 untuk tamu lokal, dan Rp. 15.000 untuk manca negara. Dengan harga tersebut pengunjung dapat berswafoto sepuasnya.  Walaupun tampak sederhana, sang pengelola, Bapak Kanisius Genggot, mampu meraup keuntungan Rp. 100.000 sampai Rp. 150.000 per hari.

Spot foto dan pasar spontan tersebut adalah contoh kecil dari kekayaan sektor wisata tanah Manggarai Timur. Masih banyak yang lain; baik pariwisata alam, budaya, adat istiadat, kuliner, sejarah, maupun religi, entah yang sudah bisa dijangkau  maupun tidak, dan yang sudah dikelola maupun yang belum.

Sebut saja misalnya spot foto Golo Lantar dan Gereja tua Lengko Ajang di Kecamatan Sambi Rampas, kuliner nasi kaget dan sombu, kolo dan tradisi minum kopi di Colol Raya, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Persawahan Loba dengan danaunya di kota Borong, Kecamatan Borong, sensasi permandian air dingin cunca Rede di Desa Sano Lokom, Kecamatan Rana Mese, permandian air panas Rana Masak di Kecamatan Borong.

Ke arah Timur, persisnya di Kecamatan Kota Komba, ada Burung Lawe Lujang dan Batu Kelamin di Poco Ndeki, Padang Mausui yang terkenal dengan menunggang kudanya. Di bagian utara ada Bunga Teratai Rana Tonjong dan Rugu Pota yang diyakini memiliki kesamaan dengan Komodo.

Singkat kata, pariwisata Kabupaten Manggarai Timur ibarat gadis cantik yang sedang tidur yang perlu dibangunkan dan didandani.

Pariwisata Berbasis Komunitas

Walaupun didukung dengan potensi yang kaya tersebut, sumbangan sektor jasa pariwisata, sejak berdirinya hingga 2018, belum maksimal berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat.

Tercatat sektor jasa pariwisata hanya 8% dari total PDRB Manggarai Timur (BPS Manggarai Timur, 2018). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain distribusi sarana dan prasarana yang belum merata dan sebaran SDM utara dan selatan yang tidak proporsional (RPJMD Manggarai Timur 2019 – 2024). Dari aspek SDM disebutkaan hampir sebagian besar (38%) komposisi penduduk Manggarai Timur hanya menamatkan pendidikan dasar (DKB, Dukcapil Matim, 2018). Dua kondisi tersebut ditengarai sebagai tantangan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur (RPJMD Manggarai Timur 2019 – 2024).

Lalu, bagaimanakah strategi mengelola sektor wisata potensial Manggarai Timur di tengah tantangan disparitas sarana dan prasarana dan kualifikasi SDM rendah tersebut?

Salah satu konsepnya adalah Pariwisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism, CBT) model atau pembangunan pariwisata berbasis masyarakat. CBT adalah salah satu model pembangunan sektor pariwisata yang sesungguhnya telah ada sejak tahun 90-an. Model ini dipilih karena diyakini, antara lain, bisa menjawab delapan tantangan MDG’s yang salah satunya sustainable development, pembangunan yang mengutamakan dan memerhitungkan keberlanjutan lingkungan dan segala isinya, (Damanik 2006:84).

Selain itu, CBT, oleh para pakar, menjadi strategi pengungkit dan pengangkat perekonomian, bukan saja individu tertentu, tetapi masyarakat atau komunitas. Sebab dalam CBT penekanan terutama pada pemberdayaan potensi pariwisata yang ada pada komunitas.  Selain itu, prinsip pelibatan individu dalam komunitas pada berbagai tahapan proses perencanaan, pelaksanaan, dan juga evaluasi pariwisata (Demartoto dan Sugiarti (2009:19).

Jadi dalam CBT, terdapat upaya pemberdayaan individu-individu, prinsip demokrasi, revitalisasi sekaligus melestarikan budaya, adat istiadat serta lingkungan sosial masyarakat.  Secara konseptual, dengan CBT ini masyarakat tidak hanya menikmati manisnya tetapi juga menjaga dan menghidupkannya.

CBT di Manggarai Timur

Cerita Spot Foto dan Pasar Spontan di Golo Loni sesungguhnya menyiratkan tiga  hal. Pertama, secara positif menunjukkan geliat warga menangkap peluang lalu lalangnya para wisatawan yang melintasi desa mereka. Kedua, dalam keterbatasan modal usaha, manajerial, sumber daya dan tanpa intervensi pihak luar mampu membaca, memanfaatkan dan menikmati peluang. Ketiga tantangan pengembangan pembangunan sektor pariwisata berbasis masyarakat di Manggarai Timur.

Karena itu, menurut hemat penulis, dalam rangka CBT, poin-poin berikut ini layak untuk dipertimbangkan oleh para pihak dalam merumuskan kebijakan dan pengambilan keputusan.

Pertama, tidak semua potensi bisa dibangun atau dikembangkan. Semua potensial namun tidak semuanya mendesak untuk dibangun. Destinasi dengan akses transportasi yang baik dan cepat serta berada di lintasan para wisatawan hendaknya menjadi skala prioritas untuk dibangun dan dikembangkan. Dengan kerang berpikir ini, maka obyek-obyek seperti perkebunan cengkeh dan hutan kota yang terdapat di Mano, Colol dengan kopinya, menyusul Golo Loni, Cunca Rede, Persawahan Loba dan Danaunya serta Permandian air panas Rana Masak, Poco Ndeki dengan Batu Kelamin dan Burung lawe Lujang serta padang Mausui dengan sensasi menunggang kuda harus menjadi skala prioritas obyek yang dibangun dan dikembangkan.

Kedua, keunikan. Semua destinasi wisata hendaknya menggali keunikan masing-masing. Sebab keunikan akan menjadi alasan para wisatawan datang berkunjung. Hanya saja perlu diciptakan agar lebih memiliki nilai seni, nilai entertainment, menarik dan memikat mata dan hati para pengunjung. Selain bersifat alamiah, keunikan dimaksud dapat berupa kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-hari, makanan atau kuliner, adat istiadat, seni musik, seni tari, tenun, pemandangan alam, rumah-rumah adat, serta ritual-ritual adat.

Peran setiap individu dalam komunitas dalam konteks CBT adalah menggali, memelajarinya, dan melestarikannya, menunjukkannya. Bagi wisatawan, dapat menikmati, dapat melihat atau dapat melakukan sesuatu (something to see dan something to do) di destinasi wisata akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Keunikan-keunikan yang bersifat budaya seperti disebutkan di atas sedapat mungkin dapat dijadikan calender of event. Dengan calender of event berbagai kemudahan dapat diperoleh terutama bagi agen perjalanan, tour operator, tour planner, pramuwisata untuk menyusun paket perjalan yang akan dijual kepada para tamu dengan jadwal yang pasti harga yang pasti.

Ketiga, adalah aspek promosi. Sebagai bagian dari rangkaian proses pengembangan pariwisata, promosi merupakan tahapan yang bernilai strategis. Pemilihan tools of promotions akan berpengaruh signifikan pada tingkat kunjungan ke suatu obyek wisata. Oleh karena itu, pemilihan jenis promosi yang tepat perlu dilakukan.

Tanpa mengabaikan jenis promosi lain, seperti promosi media (website, booklet, leaflet), keikutsertaan dalam event-event promosi, pelaksanaan festival (Festival Caci), satu model promosi yang menjanjikan bagi daerah baru dalam pengembangan pariwisata adalah pelaksanan familiarization trip atau lebih dikenal dengan fam trip. Fam Trip adalah semacam medium yang mempertemukan buyers, agen perjalanan, pramuwisata, unsur PHRI, Unsur HPI, Tour planner, blogger wisata, media massa elektronik maupun cetak, di satu pihak dan komunitas di daerah destinasi di lain pihak.

Dengan demikian, diharapkan dengan adanya interaksi langsung diantara keduanya tercipta alih-informasi dan alih pengalaman serta keterampilan antara unsur Fam Trip dengan Komunitas di daerah destinasi wisata. Selain keuntungan dimaksud, para buyerspun memiliki informasi yang lengkap tentang obyek serta dapat membuat paket-paket perjalanan kepada para calon pembelinya.

Keempat, last but not least, yaitu political will para dewan. Keberpihakan terhadap CBT mesti nyata melalui kebijakan anggaran yang memungkinkan program CBT bisa berjalan sedemikian rupa agar dapat memaksimalkan perannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya komunitas di daerah destinasi.

Penetapan Labuan Bajo sebagai Destinasi Super prioritas oleh pemerintah merupakan peluang emas yang mesti diraih. Demikian pula dengan jumlah hari berkunjung yang dimiliki para wisatawan berkisar 5 hari juga merupakan peluang emas yang perlu diraih.

Model pengelolaan destinasi wisata yang menjadikan individu-ndividu dalam sebuah komunitas sebagai pelaku utama merupakan suatu model pembangunan yang mendukung terwujudnya orang Manggarai Timur yang Seber (Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya) dengan salah satu indikatornya yaitu pertumbuhan ekonomi 9,0 pada akhir tahun kelima nanti.