Meningkatnya perolehan suara Jokowi ini tidak terlepas dari kinerjanya selama hampir lima tahun memimpin Indonesia, demikian menurut para pengamat dan analis politik. (Foto: Ist)

Floresa.co – Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menang telak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan raihan suara lebih dari 80%.

Menurut hasil hitung cepat Indikator Politik misalnya, di NTT, Jokowi-Ma’ruf meraih 83,10 %. Perhitungan lembaga-lembaga lain juga di sekitar angka itu.

Hitung cepat lembaga-lembaga survei terkonfirmasi juga dari data sementara perhitungan di situs resmi KPU. Hingga Rabu malam, 24 April 2019, Jokowi-Ma’ruf memperoleh 794.242 suara atau 88,44 % dari total suara yang masuk.

Rival mereka, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya memperoleh 103.808 suara atau 11,56 %.

BACA JUGA: Menang Mutlak di NTT, Jokowi Sampaikan Terima Kasih

Dibandingkan raihan suara pada pemilihan presiden tahun 2014 lalu, perolehan suara Jokowi kali ini lebih tinggi. Lima tahun lalu, berdasarkan rekapitulasi final KPU, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla menang dengan perolehan suara 65,92%.

Buah dari Perhatian Besar

Meningkatnya perolehan suara Jokowi ini tidak terlepas dari kinerjanya selama hampir lima tahun memimpin, demikian menurut para pengamat dan analis politik.

Dengan visi membangun ‘Indonesia dari Pinggiran’ Jokowi memang memberikan perhatian yang cukup besar terhadap NTT, yang dari sisi ekonomi masih tertinggal dibandingkan provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera.

Di awal pemerintahannya, Jokowi menetapkan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat sebagai salah satu dari 10 ‘Bali Baru’ di sektor pariwisata. Penetapan sebagai ‘Bali Baru’ ini diikuti pembenahan dari sisi infrastruktur.

Ferdy Hasiman, penulis dan pemerhati kebijakan publik berpendapat, apa yang dilakukan Jokowi telah menyentuh masalah mendasar pembangunan di NTT, di antaranya pembangunan infrastruktur darat, laut dan udara.

Salah satunya, kata dia, adalah pembangunan Bandara Komodo di Labuan Bajo, yang kini menjadi sangat menarik dan menyaingi bandara-bandara berkualitas lainnya di nusantara.

Jokowi, jelasnya, juga sudah membangun sejumlah bendungan untuk mengatasi problem kekeringan, dan sebagai dasar menuju swasembada pangan.

Setelah membangun bendung Rotiklot di Belu dan bendungan Raknamo di Kupang, kini pemerintah sedang membangun tiga bendungan lainnya di NTT yaitu Bendungan Napun Gete di Sikka, Temef di Timor Tengah Selatan dan Manikin di Kupang.

Pembangunan bendungan-bendungan itu, kata dia, merupakan realisasi dari keperihatinan Jokowi terhadap NTT yang memiliki potensi yang besar di sektor pertanian dan peternakan, tetapi kondisi kekeringan menjadi masalah utama.

Ia menambahkan, Jokowi juga telah banyak membangun jalan raya, termasuk di daerah perbatasan dengan Timor Leste.

Presiden Jokowi saat menyambangi kapal listrik di Pelabuhan Laut Bolok, Kupang Barat, Rabu, 28 Desember 2016. (Foto: Facebook Presiden Joko Widodo)

“Itu menunjukan bahwa Jokowi peduli dengan rakyat NTT meskipun secara politik tidak terlalu menguntungkan Jokowi, karena jumlah pemilih di NTT kecil dibandingkan di Jawa Barat, Jawa Timur dan daerah lainnya,” katanya.

Menurut Ferdy, pembangunan infrastruktur yang masif termasuk di NTT, dilakukan untuk mengurai ekonomi berbiaya tinggi sehingga pemerataan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa bisa tercipta.

“Saya optimis jika infrastrktur NTT bisa digenjot lagi 5 tahun ke depan, investasi di NTT mekar, terutama pariwisata. Investasi bisa menambah lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan rakyat NTT untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil,” ujar Ferdy.

Hal senada disampaikan Wempy Hadir, analis politik yang juga Direktur Eksekutif lembaga survei Indopoling Network.

Ia mengatakan kemenangan fantastis pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di NTT tidak terlepas dari kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Jokowi.

“Orang NTT memberikan dukungan kepada Jokowi-Maruf bukan karena emosi tetapi dilandasi oleh pertimbangan yang rasional berdasarkan rekam jejak dan keberhasilan Jokowi dalam memimpin,” kata Wempy.

“Inilah yang kita harapkan terhadap pemilih Indonesia secara umum, memilih bukan karena emosi tapi menggunakan nalar dan akal sehat,” tambahnya.

Pembangunan infrastruktur, kata Wempy, membuat masyarakat NTT merasa diperhatikan oleh pemerintah pusat.

Selain pembangunan infrastruktur, menurut Wempy daya tarik lain Jokowi di mata pemilih NTT adalah banyaknya program sosial melalui kementrian terkait.

“Melalui program tersebut, masyarakat NTT sangat merasakan kehadiran negara melalui pemerintahan Jokowi. Belum lagi progam KIP dan KIS serta BPJS yang dirasakan secara langsung manfaatnya oleh rakyat NTT,” ujar Wempy.

Ia juga melihat tingginya frekuensi kunjungan Jokowi ke NTT menjadi salah satu faktor pemicu.

“Mungkin dia presiden pertama yang frekuensi kedatangan ke NTT lebih dari 7 kali,” ujar pria kelahiran NTT ini.

Presiden Joko Widodo saat tiba di bandara Komodo, Labuan Bajo, Minggu, 27 Desember 2015. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Apa yang disampaikan Wempy dan Ferdy ini juga disadari oleh Gubernur NTT, Viktor Buntilu Laiskodat. Politisi Nasdem yang juga anggota koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf ini meyakini bahwa pihaknya tak memerlukan tim sukses untuk bisa menang karena masyarakat NTT sudah cinta dengan Jokowi.

“Semua orang NTT itu cinta Jokowi. Jadi bukan kami yang kerja. Kami ini hanya atur agar orang datang ke TPS,” katanya usai bertemu Jokowi di Istana Negara pada Senin, 22 April 2019.

Masih Banyak yang Perlu Dikerjakan

Bila hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei terkonfirmasi melalui perhitungan manual berjenjang yang dilakukan KPU, maka dipastikan Jokowi-Ma’ruf akan kembali memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Vonsi, seorang warga di Cibal Barat, Kabupaten Manggarai berharap perhatian Jokowi terus ditingkatkan ke NTT, bukan sebagai imbal hasil atas suara yang telah diberikan pada 17 April lalu, tetapi karena sesunggugnya masih banyak warga NTT di pelosok yang kesulitan akses infrastruktur seperti jalan, air dan listrik.

BACA JUGA: Pemilu Jurdil vs Mimpi “People Power”

“Jalan, listrik dan air masih jadi persoalan utama di wilayah kami,” ujarnya.

ARL/PTD/Floresa