Umat di Paroki Rejeng, yang masuk wilayah Keuskupan Ruteng sedang berdoa di hadapan relikui Santo Kamilus de Lellis, yang dikenal sebagai pelindung orang sakit pada Senin, 8 April 2019. Di paroki ini, Romo Cyrelus Suparman Andi MI melakukan pengusiran setan yang merasuki seorang perempuan. (Foto: Romo Cyrelus Suparman Andi MI)

KFloresa.coRomo Cyrelus Suparman Andi MI membagikan kisah saat ia bersama beberapa rekan pastornya mengusir iblis yang merasuki seorang perempuan di Manggarai.

Kisah yang berlangsung dramatis itu terjadi bertepatan saat pentahtahan relikui jantung Santo Kamilus de Lellis, pelindung orang sakit dan petugas kesehatan di Paroki Rejeng, yang masuk wilayah Keuskupan Ruteng pada Senin, 8 April 2019.

Relikui itu sedang berada di Manggarai dan mengunjungi sejumlah paroki, setelah sebelumnya diberangkatkan dari Filipina pekan lalu.

Ada kejadian tak lazim saat relikui itu hadir di Paroki Rejeng pada Senin. Usai Misa dan liturgi pengurapan orang sakit, seorang ibu muda mengalami kesurupan dan meminta agar disirami air berkat, supaya iblis dalam tubuh dan jiwanya keluar.

Romo Andi MI, imam kelahiran Manggarai yang juga rektor Seminari Santo Kamilus di Maumere membagikan kisah itu di akun Facebook-nya. Berikut kisah lengkapnya yang dikutip Floresa.co, Selasa, 9 April terkait kejadian itu:

________________________________________

Hari ini, menjadi hari yang berbeda bagi ziarah jantung St. Kamilus di Indonesia. Tadi pagi (Senin, 8 April), relikui jantung St. Kamilus berada di Gereja Paroki Rejeng.

Pada waktu Misa dan liturgi pengurapan orang sakit, semua berjalan lancar. Ketika Misa usai, kami para imam sudah pulang ke sakristi dan pastoran. Sedangkan umat tetap dalam gereja, lanjut dengan devosi pribadi di hadapan relikui. Para frater menjaga relikui dan proses venerasi agar berjalan lancar.

Sementara saya istirahat sambil minum air di pastoran, seorang frater memanggil saya. Katanya, ada umat yang kesurupan dan minta Romo Andi untuk mendoakannya.

Tanpa bertanya banyak, saya pun ikuti frater itu menuju ke dalam gereja. Saya lalu diantar ke seorang ibu muda yang duduk di hadapan relikui. Di sana, dia ditemani suaminya.

Ketika saya tiba, saya tanya ibu itu, “Ibu kenapa?” 

Dia bilang, “Saya merasa ketakutan.” 

“Ibu merasa apa?” tanyaku lagi. 

“Aku merasa lambungku perih, kemudian saya merasa ketakutan” katanya. Lalu suaminya meminta, “Tolong pater, doakan istri saya.”

Untuk mencari tempat yang aman, saya memintanya untuk berdoa di sakristi. Saya membawa air berkat dan minyak pengurapan. Saya menyuruhnya duduk, lalu kami mulai berdoa.

Di saat saya mulai berdoa, dia mulai bergerak aneh dan mengeluh seperti kesakitan. Saya melanjutkan doa saya dan menumpangkan tangan di kepalanya. Kemudian, dia menggerakan tubuh dan kepalanya terus menerus, sambil mengeluarkan suara merintih seperti kesakitan.

Suaminya membantu memegang dia kuat-kuat agar tidak jatuh, sambil saya menumpangkan tangan di kepalanya dan berdoa dengan suara kecil untuk memohon pertolongan dan berkat Tuhan.

Ketika saya melihat wajahnya dan menatap matanya, saya merasa bahwa dia tidak sadar. Dia seperti bukan dirinya sendiri. Saya mulai curiga, jangan sampai ada yang tidak beres dengan dia.

Lalu, saya menanyakan namanya, “Siapa namamu?”

Saya jadi kaget ketika dia menjawab, “Saya tidak tahu namaku”. Semakin yakinlah saya bahwa dia kerasukan setan. Setiap kali saya tanya, dia bilang tidak tau.

Kemudian saya mengancam dia, “Kalau kamu tidak jawab saya, saya akan ikat kamu dan bakar dengan api di dalam gereja”.

Kemudian saya tanya lagi, siapa dia. Tetapi dia tidak menjawab siapa namanya.

Dia bilang, “Saya malu. Ada orang banyak di sini”.

Mendengar suara saya agak tinggi dan suara raungannya, banyak umat masuk sakristi. Saya menjadi agak terganggu karena orang semakin banyak dan mencoba berdesakan melihat dia.

Tapi, saya berusaha untuk fokus dan menguasai dia. Lalu, saya tanya terus siapa dia, dari mana dia berasal, usianya berapa. Karena saya desak terus dan mengancam untuk ikat dan bakar dia, lalu dia menjawab saya.

Dia mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah kampung, rumahnya di dekat gerbang, usianya 67 tahun, perempuan tua dan dia masuk ke anak ini karena anak ini baik. Bahkan, dia mengakui jika dia ingin masuk ke kandungannya karena dia ingin makan anak dari ibu muda itu supaya dia tidak bisa mengandung lagi. Dia juga mengakui bahwa dia sudah makan banyak orang di kampung itu tapi tidak tahu berapa banyaknya.

Ketika saya desak bertanya, mengapa dia masuk ke dalam diri ibu itu, dia menjawab “Saya mau antar dia cepat masuk surga.”

Di situlah saya marah dan mengancam bahwa dia tidak punya hak untuk mencabut nyawa ibu muda itu, kecuali Tuhan.

Kemudian, dia semakin menggelepar dan meliuk-liukkan badannya sambil berteriak-teriak. Lalu saya bilang dengan suara lantang, “Dalam nama Tuhan, diam kau setan!!”

Dan dia langsung diam dan tenang. Semua orang kaget ketika dia tiba-tiba diam. Tak lama kemudian dia semakin menjadi-jadi gerakanya, tapi beberapa orang memegangnya dengan kuat.

Kemudian saya bertanya, “Lalu bagaimana caranya supaya kamu keluar dari ibu ini?”

Dia menjawab, “Kamu bisa siram air berkat itu di dahi, perut dan kaki saya. Dan sebagiannya diminum, karena saya takut dengan air itu”.

Kemudian, dia juga menyuruh untuk ambil daun dan akar bunga yang menjalar di Gua Maria pastoran. Ketika saya tanya, “kenapa daun itu?” Dia menjawab, “karena tumbuhan itu sudah diberkati.”

Dia mengajarkan untuk menggosok daun dan akarnya yang sudah diremukan, lalu digosok atau dioles di sekujur tubuhnya, supaya dia bisa keluar.

Setelah beberapa waktu dalam ketegangan, kami tiga imam memakai stola lalu menumpangkan tangan dan memerintahkan, “Dalam nama Allah Tritunggal Maha Kudus, Bapa Putra dan Roh Kudus, Keluarlah engkau Setan”.

Kemudian dia menjerit dua kali, dan tiba-tiba diam.

Ibu muda itu lalu mengangkat mukanya. Saya tanya lagi, “Siapa namamu?”

Dia berhasil menjawab namanya sendiri.

Barulah kami tahu bahwa dia sudah siuman. Dia kemudian mengenal kami, suaminya dan beberapa orang yang berkumpul keliling di situ.

Dia menyampaikan terima kasih kepada kami dan mohon agar tetap mendoakannya. Dia menjadi segar sekali dan tidak takut; wajahnya cerah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Dari pengalaman itu, saya semakin yakin bahwa St. Kamilus benar-benar hadir di sini bersama jantungnya dan setan pun takut dengannya. Air berkat yang telah diberkati pastor adalah air suci yang telah diberkati Tuhan.

Pengalaman ini menjadi saksi bahwa setan takut dan tidak berdaya di depan Tuhan melalui air suci itu.

Semoga kita yang lain pun dilindungi Tuhan selalu. Semoga dengan doa-doa St. Kamilus, Tuhan memberikan kita kesehatan dan perlindungan dari yang jahat. Amin.

Rosis Adir/Floresa