P)erarakan saat misa Minggu Palma di Paroki Mbata, Keuskupan Ruteng-Flores, NTT. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Umat paroki Mbata Keuskupan Ruteng – Flores, NTT memilih cara unik untuk memeriahkan misa kudus Minggu Palma 14 April 2019.

Sambil menenteng daun palma, ratusan umat berarak dari tengah kampung Mbata menuju Gereja Paroki tersebut.

Sebelum perarakan, daun-daun palma itu diberkati ditengah kampung tersebut. Lagu-lagu rohani khusus dilantunkan dalam bahasa daerah Manggarai, dialek Manus, dengan gaya kelong.

Minggu palma merupakan minggu yang diperingati sebagai pembukaan sebelum memasuki pekan suci Perayaan Paskah.

Dilansir dari Wikipedia, perayaan ini merujuk pada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19.

Sementara, Kelong, dalam tradisi setempat merupakan cara mengajak orang untuk ikut serta dalam suatu acara, melalui syair-syair lagu.

Selain itu, kelong juga sebagai tanda bahwa tamu (pejabat/ orang-orang yang dihormati) sudah memasuki kampung, sehingga warga kampung diminta untuk bersiap-siap menerima tamu itu di tempat yang telah ditentukan.

“Dalam konteks perayaan Minggu Palma, kelong menjadi tanda penjemputan Yesus sang Raja Agung sebelum misa di Gereja,” kata Silvester Lumbang, salah satu umat paroki tersebut kepada Floresa.co.

Pantauan Floresa.co, misa perayaan Minggu Palma di gerja paroki Mbata, berlangsung khidmat.

Ratusan umat tampak antusias mengikuti perayaan itu.

Saat homili, pastor yang memimpin misa pada perayaan itu mengajak umat untuk meneladani cara hidup Yesus yang selalu melayani sesama.

Rosis Adir/Floresa