Bupati Manggarai, Kamelus Deno. (Foto: Pos Kupang).

Labuan Bajo, Floresa.co – Bupati Manggarai, Deno Kamelus menyebut, hingga saat ini omzet penjualan tanaman hortikultural di kabupaten yang dipiminnya itu mencapai sekitar 18 miliar rupiah. Angka itu, katanya dhitung muluai tahun 2017, di mana proyek itu mulai digalakkan.

“Selama tiga tahun kita berprogram, puji Tuhan, omzet petani dari penjualan hortikultural itu mencapai angka hampir 18 sampai 19 miliar,” katanya kepada Floresa.co usai mengikuti pertemuan dengan para bupati se-NTT di Hotel Ayana Labuan Bajo, Senin 10 Juni 2019.

Dalam pertemua bertajuk “Masyarakat Ekonomi NTT” itu, para bupati dari seluruh provinsi NTT, di hadapan Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi mempresentasikan produk unggulan dari daerahnya masing-masing.

Dan, Kabupaten Manggarai, melalui Deno menyebut hortikultuiral sebagai salah satu produk unggulan dari kabupaten itu.

Menurut Deno, dalam tiga tahun terkahir, pihaknya konsen mengembangkan horticultural mengiungat kontribusi sector pertanian terhadap produk domestic bruto (PDB) kabupaten yang dipimpinnya itu mencapai sekitar 21 persen dari total keseluruhan.

“Salah satu di dalamnya ialah horticultural,” jelasnya.

Selain itu, katanya, pertanian juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai hingga 58 persen.

“Oleh karena itu membangun hortiktural itu artinya juga membangun masyarakat petani di mana 51 persen angkatan kerja bekerja di situ,” paparnya.

Ia juga mengataka,proyek itu berkembang dengan baik di kabupaten yang dipimpinnya itu karena ketersediaan infrastruktur hortikultural yang cukup memadai.

“Sudah ada 20 green house yang memungkinkan hortikultural dapat bertahan sepanjang tahun, dari bulan Januari sampai Desember, walaupun cuaca tak menetu,” jelasnya.

“Terdapat 382 hektar lahan yang disiapkan dan sudah 248 hektar, yang sudah dimanfaatkan,” tutupnya.

Adapun daerah-daerah yang mendapat pasokan produk horticultural dari tersebut kata Deno ialah Manggarai Timur, khususnya Kota Borong, Labuan Bajo hingga Sumba.

“Ke depan kita juga dorong ke Kupang,” ujarnya.

Bukan hanya horticultural, Deno juga menyebut kopi, cengkeh dan mente sebagai produk unggulan dari kabupaten tersebut.

Selain memprsentasikan produk unggulan, pertemuan itu juga sekaligus awal bagi setiap kabupaten berkolaborasi mengelola produk unggulannya masing-masing, salah stunya bertujuan agar produk-produk unggulan dari satu kabupaten  bisa diekspor ke kabuaten lain yang defisit atau kekurangan.   

“Kita tidak bisa lagi dengan cara-cara yang biasa, mesti ada lompan-lompatan. Saya kira, yang hari ini kita buat, salah satu implementasi dari pikiran besar itu bahwa kita tidak bisa lagi sendiri-sendiri,” ujarnya.

“Potensi-potensi yang ada di NTT itu harus dikelola sama-sama dan itu juga dipikirkan secara bersama-sama, mulai dari sisi produksi kemudian, kelembagaan, pemasaran, dan seterusnya. Tentu ujung-ujungnya ialah NTT bangkit rakyat sejahtera,” tutupnya.

ARJ/Floresa