Yakobus Jowe warga kampung Warut dan Ambrosius Ambo, warga kampung Leng Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT saat diwawancara media ini, Rabu (28/8/2019).

Maumere, Floresa.co – Warga Kampung Leng, Napungdagar, dan Warut Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku belum merdeka walaupun Indonesia sudah meredeka.

Pengakuan warga tiga kampung itu bukan alasan. Betapa tidak, warga di bagian pedalaman Kabupaten Sikka itu, selama 74 tahun Indonesia merdeka belum menikmati infrastruktur dasar seperti jalan jalan beraspal, listrik, air minum bersih, serta sinyal telepon.

Hingga kini, jalan menuju tiga kampung ini belum dirabat apalagi diaspal. Sama sekali belum ada perhatian pemerintah. Begitu pula dengan air minum, mereka masih mengandlkan air kali.

Sementara untuk penerangan malam hari, mereka mengandalkan lampu pelita. Lalu, untuk telepon, mesti berjalan kaki sejauh tiga kilometer karena di kampung belum ada sinyal.

“Negara ini sudah 74 tahun merdeka. Tetapi kami belum menikmati kemerdekaan itu. Kami di sini sama sekali belum merdeka,” ungkap Yakobus Jowe warga kampung Warut kepada media ini Rabu 28 Agustus 2019.

“Jalan raya sama sekali belum diperhatikan. Kondisinya sangat buruk. Kami di sini juga belum masuk listrik, air minum bersih, dan sinyal telepon. Inilah mengapa kami merasa belum merdeka. Kami juga tidak tahu. Apa alasan kami di sini dianaktirikan pemerintah,” sambung Yakobus.

Ia mengungkapkan, puluhan tahun warga ketiga kampung itu sangat merindukan perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar masyarakat. Tetapi, hingga kini kerinduan itu tidak pernah direspon pemerintah.

“Selama ini juga kita pasrah saja dengan keadaan ini. Sulit sebenarnya, hanya mau bagaimana. Mau teriak, teriak kepada siapa dan melalui siapa,” ungkap Yakobus.

“Kalau bisa, kepada bapak Presiden Jokowi, tolong perhatikan kami di sini. Kami juga warga Indonesia. Di sini kami diabaikan oleh pemerintah,” lanjutnya.

Sementara itu, Ambrosius Ambo  warga kampung Leng menuturkan saat kampanye pada tahun 2018 lalu, Bupati dan Wakil Bupati Sikka menjanjikan sinyal, jalan, air minum bersih, dan listrik atau disingkat Sijalin.

“Itu janji mereka saat kampanye di sini. Sekarang kami tuntut itu semua. Tolong perhatikan sinyal, jalan raya, air minum bersih, dan listrik. Tolong tulis ini teman-teman dari media. Sampai di mana saja. Biar pemerintah buka mata melihat penderitaan kami di sini,” tutur Ambrosius.

Ia mengungkapkan, akibat tidak diperhatikan infrastruktur jalan, warga 3 kampung di Desa Watu Diran susah untuk menjual hasil komoditi ke kota Maumere.

Ia menyebut, tiga kampung itu memiliki banyak hasil pertanian seperti, kopi, cengkih, jambu mente, dan kakao.

“Lumayan hasil tani kita di sini. Hanya kendala di jualnya. Kita mau jual pakai pikul ke kota ini susah sekali. Sengsara sekali,” ungkapnya.

Ia mengatakan, akibat tidak ada listrik belum masuk di 3 kampung itu, warga hanya mengandalkan lampu pelita untuk penerangan malam.

“Kalau malam, habis makan lampu pelita. Mau nyala terus kan pikir dengan minyak tanah juga mahal. Terpaksa, anak-anak sekolah tidak bisa belajar di malam hari. Habis makan mereka tidur saja,” katanya.

Selain itu, ia menyebut tiga kampung itu sangat terisolasi lantaran tidak ada sinyal telepon. Di sekitar kampung memang ada tempat yang ada sinyal, tetapi mesti berjalan kaki sejauh tiga kilometer.

“Itu pun sampai di atas bukit ada sinyal. Kalau tidak kita pergi dan pulang kosong. Padahal zaman sekarang jaringan butuh sekali. Apalagi di sini ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Siswa-siswi dan guru mau cari informasi di internet tidak bisa. Jadinya serba ketinggalan,” ujar Ambrosius.

Sementara untuk air bersih, ia mengaku saat ada upacara besar warga sangat susah memperoleh air minum bersih.

“Itu kita harus pikul dari mata air lalu tampung di bak. Di sini mata air banyak, tetapi kendalanya belum dimanfaatkan. Sehingga kami masih terus minum langsung dari sumbernya tanah dan di kali,” ungkap Ambrosius.

“Harapan kami ke depan, bisa bebas dari keterisolasian ini. Itu saja. Kami minta pemerintah perhatikan infrastruktur dasar ke wilayah ini,” sambungnya.

Pantauan media ini, sekitar tujuh kilometer jalan dari kota Maumere menuju kampung Warut, Leng, dan Nampungdagar sangat memprihatinkan. Jalannya belum dirabat dan diaspal.

Tampak lubang menganga hampir di setiap titik. Akibatnya, kendaraan roda tiga yang melewati jalan itu tidak bisa diboncengi. Kendaraan pun hanya bisa melaju dengan kecepatan gigi satu dan ekstra hati-hati.

Akibat jalan yang amat parah tersebut, kendaraan roda dua yang lewat sering kali jatuh menyentuh tanah. Tak sedikit pengendara yang terluka saat melintas jalan itu. Apalagi, jika baru pertama kali menyusuri ruas jalan tersebut.

NN/ARJ/Floresa