Tampak depan RSUD Ben Mboi Ruteng. (Foto: Floresa)

Floresa.co –  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng, Kabupaten Manggarai saat ini tidak memiliki obat anti racun ular sehingga kesulitan untuk bisa segera mengobati pasien yang digigit binatang berbisa itu.

Pimpinan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Manggarai itu pun kemudian meminta keluarga pasien untuk berupaya mencari sendiri obat itu.

Informasi terkait ketiadaan obat anti racun ular ini ramai dibicarakan netizen pada Selasa pagi, 4 Juni 2019 setelah muncul informasi di akun Facebook Boni Hargens, akademisi dan pengamat politik asal Manggarai.

Dalam statusnya, Boni menulis terkait pengalaman kelangkaan obat yang menimpa seorang pasien, yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya.

Berikut isi status Boni, yang dikutip Floresa.co dari akunnya:

“Hello, warga Kabupaten Manggarai yg ada di FB ini. Tahukah kalian bahwa RUmah Sakit Daerah “Ben Mboi” Ruteng tidak memiliki stock obat/serum antiracun ular? Jadi klau tersengat ular atau “kaka ta’a” segera ke RS Siloam di Labuan Bajo atau RS lain yg menyediakannya, sblm Anda celaka karena trombosit yg mkin menurun akibat racun ular. Teruskan informasi ini supaya Pemda Manggarai belajar melayani rakyat dengan sungguh. Terimakasih🙏 Saran: petisi #copotdirekturRSBenMboiRuteng dan#2020GantiBupatiManggarai

Boni membenarkan isi pesannya itu ketika dikonfirmasi Floresa.co.

Status di Facebook Boni Hargens, akademisi asal Manggarai. (Foto: Floresa)

Status Boni kemudian cukup ramai direspon netizen, yang umumnya bernada kritikan terhadap pihak RSUD Ruteng dan mengkhwatirkan kondisi pasien yang harus terlambat mendapat perawatan, mengingat jarak tempuh jalur darat Ruteng-Labuan Bajo sekitar 4 jam.

Direktur RSUD Ruteng, dr. Elisabeth F. Adur yang dikonfirmasi pada Selasa pagi membenarkan adanya kelangkaan itu obat itu.

Ia pun mengakui adanya kasus seperti yang diungkapkan Boni.

Ia mengatakan, mereka sudah berupaya mencari cara agar bisa segera mendapatkannya, namun tidak tersedia stok di area Ruteng.

“Susah juga, minta di Puskesmas pun tidak ada, tidak ada semua. Mau minta di Dinas Kesehatan juga tidak ada,” katanya.

Ditanya terkait solusi untuk kasus seperti yang diungkap Boni, ia mengatakan, mereka memilih meminta pasien mencari sendiri.

“Kita anjurkan orang per orang, (untuk) mau beli di Labuan Bajo,” katanya.

Ia menjelaskan, mereka sudah memesan obat tersebut untuk tahun ini, namun saat ini belum tersedia.

Ida mengatakan, tahun lalu stoknya cukup banyak, namun kemudian tidak terpakai karena tidak ada kasus dan kemudian obatnya expire atau kedaluwarsa.

“Kalau sudah expire kita pasti buang,” katanya.

BACA JUGA:

Hingga berita ini dipublikasi, respon atas status Boni terus muncul, di mana ada 20-an komentar dan dibagikan 30 kali.

Pemilik akun Yori Soda Nango menulis “Labuan abajo terlalu jauh ko… Ruteng harus lebih Serius tuh.”

Pemilik akun Wempy Hadir, menimpali,  “Hal yg sederhana sj tdk bs diselesaikan, apalagi hal yg sulit. 2020 ganti bupati.”

Jery Johor menyebut bahwa ini hanya satu dari sekian banyak pelayanan buruk Pemkab Manggarai,

“Itu salah satu dari sekian byk pelayanan pemda manggarai yg buruk,” katanya.

“Masih segar dlm ingatan kita yg lgi viral baru baru ini, di mana kepolisian lalulintas melakukan perbaikan jalan jalan yg rusak di ruteng, bupatinya tutup mata..,” tambah Jery menyinggung aksi Polres Manggarai pekan lalu yang memperbaiki jalan rusak di Keluarahan Watu, yang jaraknya tidak jauh dari kantor bupati.

BACA JUGA:

Pemilik akun Etho Milannisti menyebut kasus ini sebagai bagian dari lagu lama.

“Lagu lama yg sllu m’ngiringi citra RS Benboi Ruteng. kalau pun ada, harga selangit. Obat faksin rabies sj hrga beberapa thn llu Rp 750rb. itupun tdk disediakan di RS Umum Ruteng,” tulisnya.

ARL/Floresa