Senja di Pantai Pede-Labuan Bajo. (Foto: Ney Dinan).

Oleh: RIO EDISON, OFM

Senja. Aku suka pada senja, dari dulu. Aku suka pada semburat sinar kuning kemerah-merahan yang memancar dari arah barat, menyelinap di antara celah gedung-gedung tinggi. Aku kagum pada perubahan warna yang diberikan. Langit biru menjadi kuning sebelum akhirnya menghitam-gelap. Hijau daun berubah kuning jika ditempa matahari senja. Gedung-gedung megah hanya akan menjadi siluet jika matahari senja sudah melemah. Tentu saja, senja adalah aroma ketika penjual nasi goreng mulai menjajakan dagangannya.

Senja selalu bercerita tentang akhir dari sebuah perjalanan. Ia bercerita tentang matahari yang berpamitan setelah sempat menyaksikan seorang pekerja beraktivitas sepanjang hari. Pekerja yang menyetir mobil pribadinya itu sedang kesal di tengah-tengah kemacetan akut Jakarta di sore hari. Ia memencet klakson dengan keras, berulang-ulang untuk mengusir pengguna sepeda di hadapannya. Semangat pagi yang didapat setelah mencium kening istrinya habis dikuras selama dua belas jam. Sejak pagi, semangat itu mulai dikuras dalam kemacetan, dipakai dalam briefing pagi sebelum kegiatan produksi dijalankan, menipis ketika ditegur atasan, dan kritis ketika bawahan melakukan kesalahan.

Aku belajar seni menafsir senja dari ayah. Pria berbadan tegap dan berkumis tipis itu adalah penikmat senja yang sejati. Ketika sinar mentari berubah menjadi kuning, ia memulai ritualnya: menyeduh kopi, membakar sebatang rokok kretek Gudang Garam, dan duduk di beranda rumah. Sambil menyesap rokok dan menyeruput kopi, ia mengamati para pejalan kaki yang lewat di depan rumah. Bila dikenalnya, mereka disapa dan diajak untuk ngobrol bersama di beranda. 

Bila demikian, aku akan bergabung bersamanya. Ia pun memulai ceritanya tentang senja. “Nana, senja menyimpan banyak kisah di baliknya.” Aku mulai mendengarkan. “Kisah kehidupan manusia selama hari itu. Kisah itu bisa menyenangkan atau juga menyedihkan. Bahkan mungkin bagi sebagian orang senja adalah keputusasaan.”

“Bae nia main lite (Anda tahu dari mana-red)?” Aku bertanya asal-asalan.

”Pengalaman. Pengalaman hidup. Itu seperti burung yang kembali ke sarang di sore hari. Bila ia membawa makanan, ia pasti bergembira. Anak-anaknya akan makan. Harapan kehidupan anak-anaknya ia gantungkan pada senja sebelum besok memperoleh makanan yang lebih banyak. Tetapi kalau ia sulit mendapatkan makanan, ia menggantungkan kecemasan di senja hari. Malam akan terasa mengerikan. Kelaparan pasti melanda.”

Ia menunjuk ke arah petani yang kembali dari ladang. “Namanya Ema Domi. Wajahnya dipenuhi bulu sehingga kelihatan seram. Tetapi ia pulang dari ladang dengan senang. Hasil panenan kopi di ladangnya melimpah tahun ini. Ia bisa membiayai anaknya kuliah di Jawa.”

Sekali waktu ia menunjuk seorang pegawai kelurahan yang sedang bersenda-gurau dengan seorang wanita tua. “Ia tertawa dalam kesedihan. Istrinya sakit keras, tetapi ia tidak punya banyak uang untuk membawanya berobat ke kota.”

Ia banyak bercerita dan aku mendengarkan saja. Benar yang ia katakan. Penampakan wajah orang yang aku temui bisa jadi menyembunyikan suatu kisah kehidupan di baliknya. Mungkin seperti Heidegger yang ketika melihat lukisan sepatu tua, kusam dan berlumpur karya Van Gogh akan secara spontan mengungkapkan bahwa di balik ketersingkapan sepatu tua itu, terdapat kisah yang tidak tersingkap. Kisah tentang kaki seorang petani gurem tua yang berjalan menembus tanah berlumpur di musim dingin. Kebenaran selalu saja memiliki sisi yang tidak disingkapkan sepenuhnya. 

Pada suatu sore, kami duduk lagi di beranda. Kala itu, aku baru memulai masa liburan, setelah enam bulan tinggal di asrama. Ibu menghidangkan kami bubur kacang hijau. Buburnya enak. Aku tahu cara ibu mengolahnya. Ia akan memasukkan sedikit susu bersama santan ke dalam adonan bubur. Ia juga selalu memakai gula merah, bukan gula pasir. Tidak lupa, ia memasukkan sedikit jahe merah dan pandan wangi di akhir. Keistimewaan bubur kali kali ini adalah bulir-bulir kacang hijau lebih besar dibandingkan sebelumnya.

“Nana, kacang hijau juga memiliki kisah yang panjang sebelum ia dihidangkan dengan rasa selezat ini.” Ia berhenti di situ dan menandaskan bubur kacang hijau dalam mangkuknya. Setelah makan ia mengajakku untuk menemani ibu ke Puskesmas. Ibu adalah perawat di Puskesmas kecil kampung kami. Setiap kali hendak shift tugasnya ayah mengantar. Kali ayah mengajak aku. 

Bau karbol menyengat hidung ketika aku memasuki ruangan rawat inap berlantai ubin putih. Ayah mengajakku ke salah satu bangsal. Di situ telah berkumpul ibu-ibu dan beberapa pria mengelilingi tempat tidur. Hampir semuanya mengenakan songke. Mereka adalah petani sederhana. Wajah mereka keras karena setiap hari ditimpa sinar matahari, tetapi aku tahu isi hati mereka saat itu. Kesedihan mereka berpusat pada pasien yang terbaring di tempat tidur. 

Aku lupa menanyakan namanya saat itu. Pastinya, ia adalah gadis kecil yang sedang berbaring tidak berdaya. Sebenarnya ia bisa berada di luar sana, mengumpulkan biji kopi atau kemiri yang jatuh ke tanah sebagai alat permainan tradisional. Namun, ia mesti berbaring dengan telanjang di atas tempat tidur. Tubuhnya mesti terus dikipasi dan selimut tidak boleh menyentuh kulitnya. Jika menyentuh, kulit rapuhnya akan terkelupas bersama selimut itu. 

Gadis itu menderita luka bakar parah. Hampir seluruh tubuhnya terbakar, kecuali kepala, tangan, dan kaki. “Ia bersama keluarganya berada di ladang ketika peristiwa itu terjadi,” ayah mulai bercerita kepadaku. “Mereka semua bergembira. Panenan kacang hijau di saat harga sedang melambung tinggi melampaui perkiraan mereka. Seluruh anggota keluarga ikut memanen. Seorang anak yang ditinggalkan di pondok untuk menyiapkan makanan. Gadis kecil ini ditinggalkan bersamanya. Kakaknya itu sibuk menanak nasi, sementara gadis kecil ini bermain di sekitar tungku api. Ia meraih sebuah botol, menuangkan cairannya ke tanah, membasahi pakaiannya.”

“Ia tidak tahu kalau cairan itu adalah minyak tanah. Warnanya seperti air putih, dan rasa penasaran terhadap aroma anehnya itu mendorongnya untuk menumpahkannya ke tanah. Begitu cepat. Sebelum kakaknya bereaksi, api sudah menyambar badannya. Teriakan dari pondok mengagetkan keluarganya yang sedang bekerja. Interval beberapa menit hingga orang tuanya sampai ke pondok dan memadamkan api telah menyebabkan luka bakar serius.”

“Kau lihat bapak itu,” ayah menujuk seorang pria di pojok ruangan. Pandangan matanya kosong. “Ia berlari sepanjang lima kilometer, dari ladang menuju jalanan, menggendong anaknya sambil menangis meraung-raung. Selama dua jam mereka menumpangi mobil pengangkut ikan menuju ke sini. Sepanjang perjalanan itu kantung air mata telah mengering tetapi hati menjadi semakin pilu. Ia mesti menyiapkan hati untuk kehilangan yang besar, puteri satu-satunya. Tapi ia tidak dapat menyiapkan hatinya.” 

Puskesmas tidak dapat mengobati gadis itu. Lukanya kelewat berat. Gadis itu mesti dirujuk ke Rumah Sakit di kota. Menjual ladang pun ayahnya tidak mampu membayar separuh dari seluruh biaya pengobatan. Bersama petugas kesehatan, ayah mencoba menggalang dana. Ia masuk ke setiap rumah di lingkungan untuk meminta sumbangan. Di kantor kelurahan tempatnya bekerja, ia juga menggalang dana. Ayah menyisihkan gaji bulanannya untuk gadis kecil itu. 

Aku tidak tahu, apakah dana yang terkumpul itu bisa menutupi biaya perawatan atau tidak. Satu hal yang aku tahu. Ayah gadis kecil itu datang ke rumah kami bersama putera sulungnya. Sambil bercucuran air mata ia berterima kasih atas bantuan yang telah ia terima. Ia tidak menyangka akan mendapatkan bantuan. Sebagai ucapan terima kasih, ia memberi kami sekarung kacang hijau. Ayah menolaknya. Sekarung kacang akan menghasilkan sejumlah uang dan uang itu dapat digunakan untuk pengobatan anaknya. Ia menolak. Kacang hijau dapat dipanen lagi tahun depan, tetapi bantuan yang ia dapat benar-benar merupakan anugerah.

“Bubur kacang yang tadi kita makan, yang diolah ibumu. Kacangnya merupakan pemberian keluarga ini.” Ayah menjelaskan kepadaku. “Besok kau akan kembali ke asrama. Tagihan kacang hijau dari asramamu pun bisa dipenuhi oleh pemberian mereka. Aku tidak perlu membeli lagi. Harga kacang hijau di pasar sedang mahal, tapi kacang yang mereka berikan itu harganya sebanding dengan nyawa anaknya. Jangan sia-siakan pemberian itu. Habiskan jatah kacang hijau di piringmu setiap kali kamu makan.” Begitulah, ia selalu mengakhiri ritual senjanya itu dengan nasihatnya padaku. 

Setelah aku kembali ke asrama, aku tidak lagi mendengar kabar dari keluarga itu. Enam bulan kemudian, ketika kembali menikmati liburan, ibu memberiku sedikit informasi tentang mereka. Gadis kecil itu dapat di selamatkan, tetapi bekas luka bakarnya itu tidak bisa dihilangkan. Mereka sudah kembali ke kampung dan mengolah kembali ladangnya. Peristiwa pilu itu tetap tersimpan dalam hati mereka.

Tahun ini harga kacang hijau merosot. Para penadah membeli dengan harga yang lebih murah lagi dari para petani. Harga kacang hijau impor yang murah membuat kacang hijau lokal. Semua itu demi memenuhi permintaan perusahaan produksi makanan di dalam negeri. Perusahaan-perusahaan itu, yang mereka pikirkan adalah biaya produksi yang murah. Berbagai kisah kehidupan di balik bulir-bulir berharga murah tidak mendapat tempat, bahkan dalam desain kemasan sekalipun. Wajah cerah petani mungkin sesekali muncul di kemasan bagian belakang. Bagian dari strategi pemasaran tentunya. Tetapi kisah gadis kecil itu, tidak pernah sekalipun muncul dalam rantai produksi makanan olahan. 

Jika ada penghargaan karena makanan olahan itu disukai masyarakat dan nilai gizinya tinggi, penghargaan itu pasti diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar. Para petani kecil, yang merawat tanaman kacangnya seperti merawat anaknya sendiri tidak pernah menerima penghargaan seperti itu. Sejarah pilu dalam hidup mereka terbungkus rapih, serapih kemasan makanan itu. 

Satu hal yang dimiliki petani kecil itu. Rasa syukurnya besar, seperti janda miskin yang menyerahkan persembahan di Bait Allah. Ia berperan dalam perjalanan hidupku melalui kacang hijaunya. 

“Ingatlah, kesuksesanmu nanti selalu berdiri di atas peluh orang lain. Jangan lupakan kampung halamanmu di manapun engkau meraih kesuksesanmu. Kampungmu yang memelihara suksesmu sejak kecil. Kerinduanmu pada kampung halaman adalah kerinduan pada wajah-wajah yang mengeras oleh sinar matahari dan pada senja. Senja ketika para petani kembali ke rumah dan harapan mereka tentang ladang diletakkan bersama matahari yang kembali ke peraduan.”

***