Pulau Padar, salat satu pulau yang jadi destinasi andalan pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat. (Foto: http://www.european-vacation-travel.com/begin-the-new-experience-by-explore-flores.html).

Floresa.co – Wacana memberi label wisata halal di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat ramai dibicarakan beberapa hari terakhir.

Wacana ini mengemuka setelah Kementerian Pariwisata menggelar sosialisasi di Labuan Bajo pada 30 April 2019. 

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, Shana Fatina yang berbicara dalam acara itu menyatakan, dari pengenalan konsep wisata halal “diharapkan dapat membantu peningkatan kunjungan wisatawan dan memperluas pangsa pasar Labuan Bajo, khususnya bagi wisatawan Muslim.”

Wisnu Rahtomo, Tim Percepatan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata yang juga berbicara pada kesempatan yang sama menyebut, pariwisata halal berarti segala fasilitas dan layanan boleh digunakan oleh umat Muslim, namun bukan berarti semua harus tersertifikasi halal. 

Yang paling utama, jelasnya, bisa memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim. “Memasuki bulan Ramadhan nanti, tentunya juga harus ada layanan Ramadhan seperti sahur dan buka puasa. Tak kalah penting, ruang rekreasi harus disediakan dengan privacy. Contohnya, tempat berenang harus terpisah antara laki-laki dan perempuan, serta tidak ada layanan non halal,” katanya, seperti dikutip GenPi.co.

Informasi tentang rencana itu segera menyebar luas, dan memicu beragam komentar, termasuk di media sosial.

Fernandes Nato, seorang warga Mabar dan pegiat pariwisata menyebut, wisata di Labuan Bajo sudah ‘halal’ sejak dahulu kala dan seterusnya akan tetap seperti itu. 

“Kalau tiba-tiba harus dihiasi stempel halal lagi, maka itu akan menjadi stempel mubajir,” katanya.

“Perlu jadi catatan saja agar tidak perlu mencampur aduk kepentingan ideologi religius tertentu untuk mengembangkan wisata di Flores. Wisata Flores harus dikembangkan untuk semua manusia dan tidak perlu dikerdilkan dalam terminologi halal dan tidak halal. Aneh-aneh saja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ica Marta Muslin, pemerhati pariwisata menyebut, Flores lebih berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan tidak perlu label agama apapun.

Ica juga menjelaskan bahwa aspek-aspek wisata halal sebenarnya sudah diterapkan di sejumlah industri pariwisata di Pulau Flores, di mana hampir semua akomodasi bintang empat ke atas sudah menerapkan poin-poin wisata halal itu. 

Hanya saja, jelasnya, permintaan untuk wisata halal tidak terlalu besar, karena memang segmen pasar Labuan Bajo dari wilayah Eropa.

“Kalau masalah menu halal di restoran, arah kiblat di kamar, toilet halal, rata-rata sudah punya. Hanya karena memang segmen pasar kami itu Eropa, jadi selama ini demand terhadap wisata halal tidak terlalu besar,” jelas Ica seperti dikutip situs GenPI.co.

Muhammad Boe, seorang pemandu wisata menyebut, bila tujuan label halal itu untuk menjaring lebih banyak wisatawan Muslim, hal yang perlu dilakukan adalah mendorong pengelolalaan destinasi yang ramah wisatawan Muslim dengan tetap mengakomodir wisatawan umum. 

“Juga mendorong semua pelaku dan penyedia jasa wisata, bila ingin menargetkan pasar ini, untuk memperhatikan permintaan pasar jenis ini,” kata Boe. 

“Ada kekhwatiran, bila pariwisata secara resmi menerapkan konsep halal/penamaan halal, itu akan mempengaruhi imej destinasi dan selanjutnya akan mempengaruhi rencana kunjungan wisatawan. Orang akan fokus pada kata halalnya terlepas bagaimana konsep wisata halal ini sebenarnya,” lanjut Boe.

Ia menjelaskan, untuk konteks Labuan Bajo, yang pas adalah pariwisata inklusif yang menyasar semua segmentasi pasar, sebab potensinya memang demikian.

Sementara itu, Mateus Siagian, pelaku pariwisata mengatakan biarkan Labuan Bajo tumbuh dengan identitasnya sendiri.

“Tidak perlu disuntik identitas dari mana pun. Biar pelan-pelan dia tentukan sendiri ke mana arah yang mau dipilih. Labuan bajo punya alam, punya budaya sendiri,” katanya.

Pegembangan destinasi wisata, kata Matheus, harus berorientasi pada pelestarian, sementara wisata halal merupakan konsep pariwisata berorientasi peluang pasar.

Penerapan wacana ini, jelasnya, baiknya dilakukan di tempat yang memang membutuhkan pasar tersebut.

“Labuan Bajo memiliki beban tanggung jawab menjaga budaya lokal, biota darat dan laut langka yang tersisa di dunia,” tegasnya.

Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata prioritas yang sedang dikembangkan secara masif, telah menjadi salah satu magnet bagi wisatawan, di mana tren kunjungan terus meningkat selama beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: BOP: Negara Rasa Perusahaan

Dari data yang disajikan Dinas Budaya dan Pariwisata Mabar, misalnya, tahun 2017 jumlah wisatawan mencapai 111.749.

Jumlahnya meningkat 46 persen pada tahun lalu menjadi 163.807 orang.

ARL/Floresa