Didampingi Didet (baju biru), Staf ekopastoral, OMK menyiapkan bedengan untuk ditanami benih sayuran. (Foto: Panitia Pertemuan OMK Fransiskan)

Floresa.coPara Fransiskan mengajak ratusan Orang Muda Katolik (OMK) yang ikut dalam acara pertemuan tahunan di Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai untuk mendekatkan diri, bahkan berinteraksi dengan alam.

Hari ini, Rabu, 5 Juni 2019 merupakan hari kedua pertemuan itu yang melibatkan OMK dari lima paroki yang dilayani para Fransiskan.

Rangkaian acara hari ini yang bertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dibuka dengan rekoleksi yang dibawakan oleh Diakon Jerry Ranus OFM.

Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan, sesuai tema tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, yaitu “Berinteraksi dengan Alam” kita semua mesti selalu sadar bahwa “kita bukanlah makhluk yang terpisah dari dunia.”

“Kita hanyalah bagian yang kecil saja dari alam semesta yang begitu luas ini,” katanya.

Mengutip pernyataan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si, salah satu dokumen penting yang menegaskan sikap Gereja pada isu lingkungan, Diakon Jerry OFM juga menambahkan “Kita bukan Allah, bumi sudah ada sebelum kita dan telah diberikan kepada kita.”

Karena itu, jelasnya, tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri dan berlaku semena-mena terhadap alam.

Diakon asal Welu Manggarai Timur ini pun mengungkap sejumlah fakta krisis lingkungan global saat ini, seperti polusi tanah, air dan udara, perubahan iklim, sampah dan mentalitas ‘pakai-buang’ serta rusaknya kenekaragaman hayati. 

Ia menantang peserta untuk berkontribusi menyelamatkan bumi dan peradaban manusia yang terancam akibat kerusakan ekologi.

“Mari kita masing-masing bertanya, apa yang sudah saya buat, apa yang bisa saya buat, apa yang akan saya lakukan untuk menyelamatkan bumi dan peradaban manusia?”

Mengenal Pertanian Organik

Usai rekoleksi, peserta didampingi Tim Ekopastoral Fransiskan ikut dalam kegiatan konservasi, pembuatan pupuk organik, dan budidaya tanaman hortikultura. 

Ekopastoral adalah bagian dari karya para Fransiskan, yang berpusat di Pagal dengan fokus pada pengembangan model pertanian organik dan konservasi.

Sayuran segar di lahan budidaya hortikultura Ekopastoral Fransiskan, Pagal. (Foto: Panitia Pertemuan OMK Fransiskan)

Para OMK mengunjungi dua lokasi, yaitu Golo Waso dan Wae Kondo, di mana mereka penanaman anakan pohon dan membuat lubang resapan air atau biopori serta belajar cara pembuatan pupuk organik.

Menuju bukit Golo Waso, sekitar empat kilo meter dari Pagal, Enne, salah seorang OMK asal Paroki St. Fransiskus Assisi Karot mengisahkan “dari jalan raya peserta menanjak melewati jalan setapak.”

“Cape sekali dan berkeringat, tetapi semuanya terbayar dengan pemandangan indah saat sampai di puncak bukit,” katanya.

Di bukit itu, peserta menanam anakan pohon dan membuat lubang bio pori di sekitar pohon di sejumlah titik tanam yang sudah disiapkan. 

Ada tiga puluhan pohon yang ditanam di kebun Ordo Fransiskan Sekular (OFS) ini. Salah satu anggota OFS yang ikut serta dalam kegiatan ini, Simon Moses OFS, mengapresiasi inisiatif orang-orang muda dari lima paroki ini. 

Ia mengungkapkan harapan dan mimpinya. 

“Semoga dengan kegiatan ini, anak-anak muda semakin mencintai bumi ini. Siang ini kita menanam pohon di Golo Waso. Saya punya mimpi, suatu saat nanati Golo Waso  menjadi salah satu destinasi wisata rohani di wilayah ini,” katanya.

Sementara di Wae Kondo, kurang lebih satu kilo meter di sebelah timur Pagal, Arsi, OMK asal paroki St. Fransiskus Assisi Tentang bersama peserta dari paroki lainnya juga mengadakan penanaman pohon. 

“Yang menarik bagi saya dari kegiatan ini adalah saya dilatih untuk menanam pohon dan melakukan konservasi mata air. Dengan cara ini saya bisa berkontribusi dalam melindungi Ibu Bumi,” katanya. 

Bruder Rahmat Simamora OFM menggambarkan perjalanan bersama peserta menuju lokasi. 

“Dengan anakan pohon di tangan, peserta diarahkan oleh tim ke lokasi tanam yang sudah disiapkan. Melewati jalan terjal, lincin, berlumpur, itu yang mebuat acara tanam pohon ini seru,” tuturnya. 

Setelah menanam anakan pohon, peserta kembali ke kantor Ekopastoral, tidak jauh dari Wae Kondo. 

Di green house untuk penangkaran benih, ibadat Peringatan Hari Lingkungan Hidup dilaksanakan dan dipimpin oleh Diakon Jerry OFM. 

Setelah membacakan Firman Tuhan, Diakon Jerry mengajak peserta untuk hening sambil meresapkan Sabda Tuhan di tengah keheningan Ekopastoral yang jauh dari pemukiman warga. 

Di tempat pembuatan pupuk peserta didampingi staf Ekopastoral, Jeni dan Ani Saju. Praktek pembuatan pupuk dilakukan tahap demi tahap.

Di rumah pembuatan pupuk, peserta mencampurkan bahan-bahan untuk pembuatan bokasi/pupuk organik. (Foto: Panitia Pertemuan OMK Fransiskan)

“Ada lima bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan bokasi ini, antara lain sekam padi, dedaunan hijau, jerami padi, batang pisang, serbuk kayu, abu dapur abu dari penggilingan,” jelas Ani.

“Pada tiap lapisan ditaburi mikroorganisme lokal untuk mempercepat proses pelapukan bahan-bahan ini menjadi pupuk yang diap dipakai,” tambahnya. 

Pupuk bokasi yang dihasilkan oleh Ekopastoral selama ini bisa digunakan untuk segala jenis tanaman. 

“Bisa untuk segala jenis tanaman. Untuk cengkeh, padi, tanaman hortikultura dan sebagainya. Pokoknya semua bisa!,” kata Ani. 

Di lahan kering, Didet, salah satu staf Ekopastoral, memandu peserta untuk serangkaian kegiatan. 

Ada yang diberi tugas memasukan ke dalam wadah bekas gelas plastik benih yang sudah disemai. Benih akan bertumbuh dalam wadah itu selama 21 hari sebelum dipindahkan ke bedengan. 

Mengambi benih setelah berusia 21 hari untuk ditanam di bedengan. (Foto: Panitia Pertemuan OMK Fransiskan)

Peserta lainnya mengangkut pupuk, menaburkan masing-masing dua genggam di tiap lubang tanam dan menanam benih sayuran yang sudah siap tanam, seperti wortel, kol, pakcoi, mentimun, bayam, picai dan sebagainya.

Siang itu ada yang meyiapkan bedengan. Di bagian lain ada peserta yang menyiang rumput sekitar bedengan.

Johnny/ARL/Floresa