Wempi Hadir, Direktur Eksekutif Indopoling Network.

Jakarta, Floresa.co – Pernyataan kader Partai Hanura, Adrianus Garu yang menyebut lembaga survei “omong kosong” dianggap keliru oleh pengamat, di mana ia diminta sebaiknya melakukan konsolidasi demi meningkatkan elektabilitas partai.

Wempy Hadir, direktur eksekutif lembaga kajian dan survei Indopoling Netwok menyebut, survei adalah produk ilmiah yang dihasilkan melalui kerja metodologis, di mana hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

“Apa yang disampaikan oleh Pak Andre adalah sebuah pernyataan keliru,” kata Wempy kepada Floresa.co, Senin 8 April 2019.

Tudingan Andre dipicu oleh temuan lembaga survei yang menempatkan Hanura tidak melewati ambang batas parlemen 4 persen suara. Partai itu disinyalir gagal mengirim wakilnya ke Senayan karena diprediksi hanya bisa mengantongi 2,5 persen suara.

“Saya bilang, lembaga survei itu omong kosong. Itu hanya penipuan publik,” kata Andre kepada para wartawan usai menggelar konsolidasi partai di Borong, Kabupaten Manggarai Timur pada Kamis, 4 April.

Caleg Partai Hanura dari daerah pemilihan NTT 1 itu pun mengklaim mengakui keakuratan hasil survei, hanya apabila survei dilakukan terhadap 178 juta pemilih, sesuai dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan KPU.

Wempy menjelaskan, cara terbaik untuk menyanggah hasil survei adalah dengan melakukan survei pembanding, yang menggunakan metodologi yang sama serta dengan kontrol yang ketat.

“Dengan demikian, kita bisa melihat, apakah ada disparitas yang melampaui margin of error antara satu survei dengan survei yang lain,” katanya.

BACA JUGA: Elektabilitas Hanura Turun, Kader: Lembaga Survei “Omong Kosong”

“Pengalaman kami, apapun lembaganya, jika menggunalan metodologi yang sama serta quality control yang ketat, maka hasil surveinya tetap sama. Kalaupun ada selisih, biasanya dalam selang margin of error,” jelasnya.

Wempy menduga, pernyataan Andre bisa saja karena beberapa lembaga survei menampilkan hasil jomplang dengan lembaga-lembaga survei lain.
Namun, kata Wempy, tetap saja hasil survei merupakan potret kondisi riil di lapangan, sehingga terkadang tidak memuaskan semua pihak.

“Kalau kondisi lapangannya bagus, maka tentu akan ditampilkan apa adanya. Demikianpun ketika hasil lapangan buruk, maka ditampilkan apa adanya,” ujarnya.

Hanura Lebih Baik Lakukan Konsolidasi

Wempy mengusulkan, ketimbang menuding lembaga survei omong kosong, seharusnya Partai Hanura melakukan konsolidasi terstruktrur sehingga bisa melewati ambang batas parlemen.

“Bagi partai yang konsolidasi politiknya bagus maka akan terkonfirmasi melalui elektabilitas partainya yang bagus, demikian pun sebaliknya,” ujarnya.

Wempy menegaskan, survei merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang mesti diapresiasi.

“Misalnya saja penduduk Indonesia sekitar 250-an juta, tapi dengan sample 1.200 kita bisa mengetahui persepsi mereka terkait banyak hal baik politik, ekonomi, sosial, keamanan dan lain-lain,” pungkasnya.

ARJ/Floresa