Ayam disembeli  di Mata Ni'i-mesbah tempat menaruh persembahan-di persawahan Munda. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Masyarakat Adat Suku Sikeng di Lembah Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT, masih merawat tradisi adat yang diwariskan leluhur mereka.

Salah satuntya ialah adak tado. Dalam bahasa setempat, adak artinya ritual dan tado berarti menanam padi di sawah. Jadi, adak tado berarti ritual adat menanam padi di sawah.

Dan, masyarakat adat yang mayoritas petani itu selalu memperktetkkan adak tado setiap tahunnya di samping ritual-ritual adat lainnya.

Menurut Vinsensius Joman, tokoh muda Suku Sikeng, ritual itu biasa mereka lakukan saat mulai menanam atau setelah bibit padi yang ditanam berusia satu atau dua bulan.

“Tergantung persiapan pemilik sawah,” katanya kepada Floresa.co, disela-sela ritual tersebut di lokasi persawahan Munda, Sabtu, 6 April 2019.

Dalam ritual itu, ayam menjadi hewan kurban-persembahan untuk embu agu embo (leluhur), watu agu tana (alam) dan Mori Kraeng (Tuhan).

Sebelum didoakan, semua orang yang hadir harus memegang ekor ayam yang menjadi hewan kurban itu, sebagai tanda persetujuan untuk melanjutkan ritual.

Setelah itu, tua adat mulai melakukan ker (doa) melalui ayam dan tuak, memohon berkah dari leluhur, alam dan Tuhan agar bibit padi yang ditanam bertumbuh sumbur, jauh dari serbuan penyakit, dan menghasilkan panenan melimpah.

Selain itu, tua adat juga mendoakan agar leluhur dan Tuhan memberikan kesehatan kepada pemilik sawah dan keluarga besar suku mereka.

Setelah didoakan, ayam itu kemudian disembeli di salah satu tempat persembahan yang disebut mata ni’i. Tempat itu ditandai dengan kayu teno yang ditancap sebelum ritual dimulai.

Kayu teno merupakan salah satu jenis kayu yang selalu dipakai untuk ditancapkan di mata ni’i.

“Ini sudah diwariskan oleh leluhur kami sejak dahulu kala,” jelas Yohanes Banis, tua adat yang memimpin ritual tersebut.

Setelah disembeli, sayap kanan ayam tersebut diselipkan pada kayu teno itu.

Hal tersebut, kata Vinsensius, sebagai tanda bahwa telah dilakukan ritual adak tado di sawah tersebut.

Setelah itu, ayam itu dibakar. Lalu, beberapa potong dagingnya diambil untuk dipanggang.

Daging yang dipanggang itu  dicampur dengan nasi, kemudian diletakkan di mata ni’i, untuk leluhur. Nasi dan daging untuk leluhur itu disebut nurung.

Dalam tradisi Suku Sikeng, sebagian dari nurung itu dimakan oleh salah satu perwakilan kaum pria.

Setelah perwakilan kaum pria memakan sebagian nurung itu, selanjutnya, semua yang hadir pada ritual tersebut, makan bersama di lokasi sawah itu.

Menurut Yohanes, keturunan Suku Sikeng selalu menjalankan semua tradisi adat yang diwariskan leluhur mereka.

Sebab, apabila mereka tidak melaksanakan itu, lanjutnya, pasti ada tanda-tanda seperti sakit, dalam keluarga mereka.

“Jadi, ritual-ritual adat seperti ini tidak bisa hilang dalam tradisi suku kami,” katanya.

Rosis Adir/Floresa