Dirut BOP, Shana Fatina. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Wacana pengembangan wisata halal di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi diskusi hangat di tengah masyarakat. Hal itu setidaknya tergambar dari diskusi-diskusi di grup-grup WhasApp, facebook, dan media sosial lainnya.

Sebab musabab wacana itu dihembuskan dan siapa yang menjadi inisiatornya masih belum jelas. Sejauh ini, dari beberapa pihak yang secara bersama-sama menggelar sosialisasi di Hotel Sylvia Labuan Bajo pada 30 April itu tampak berusaha untuk mencuci tangan.

Dirut Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo – Flores, Shana Fatina misalnya mengaku jika pihaknya tidak bertangung jawab atas hal tersebut, walaupun wacana itu pertama kali dihembuskan dalam kegiatan di mana BOP menjadi salah satu bagian di dalamnya.

“Saya dimintai oleh Dinas Pariwisata Manggarai Barat. Itu pun saya hanya membuka kegiatan itu,” katanya kepada Floresa.co di sela-sela pelatihan peserta UKM Labuan Bajo yang digagas BOP di Hotel Exotic Labuan Bajo, Sabtu 4 Mei 2019.

Keterangan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu ditepis oleh Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Mabar, Gusti Rinus. Ia mengatakan, kegiatan itu bukan gagasan Dispar Mabar, melainkan program Kementerian Pariwisata.

“Saya perlu luruskan bahwa terkait kegiatan sosialisasi pengembangan wisata halal bukan atas permintaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat baik permintaan secara tertulis maupun permintaan secara lisan,” katanya kepada Floresa.co kepada Floresa.co, Sabtu pagi, 4 Mei.

Baca Juga: Wacana Wisata Halal di Labuan Bajo Picu Perdebatan

“Kegiatan sosialisasi ini program Kemenpar RI dan kami diminta untuk menjadi narasumber terkait kebijakan pembangunan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat,” tambahnya.

Saat Floresa.co menanyakan jika Kadis Rinus tidak pernah menginisiasi kegiatan itu, Shana tetap mengatakan jika dirinya tampil dalam acara itu karena dimintai oleh pihak Dispar Mabar di mana ia dihubungi oleh salah satu staff dari dinas itu.

“Saya dihubungi oleh Kabid (di Diaspar),” kata Shana. Namun, ia tidak menyebut siapa Kabid tersebut.

Sebelumnya, gagasan wisata halal untuk Labuan Bajo dimuat di media Genpi.co, di mana mematik perdebatan bahkan penolakan dari banyak kalangan.

Fernandes Nato, seorang warga Mabar misalnya menegaskan wisata di Labuan Bajo sudah ‘halal’ sejak dahulu kala dan seterusnya akan tetap seperti itu.

“Kalau tiba-tiba harus dihiasi stempel halal lagi, maka itu akan menjadi stempel mubajir,” katanya.

“Perlu jadi catatan saja agar tidak perlu mencampur aduk kepentingan ideologi religius tertentu untuk mengembangkan wisata di Flores. Wisata Flores harus dikembangkan untuk semua manusia dan tidak perlu dikerdilkan dalam terminologi halal dan tidak halal. Aneh-aneh saja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ica Marta Muslin, pemerhati pariwisata menyebut, Flores lebih berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan tidak perlu label agama apapun.

Ica juga menjelaskan bahwa aspek-aspek wisata halal sebenarnya sudah diterapkan di sejumlah industri pariwisata di Pulau Flores, di mana hampir semua akomodasi bintang empat ke atas sudah menerapkan poin-poin wisata halal itu. 

Hanya saja, jelasnya, permintaan untuk wisata halal tidak terlalu besar, karena memang segmen pasar Labuan Bajo dari wilayah Eropa.

Baca Juga: Kecaman Meluas, Media Ini Hapus Berita Soal Wisata Halal

“Kalau masalah menu halal di restoran, arah kiblat di kamar, toilet halal, rata-rata sudah punya. Hanya karena memang segmen pasar kami itu Eropa, jadi selama ini demand terhadap wisata halal tidak terlalu besar,” jelas Ica seperti dikutip situs GenPI.co.

Pada Kamsi malam, 2 Mei 2019, berita terkait wacana tersebut di mana pertama kali dimuat di situs GenPi.co telah dihapus, langkah yang diambil setelah protes publik menguat.

GenPi.co, yang bekerja sama sama dengan Kementerian Pariwisata mempublikasi dua berita terkait wacana halal itu yang kemudian ramai dibagikan di media sosial.

Media itu adalah satu-satunya yang mempublikasi acara sosialisasi wisata halal yang digelar di Labuan Bajo pada 30 April.

ARJ/Floresa