Ilustrasi

Labuan Bajo, Floresa.co – Pihak DPC PDIP Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) membantah kadernya Petronela Madina menyerahkan uang kepada Ketua KPU setempat, Robertus Din dalam proses pemilihan legislatif (Pileg) lalu. Pasalnya, pihak DPC PDIP mengaku sudah menemui Petronela dan Robertus di mana keduanya kompak membantah melakukan itu. 

Sementara, dalam wawancara dengan Floresa.co pada Selasa malam, 21 Mei 2019, Petronela membenarkan pemberian uang kepada Robertus.

“Untuk mengklarifikasi berita itu, tadi pagi Pa Beni (Adu) mencoba menemui Ibu Petronela, dengan Pa Obedin (Robertus), ternyata hasilnya seperti yang disampaikan Pa Beni, bahwa itu curhat saja sebenarnya,” kata Sekertaris DPC PDIP Hermandus Dadung saat ditemui Floresa.co di kantor partai tersebut di Labuan Bajo, Rabu 22 Mei 2019.

Selain Hermanus, kader lain yang sedang berada di Kantor DPP PDIP saat Floresa.co mendatangi kantor partai tersebut ialah Lamber Landing, Beni Adu serta beberapa lainnya. 

Beni sendiri juga mengaku sudah menemui Petronela pada Rabu, pagi. Dalam petemuan tersebut, Beni mengatakan Petronela tidak pernah memberitahukan kepada siapa pun jika dirinya memberikan uang kepada Robertus, kecuali kepada wartawan Media Indonesia. 

“Jadi, Ibu Petronela kaget dengan berita (Media Indonesia) itu. Dia bilang begini, tidak benar. Saya memang kecewa. Saya hanya menyampaikan kekesalan saya dengan biaya yang sudah dikeluarkan, dengan hasil yang cuma segitu,” kata Beni mengulang yang disampaikan Petronela kepadanya.

Sementara, menurut suami Petronela, Theodorus yang ditemui Floresa.co Rabu siang, sebelum Floresa.co mendatangi Kantor DPC PDIP, kedatangan Beni ke rumahnya bertujuan membahas cara mengatasi masalah tersebut yang sudah terlanjur menyebar di media massa. 

“Pa Beni Adu datang untuk bagaimana cara mengkarifikasi berita yang sudah terlanjut beredar. Tidak benar itu (penyerahan uang),” kata Theodorus. 

Beni juga mengaku sudah menemui Robertus untuk menanyakan masalah tersebut. Beni mengatakan jika Robertus bersikeras membantah melakukan itu seperti yang dikatakan Petronela, bahkan mengaku tidak pernah bertemu dengan Petronela selama proses Pemilu. 

“Saya konfirmasi tadi malam (Selasa malam). Selama proses tidak pernah ketemu Petronela. Bagaimana mungkin ada kesepakatan. Apa betul orang itu sampai ke dia. Bisa jadi ke menantunya, menantunya tidak menyampaikan. Kan tidak sampai. Ibu kan sudah mengatakan bahwa saya sudah lewat menantunya,” tutur Beni.

Uang tersebut, sesuai dengan keterangan Petronela, dihantar oleh menantunya kepada Robertus di depan Rumah Sakit Siloam Bajo.

Selain karena keterangan Petronela, Hermanus juga bersikeras membantah kejadian itu karena dirinya cukup mengenal Robertus Din yang diakuinya sangat tegas.

“Terus saya bilang tadi malam itu ke teman-teman, saya tidak percaya kalau Obe Din (Robertus) lakukan ini. Karena saya mengenal Obe Din bukan hari ini saja. Saya berhadap-hadapan dengan KPU mulai Pemilu 2009. Saya jadi saksi di KPU. Saya kenal orang-orang itu. Sampai yang terakhir kemarin,” tegas Hermanus.

Robertus sendiri memasuki periode kedua sebagai Komisioner KPU Mabar, usai kembali terpilih pada awal tahun ini. 

Mempertegas bantahannya, Hermanus juga menceritakan dinamika selama proses penghitungan suara yang menurutnya tidak sedikit pun ada indikasi kecurangan.

“Saya kawal betul ini pleno. Saya tidak melihat kecurigaan atau gelagat dari penyelenggara untuk menambah suara Ibu Petronela. Suara Ibu Petronela yang kita rekap di sini 635. Sampai terkahir. Tidak bertambah satu angka atau kurang satu angka. Di mana konspirasinya dengan penyelenggara,” katanya.

“Sehingga bagi kami, degan pemberitaan ini kami dirugikan. Kami harus mengklarifikasi, berita itu tidak benar,” tambahnya.

Floresa.co juga berupaya menanyakan apakah pihak DPC PDIP juga memiliki bukti jika Petronela tidak memberikan uang itu atau sebaliknya Robertus tidak meminta dan menerimanya, namun pihak PDIP yakin kejadian itu tidak benar.

“Intinya, dari logika bahwa berita itu tidak benar. Hasil konfirmasi juga dibantah bahwa itu tidak betul. Yang ditulis itu tidak betul,” kata Hermanus.

Namun, berbeda dengan pernyataan yang disampaikan kepada Beni Adu, Theodorus maupaun Hermanus, melalui telepon kepada Floresa.co Selasa malam, Petronela mengaku benar memberikan uang itu.

“Delapan puluh (juta). Yang dia terima tujuh puluh (juta). Yang sepuluh (juta) itu diterima PPK Mbeliling, Marsel,” kata Petronela. 

Mengantarkan uang itu kepada Robertus, Petronela mengaku menugaskan menantunya. Awalnya, hendak dihantar ke rumah Robertus. Namun, Robertus keberatan sehingga uang diberikan di depan pintu Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo. 

“Setelah dia (Robertus) terima, dia bilang Oma, ‘terima kasih’. ‘Mengerti saja ka dengan saya punya tuak’. ‘Ia Oma’,” kata Petronela mengulang pembicaraannya dengan Robertus.

Hingga saat ini, kata Petronela, dirinya mencoba menghubungi Robertus, namun tidak pernah direspon.

Selain kejadian itu, pihak DPC PDIP juga membantah Petronela yang memperoleh 800 suara sebagaimana yang tertulis di berita Floresa.co sebelumnya. Menurut Hermanus, Petronela hanya memperoleh 635 suara. 

“Jujur, saya ikuti betul ini rekapitulasi. Tidak sedikit sinyal atau upaya menambah suara Ibu Petronela. C1 yang kita pegang di sini hanya 635 sampai hasil pleno terakhir juga itu (jumlahnya). Bukan 800 seperti yang dia omong itu,” katanya. 

Kader lain, yakni Lamber Landing, menyebut berita yang menyebut Petronela memperoleh 800 suara ialah tidak benar. Bahkan ia menyebut, yang menulis berita tersebut sembarangan.

“Yang mencurigakan, pertama, dari sisi jumlah suara, 800, itu tidak benar. Aslinya 635. Dari sisi nomor caleg, tidak benar. Itu nomor 8 (yang ditulis). (Sebenarnya) nomor 11. Dari sisi itu saja, yang menulis ini sembarang-sembarang,” kata Lamber.

“Itu berita tidak benar. Hoax. Ibu Nela (Petronela) tidak penah menyatakan seperti itu,” tegas Lamber.

Namun, informasi terkait total suara 800, ditulis Floresa.co karena disampaikan sendiri Petronela melalui sambungan telepon dengan Floresa.co pada Selasa malam. Dan, hingga saat ini redaksi masih menyimpan rekamannya. Sementara, terkait nomor urut Petronela, Floresa keliru. Seharusnya Petronela nomor urut sebelas, bukan nomor urut delapan seperti yang ditulis.

Terpisah, Ketua DPC PDIP Mabar, Darius Angkur mengaku belum mendapat pengaduan dari Petronela. 

“Belum bisa memberi tanggapan sebelum saya tau runut peristiwanya,” kata Darius saat dikonformasi Floresa.co, Rabu siang. 

Darius menegaskan, akan memberikan tanggapan jika Petronela melaporkan kasus tersebut kepada dirinya. 

“Selaku pihak yang dirugikan harusnya dia memberitahukan kepada pimpinan. Sejauh ini belum ada laporan ke saya,” tambahnya. 

Hingga berita ini diturunkan, Robertus tidak menjawab telepon dan pesan singkat yang sudah dilayangkan Floresa.co. 

Petronela sendiri gagal lmenjadi anggota DPRD Mabar periode 2019-2024. Pasalnya, Petronela hanya meraup 635 suara dari Dapil satu meliputi Kecamatan Komodo, Kecamatan Boleng, Kecamatan Mbeliling, dan Sano Nggoang. 

Perolehannya terpaut jauh dengan Caleg nomor urut 5 PDIP, Silvester Sukur dengan perolehan suara 1.419. Petronela sendiri berada di urutan ketiga. Sementara perolehan suara terbanyak kedua ialah Caleg nomor urut 7 atas nama Agustinus Jik yang memperoleh sebanyak 786 suara.

ARJ/Floresa