Ilustrasi

Labuan Bajo, Floresa.co – Sudah sekitar tiga belas tahun Marsianus Panggu mengalami gangguan kejiwaan atau kerap disebut orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kodisi itu membuat keluarganya memilih untuk memasungnya. Pasalnya, usai mengalami hal itu, Marsianus kerap melakukan aksi-aksi yang membayakan dirinya sendiri, keluarga bahkan warga kampung.

Dan, hingga hari ini, berbagai usaha ditempuh keluarganya untuk menyembuhkannya, namun, tak jugaberbuah hasil.

Tepatnya, pada 6 Agustus 2005, pemuda asal Nggawut, Desa Lawi, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) itu pertama kali mengalami gangguan kejiwaan.

Awalnya, ayah Marsi, Aloysius Abar menyangka jika anaknya itu hanya mengalami sakit biasa. Ia berpikir, akan baik-baik saja. Namun, hari demi hari, kondisinya kian memburuk.

“Saya masih ingat betul awal mula Marsi mengalami gangguan jiwa.Tepat pada hari Jumaat, sekitar jam 12 malam, dia terkena gangguan jiwa ini,” kenang Aloysius kepada Floresa.co, Selasa 14 Mei 2019.

Sejak saat itu, Marsi kerap melakukan aksi-aksi yang mengganggu kenyamanan keluarga dan warga kampung. Bahkan, saking takutnya dengan Marsi, orang tuanya bahkan pernah memilih menginap di rumah tetangga.

Kadang juga Marsi secara tiba-tiba menaiki pohon berukuran besar dan tinggi di sekitar rumahnya hingga membuat keluarganya ketakutan jika ia jatuh atau menjatuhkan diri.

Mengingat sangat beresikonya tindakan Marsi, keluarga akhirnya memilih untuk memasungnya.

“Dengan berat hati saya dan keluarga memutuskan untuk mengamankan Marsi dengan memasang kayu pasung pada kakinya,” ujarnya.

Memang, memansung, kata Aloysius bukan pilih mudah bagi keluargnya. Namun, bagi Aloysius dan keluarga, itu merupakan langkah yang paling aman agar keberadaan Marsi tidak merugikan dirinya sendiri, keluarga dan juga warga sekitar.

“Sebagai seorang ayah, saya tidak tega melihat Marsi ditertawakan oleh orang banyak, apalagi kalau sampai jatuh gara-gara naik pohon,” katanya.

“Syukur kalau kami sekeluarga tahu dimana dia meninggal, tapi kalau dia panjat pohon yang jauh dari rumah dan dia terjatuh,” tambahnya.

Hingga saat ini, hari-harinya, Marsi menghabiskan waktu di sebuah gubuk reot berukuran 3 x 3 meter, berjarak sekitar 15 meter dari rumah ayahnya.

Ia tak ingin mengenakan pakaian. Berkali-kali keluarga mencoba untuk mengenakan kepadanya, namun selalu dilepasnya.

“Dia hanya ingin menggunakan kain tenun saja untuk menutupi badanya. Kalau malam hari saya terkadang tidak bisa tidur hanya karena memikirkan anak saya ini. Dinginya udara malam membuat tidurnya tak nyaman,” kata ibunya lirih.

Usaha Penyembuhan

Penderitaan yang dialami Marsi tidak membuat keluarganya diam begitu saja. Berbagai cara telah ditempuh agar pemuda kelahiran 28 Desember 1993 itu pulih.

Hingga saat ini, pihak keluarga bergantian merawat Marsi. Memberi makan, membersihkan badanya bahkan mencukur rambutnya agar tetap kelihatan bersih dan sehat secara fisik.

“Kami mencari orang yang bisa menyembuhkan Marsi dari setiap daerah di Manggarai ini. Sudah banyak dukun yang datang ke sini dan mereka berusaha menyembuhkanya, tapi belum berhasil,” jelas Aloysius.

“Kami serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Kami yakin dan percaya Tuhan punya rencana yang terbaik untuk Marsi,” kata Lodovikus Arman, adik Marsi.

Selain usaha-usaha tersebut, pemerintah, melalui aparat desa juga pernah menawarkan bantuan untuk Marsi. Namun, hingga hari ini, tak ada tanda-tanda akan ada realisasi.

“Kami sekeluarga berharap dan berdoa semoga  suatu saat nanti ada orang yang ingin membantu Marsi, lebih khusus Pemerintah Manggarai Barat,” ujar Aloysius.

Gabrin Anggur/Floresa