Seorang ibu, warga Pulau Komodo tengah menyanyikian lagu "Pulau Komodo Tanah Airku" dan lagu "Aru Gele" di depan Kantor Bupati Mabar, yang merupakan salah satu titik demostrasi, pada Rabu, (17/7/2019). (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Sekitar 400-an warga Pulau Komodo melakukan aksi damai di Labuan Bajo pada Rabu 17 Juli 2019. Selain berorasi dan melakukan long march di jalan-jalan utama kota Labuan Bajo, mereka juga menyanyikan berbagai lagu nasional maupun daerah.

Yang paling menarik di antaranya adalah lagu “Komodo Tanah Airku” dan Lagu “Aru Gele”. Lagu Komodo Tanah Airku menceritakan kehidupan warga Komodo bersama satwa Komodo yang dikenal dengan nama Ora.

Sejak ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1980, warga Komodo harus merelakan seluruh pulau menjadi kawasan konservasi. Hanya boleh beraktivitas di dalam kawasan desa berbentuk enclave.

Enclave ialah wilayah terbatas yang dikurung oleh kawasan konservasi.

“Pulau Ora, Pulau Modo satu tanah yang indah penuh dengan buaya darat termasyur di dunia Pulau Modo. Pulau Modo itulah tanah airku,” demiikian mereka melantunkan lirik-lirik lagu tersebut.

Menurut salah seorang warga peserta aksi damai, lagu ini mula-mula diciptakan oleh seorang guru yang berasal dari Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai, yang pernah bertugas di Komodo. Sekarang lagu itu terus menjadi lagu kebanggaan orang Komodo.

Sementara itu Lagu Aru Gele merupakan lagu dalam bahasa Asli Komodo. Lagu ini biasa dinyanyikan sambil bekerja untuk menghilangkan rasa lelah.

Baca Juga: Pada Aksi Damai Tolak Penutupan Komodo, Para Demonstran Mengumpulkan Sampah Sendiri

Menurut penelitian antropologi, warga Asli Komodo (Ata Modo) merupakan masyarakat yang memiliki adat kebiasaan dan bahasa yang independen dari suku-suku lain di sekitarnya.

Menukil Verheijen 1982, Needham 1986, Forth 1988, mereka diperkirakan sudah mendiami Pulau Komodo sejak 2000 tahun lalu.

Ata Modo masih mempertahankan bahasa asli mereka, kendati sudah mengalami perubahan setelah interaksi dengan suku-suku sekitar seperti Manggarai, Bajo, Bima, dan Ende.

Aksi damai ini dipicu oleh rencana Gubernur NTT untuk menutup sementara Pulau Komodo agar ditata ulang untuk menjadi kawasan wisata alam premium yang ekslusif. Gubernur juga mengumumkan bahwa “masyarakat bisa saja dipindahkan, bisa juga tidak”.

Baca Juga: Warga Kampung Komodo Unjuk Rasa Tolak Rencana Penutupan Pulau Komodo

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan ke Labuan Bajo belum lama ini menyatakan dukungan atas rencana itu. Dalam pernyataan mereka, Masyarakat Komodo menolak rencana itu.

Mereka juga menuntut pengembangan pariwisata dan konservasi yang melibatkan peran masyarakat setempat. Penduduk Komodo kini berjumlah 2000 orang atau 500 keluarga.

Secara administrasi pemerintahan, Komodo merupakan satu desa dengan 5 Dusun dan 10 RT. Warga menolak rencana penutupan Pulau Komodo maupun pemindahan mereka dari kampung halaman mereka sendiri.

Floresa