Iyel Amut

Oleh: IYEL AMUT, Siswa SMA Seminari Pius XII Kisol

Awal Kata

Joko Pinurbo atau Jokpin merupakan salah satu penulis unik dan berpengaruh dalam sastra modern Indonesia. Sejatinya ia tampil sebagai seorang penyair highclass serentak merupakan pribadi yang reflektif. Karya-karyanya menyodorkan untaian-untaian kata yang merangsang daya imajinasi dan refleksi kehidupan. Ada daya magis-spiritual di dalamnya. Ini merupakan keistimewaan penulis kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 11 Mei 1962.

Sebuah mahakarya berharga dalam konteks reflektif Jokpin tampak dalam puisi Koran Pagi[1], buah refleksi yang dibuat pada tahun 2003. Ini merupakan kisah pendek tentang tema yang sangat aktual. Layak diapresiasi tentunya. Namun yang dicari adalah amanah dari setiap guratan pena yang diabadikannya dalam puIsi ini. Untaian kata-katanya mendobrak persepsi kita. Membuat pembaca menemukan kesegaran batin.

Membaca puisi ini adalah membaca realitas. Tema yang diangkat Jokpin merupakan tema aktual saat ini, yakni tentang literasi. Di tengah gempuran arus informasi dan tuntutan untuk selalu update, manusia kehilangan momentum untuk berefleksi guna menyelami realitas dan amanah dari setiap fenomena-fenomena. Media sosial selalu punya pengaruh luar biasa pada pembentukan informasi dan persepsi-persepsi kita. Media sosial adalah media unjuk diri, pamer pamor, membikin rumor atau juga bisa jadi penebar teror. Di sisi lain, dunia tulis-menulis semakin terpinggirkan, kita (Kaum muda) lebih suka pada daya pikat dunia maya, sehingga terkadang kita tidak menyadari kalau sesuatu yang fakta lebih aneh dari sesuatu yang fiktif.

Literasi Mudah

Masa muda merupakan gerbang emas menuju masa depan. Menjalani masa muda harus sadar diri, sehingga hidup akan lebih bermakna. Generasi muda adalah penerus untuk masa depan. Oleh karena itu, kaum muda harus dipersiapkan, mengembangkan diri dan bereksperesi positif. Melewati masa muda tanpa adanya kesadaran untuk jadi berguna tentu saja sangat memalukan. Apa jadinya nanti di masa depan?

Gerakan literasi yang mudah adalah literasi kaum muda. Mengapa kaum muda? Diskursus tentang ‘kaum muda menulis’ merupakan pengkhususan dari tujuan pembentukan dan penemuan karakter diri dan bangsa. Namun apa jadinya, ketika menulis itu dijadikan sebuah profesi. Profesi penulis. Kaum muda mulai berpikir dua kali untuk menulis. ‘Banyak profesi lain kok, yang lebih asyik, santai, enak’. Sebuah prinsip yang telah mendarah daging dalam kaum muda atau yang lebih senang dipanggil kids jaman now. Kita tidak suka pekerjaan seperti orang “gila”, mengejar atau dikejar deadline. Menulis semakin mengerikan. Kaum muda pun beralih suka. Kita ini generasi suka gonta-ganti. Itu, tentu saja, sebatas ide dan pemikiran. Sangatlah susah untuk meluruskan kaum muda yang telah terobsesi oleh daya pikat media sosial. Manusia bukan benda mati, seperti besi yang mudah dibengkokkan lalu diluruskan kembali.

Persepsi kita tentang sebuah profesi sangatlah dangkal. Profesi itu tentunya yang mampu mendulang rupiah atau membuat dompet kencang. Profesi sebagai penulis dilihat sebagai aktivitas minim rupiah. Tentunya, itu merupakan gambaran dari dangkalnya pikiran kita tentang menulis. Sesungguhya, menulis tampil sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah kehidupan. Kita boleh pandai sedalam samudra dan seluas lautan atau menembus cakrawala, tetapi hanya sedikit karya yang bermanfaat dan mengalir dalam kehidupan manusia apabila seni menulis tidak diminati dan dibuat menjadi sebuah kenyataan.

Selengkapnya artikel ini bisa dibaca di FloresMuda.com http://floresmuda.com/2019/03/26/belajar-menulis-dari-koran-pagi/