Oleh: IWAN JEMADI, alumnus STF Driyarkara, Jakarta

Bolehkan kita membayangkan (dan mengharapkan) sebuah media yang sungguh netral ketika pemilu tiba? Sebuah jurnalisme yang sungguh berikhtiar menceritakan kebenaran, menghadirkan realitas yang membantu khalayak untuk berpikir kritis sebelum akhirnya memilih. Ataukah memang hal itu menjadi sesuatu yang muskil seperti pekerjaan menjaring angin? 

Mario Vargas Llosa punya cerita dalam karyanya, Cinco Esquinas atau Lima Sudut. 

Kisah yang ditulis Mario Vargas terjadi pada masa pemerintahan Presiden Alberto Fujimori, yang merupakan lawan politiknya pada pemilu Peru tahun 1990.  Fujimori mengalahkan Vargas dalam pemilu yang dilakukan secara demokratis. Tuan Presiden kemudian berkuasa dalam kurun waktu sepuluh tahun setelah kembali terpilih pada pemilu berikutnya. 

Pemerintahan Fujimori dituduh otoriter dan korup. Peru pada waktu itu penuh gejolak, juga dengan ragam ancaman yang datang dari sayap pemberontak. Dalam konteks itu, Vargas menulis Lima Sudut, sebuah kritik sosial atas demokrasi yang berjalan pincang. Boleh jadi juga, Lima Sudut merupakan sebuah pembalasan yang kreatif atas kekalahannya dalam pemilihan umum. 

[Andaikan demikian para politikus yang kalah dalam pemilu menuntaskan dendam dan kecewa pada lawan politik, akan makin kaya dunia sastra kita. Namun, yang diproduksi dalam setiap kekalahan justru lebih sering berupa alibi dan caci maki].

Dalam Lima Sudut, Vargasmenampilkan tiga pihak yang mengambil peranan penting dalam menjalankan negara, yakni pemerintah, media, dan kaum elit. Rakyat, sebagai unsur penting dari suatu demokrasi justru minim dibincangkan. [Atau barangkali kaum elit itulah yang diperhitungkan sebagai rakyat!] 

Dalam cerita Vargas, pihak pemerintah diwakili oleh Presiden Fujimori dan secara khusus orang kepercayaannya, El Doctor. Media diwakili oleh tabloid Destapes, sedangkan dua kawan pengacara ternama dan pengusaha tambang kaya menjadi representasi kaum elit.

Relasi ketiganya kira-kira dapat dirumuskan dalam dua dalil. Pertama, media harus selalu memberitakan apa yang menguntungkan pemerintah dan melumpuhkan pihak yang menentang kekuasaan. Dari kesetiaan pada dalil pertama ini, media bertahan hidup dan mendapat ‘makan’. 

Kedua, media tidak boleh mengganggu kaum elit karena mereka memiliki kekuatan yang dapat membahayakan pemerintah (dan pada gilirannya mengancam isi ‘perut’ media sendiri). Relasi ketiganya dapat berjalan aman dan menguntungkan manakala dua dalil ini dipatuhi.

Sebaliknya, konflik muncul ketika salah satu dari dua dalil ini diabaikan. Namun, justru itulah yang kemudian terjadi dalam Lima Sudut! Media tak mematuhi keinginan penguasa dan memilih mengganggu kenyamanan kaum elit.

Suatu ketika, tabloid yang diterbitkan setiap pekan itu menurunkan edisi khusus yang membongkar skandal seks kaum elit. Hal itu membawa konsekuensi serius: Rolando Garro, sang pemimpin redaksi dibunuh.

Kerja jurnalisme Destapes memang tak sepenuhnya jujur. Upaya membongkar skandal seks kaum elit tak memiliki pretensi apa-apa pada kebaikan publik, ataupun kebenaran. Kerja jurnalisme itu sepenuhnya untuk mengisi ‘perut’ media itu sendiri. Media tampaknya kenyang, juga di hadapan kenyataan masyarakat yang begitu suka dengan gosip-gosip seputar selangkangan orang-orang terkenal. 

Cerita Lima Sudut tak berakhir sampan di situ.

Destapes dalam cerita Vargas merupakan sebuah tabloid yang secara khusus berdedikasi pada skandal-skandal selebritis dan orang-orang terkenal. Oplah penjualannya ini tidaklah istimewa. Keberadaan El Doctor–kepala intelijen dan orang kepercayaan Fujimori — di belakang Destapes membuatnya bertahan. Sesekali dana media ini disokong dari uang saku Rolando, upah yang diterimanya dari memeras para selebritis. Di tangan media seperti Destapes, kata-kata jadi sumber uang dan alat pemerasan.

Suatu hari, setelah kematian Rolando, mingguan itu akhirnya menurunkan satu edisi khusus yang berikhtiar untuk mengkritik rezim. Di bawah pemerintahan Presiden Fujimori, Peru menyimpan banyak gejolak, kejahatan, korup yang luput disuarakan media. Mereka diberangus atau mungkin takut! Batas antara takut dan taat menjadi kabur. Hingga akhirnya Destapes menerbitkan satu edisi khusus yang memuat niat tunggal, menceritakan kebenaran. Artinya, mengkritik (bila mungkin menjatuhkan) pemerintah! 

Mengungkapkan kebenaran memang sebuah upaya penuh risiko. Ada banyak hal yang dipertaruhkan. “Dengan mengungkapkan kejahatan El Doctor dan Presiden Fujimori, kami mempertaruhkan tidak hanya pekerjaan kami, pendapatan kami, tetapi juga nyawa dan keselamatan keluarga kami,” tulis Julieta Leguizamon, direktur Destapes yang baru, pada catatan editorial. Keberanian yang lebih dari segala macam ketakutan adalah keutamaan yang patut diapresiasi dan diharapkan dari suatu kerja jurnalisme. 

Destapes barangkali bukanlah media yang luput dari cela. “Kami memang bukan media yang sepenuhnya sempurna,” tulisnya lagi dalam kolom yang sama. Namun, ketidaksempurnaan itu pada akhirnya tidak membuat mereka terus setia berada di bawah ketiak kekuasaan, tetapi memilih langit dan bumi sendiri untuk jadi pijakan. Barangkali itulah akhirnya yang selalu diharapkan dari sebuah media, suatu sikap penuh independensi.  Bahwa kata-kata boleh jadi senjata dan sumber uang, tapi juga harus selalu memihak pada kebenaran dan kebaikan bersama.

Di akhir kisah Lima Sudut, Destapes tidak lagi menjadi media gosip, yang mana seluruh isi pemberitaannya merupakan agenda yang ditentukan El Doctor, untuk menentang mereka yang menantang Peru (atau lebih persis dikatakan penantang kekuasaan Fujimori). Pada akhirnya, apa yang diharapkan oleh Denis McQuil dari sebuah media dipenuhi oleh Destapes di akhir cerita. Bahwa media ketika diatur dengan cara yang layak, khususnya ketika terbuka dan bebas, dapat dianggap sebagai institusi perantara paling penting dalam masyarakat demokratis.

Sebetulnya kita pun membutuhkan kerja media yang serupa, khususnya ketika pemilu tiba. Kita mengharapkan media yang tidak saja mahir membiakkan gosip, tetapi sungguh mengikhtiarkan kebenaran yang tidak sebatas slogan atau tagline belaka. Kita membutuhkan media yang lebih sering berbicara tentang substansi dan fakta, tanpa terjebak pada sensasi menyebarkan kebohongan demi memuaskan khalayak dan memenangkan rating. 

Memang, seperti juga diakui oleh pemimpin redaksi Destapes dalam cerita Vargas, kerja jurnalisme tak pernah benar-benar bebas jika masih menghamba pada uang. “Kami semua ingin hidup…Tanpa bantuan keuangan dari Fujimori, akan banyak media massa seperti Destapes akan gulung tikar karena tidak memiliki pemasukan cukup…” tulis Direktur Destapes. 

Pada bagian lain ia menulis bagaimana perut kosong sebetulnya sangat menentukan dan memengaruhi kerja jurnalisme. “Kami melakukan itu demi sesuap nasi, demi melanjutkan hidup…” Kebebasan pers tampaknya tidak hanya bergantung pada sebuah rezim tetapi juga bergantung pada isi perut.  

Nabi yang diharapkan bisa menyuarakan kebenaran, berakhir jadi sekadar bunyi, susunan huruf yang mati di tangan jurnalisme. Etika jatuh pada sebuah sikap utilitarian dan pragmatis belaka! Membayangkan media yang netral di sebuah masa kampanye, akhirnya jadi sebuah lamunan belaka. Seperti punduk yang mendamba bulan.