Irenius Baling, warga di Manggarai Timur memperlihatkan tanaman porang yang ditanamnya pada 2018. (Foto: Floresa)

Borong, Floresa.co – Para petani di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur kini ramai menanam porang, tanaman yang umbinya sudah lama dikenal memiliki banyak khasiat dan menjadi salah satu komoditi untuk eskpor.

Pantauan Floresa.co, warga yang sedang membudidayakan tanaman ini adalah di Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba. Meskipun tidak tahu manfaat tumbuhan itu, mereka tetap memilih membudidayakannya karena harga umbi porang cukup menjanjikan.

Irenius Baling (47), salah satu petani asal desa tersebut mengatakan, ia menanam porang sejak awal 2018. Ia mengaku sudah menanam lebih dari 20.000 anakan porang.

Tumbuhan itu yang sebelumnya tumbuh liar di hutan itu, kata dia, kini menjadi komoditas baru yang diminati oleh para petani.

Ia menambahkan, proses pemeliharaan dan perawatan tanaman itu juga tidak memakan biaya dan tenaga yang banyak.

“Pengalaman saya, bibit porang yang ditanam itu tidak akan mati,” katanya kepada Floresa.co, Sabtu pekan lalu.

“Saya tanam itu dalam lahan kurang lebih dua hektar. Jarak antara pohon itu sekitar 10 sampai 20 cm,” lanjutnya.

Redem Ando (25), petani lain di desa itu, yang juga membudidayakan porang mengatakan, para petani tidak perlu mencari lahan baru untuk membudidayakan  tumbuhan itu. 

Sebab, kata dia, porang sangat cocok jika ditanam di bawah rimbunan pohon kopi, kakao, kemiri, dan tanaman lainnya.

“Selama ini, porang yang tumbuh liar di hutan-hutan itu hidup di bawah pohon-pohon,” ujar petani yang sudah menamam 10.000 anakan porang itu

Menurutnya, tumbuhan tersebut sangat membatu petani, sebab, ketika usia satu tahun, umbi porang sudah bisa dipanen.

Harga Menjanjikan

Irenius mengatakan, pada 2018 di wilayahnya, satu kilogram umbi porang mentah dibanderol dengan harga Rp 5.000.

Untuk umbi yang sudah diiris dan dikeringkan, kata diam satu kilogram bia dibeli oleh para pembeli yang datang dari Kisol, Borong dan para pedagang di desa itu, dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 47.000 per kilogram.

Ia berharap harga umbi tumbuhan itu terus meningkat pada tahun ini dan seterusnya.

Penelusuran Floresa.co dari berbagai sumber, porang menjadi salah satu komoditi buruan banyak investor Jepang dan China.

Porang termasuk tumbuhan bermarga Amorphophallus. Secara fisik, porang tumbuh dengan tangkai tunggal atau batang bercorak belang-belang hijau-putih. Tangkai kemudian menjulurkan cabang-cabang sebagai tangkai daun.

Ada banyak manfaat umbi porang, seperti untuk bahan obat-obatan, dimana glucomannan pada tanaman porang dimanfaatkan sebagai bahan pembentuk kapsul pada obat.

Selain itu, kadar glucomannan pada tumbuhan itu bermanfaat atau berkhasiat bagi kesehatan tubuh, yaitu mengurangi kadar kolesterol dalam darah dan memperlambat pengsongan perut, serta mempercepat rasa kenyang. Sehingga, cocok untuk makanan diet bagi penderita diabetes.

Porang menjadi salah satu komoditi buruan banyak investor Jepang dan China. (Foto: Floresa)

Porang juga banyak mengandung vitamin A dan B; lebih tinggi dari kentang. Kandungan karbohidratnya lebih dari 80%, komponen yang terpenting ada dalam glucomannan.

Selanjutnya, porang juga banyak dimanfaatkan dalam dunia  industri, seperti sebagai pengkilap kain, perekat kertas, Cat, Kain katun dan wool, dan bahan imitasi yang memiliki sifat lebih baik dari milum.

Selain itu juga, porang dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik.

Rosis Adir/Floresa