Warga Culu, Desa Tondong Belang, Mabar tengah menggotong jenazah korban longosor ke pemakaman pada Minggu, 10 Maret 2019.

Floresa.co – Kawasan Mbeliling di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang biasa dikenal indah dan mempesona, sepekan terakhir semenjak hari Raya Nyepi hanya meninggalkan kisah sedih nan pilu.

Aktivitas di Kawasan Mbeliling yang diliputi oleh hutan seluas 235 km persegi (hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi) dan telah menjadi lahan subur pertanian bagi penduduk di 27 desa di sekitarnya terhenti sejenak.

Tidak ada pula hiruk pikuk aktivitas wisata yang biasa mendatangi kawasan yang berjarak 20-30 km dari kota Labuan Bajo ini.

Saban tahun panorama kota Labuan Bajo dan pulau-pulau di sekitarnya tampak indah dan selalu memikat wisatawan apalagi di kala mata hari tenggelam dari kawasan yang berketinggian sekitar 600-1300 meter di atas permukaan air laut ini.

Di kala keheningan Nyepi sudah usai setelah satu hari, Mbeliling tetap senyap entah untuk berapa hari lagi. Tak ada ingar bingar wisata di pusat wisata alam seperti air terjun di Cunca Wulang, Cunca Rami, dan di desa Liang Ndara serta berbagai jenis burung di hutan konservasi seluas 40-an hektar dan sanggar budaya di Cecer.

Ruas jalan Trans-Flores yang biasa memanjakan mata dengan aneka buah-buahan sekejab meninggalkan lapak-lapak kosong serasa tak bertuan.

Pekan Kelabu

Kawasan Mbeliling sejenak menjadi kelabu sejak tanggal 6 Malam hingga 7 Maret lalu. Hujan disertai angin kencang turun deras sepanjang malam hingga keesokan harinya kendati semua orang berpikir bahwa musim hujan sudah hampir usai. Hari Raya Nyepi kendati senyap namun diwarnai hiruk pikuk dan air mata.

Di kawasan Mbeliling, hujan telah menyebabkan longsor dan jalan trans Flores putus total. Jalur yang menjadi nyawa aktivitas perekonomian dan mobilitas di Flores itu rusak total di sekitar 8 titik. Material longsor memenuhi badan jalan dan aspak jalan amblas. Tragisnya, 8 orang yang tinggal dalam rumah yang menjadikan rumah berlindung dari hujan lebat malam itu, tergerus dan tertimbun longsor pada pagi harinya.

Sementara, sungai wae Mese yang berhulu di kawasan Mbeliling meluap dan menggenangi hamparan dataran rendah sekitar Labuan Bajo. Sawah-sawah yang nyaris panen hanya menghitung minggu teredam air di Nggorang, Merombok, dan Satar Walang. Hilir sungai wae Mese meluber dan menggenangi rumah-rumah warga di Gorontalo, Nanga Nae dan sekitarnya.

BACA JUGA: Bertolak dari Bencana: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pada hari itu, kabar menyedihkan itu senyap bersamaan dengan matinya sinyal Telkomsel hampir selama dua hari. Di tengah keterbatasan sinyal koordinasi itu, Pemda, polisi, tentara, dan komunitas orang muda bahu-membahu menolong korban bencana. Sekitar 200 keluarga berhasil diungsikan ke Polres Mabar, lalu dipindahkan ke Kantor Bupati Mabar.

Sehari setelahnya, kegamangan masih menyelimuti kota yang biasa sibuk dengan aktivitas wisata tersebut. Sinyal telkomsel masih mati. Jalan trans-Flores putus. Pasokan BBM terhenti. Kendati jalan alternatif melalui Manggarai Barat Daya rusak, sempit, dan berbahaya, beberapa orang terpaksa melewati jalur tersebut untuk tiba di Ruteng. Perjalanan tersebut sangat lama yakni lebih dari 7 jam.

Tanpa komando, berbagai komunitas mulai bergerak bersama secara spontan dalam nada solidaritas. Di antaranya, pada malam minggu, 9 Maret 2019, mereka menggelar acara pentas seni di Kampung Ujung untuk menarik donasi dari berbagai pengunjung di pusat kuliner yang dipenuhi wisatawan tersebut. Malam itu, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 10 juta dalam dua jam konser.

Pada hari Minggu, 10 Maret 2019, berbagai komunitas dan relawan beramai-ramai ke lokasi ke bencana. Mereka menyerahkan sumbangan dan bantuan kepada korban bencana terutama di Culu.

Di lokasi, tampak jalan masih putus total. Lalu lintas flores terpaksa memakai sistem “oto-sambung”. Kendati masih berlumpur dan licin, para penumpang rela menempuh jalan kaki yang berjarak sekitar 5 kiloometer. Beberapa di antaranya tampak ngos-ngosan setelah jalan kaki yang panjang dan melelahkan itu. Lalu mereka naik mobil yang lain.

Sementara itu, pada sore harinya pada H+3 itu, sebuah eksavator bergerak perlahan-lahan melewati jembatan Wae Mese. Ini adalah eksavator pertama yang masuk ke lokasi longsor semenjak bencana. Ketika banjir, salah satu ujung jalan di ujung jembatan hampir amblash. Akibatnya, pemindahan eksavator hari itu membutuhkan waktu berjam-jam.

Sore itu pula, empat korban yang tertimbun longsor ditemukan. Mereka segera dikuburkan. Saat itulah terjadi hujan deras, dan warga berhamburan lari dan mengamanakan diri. Mereka masih trauma dan khawatir dengan bencana susulan.

Pada hari-hari selanjutnya hingga sepekan usai bencana, krisis BBM mulai terasa di sekitar Labuan Bajo. selama ini, jalur trans-Floreslah yang menjadi tumpuan bagi lalu lintas BBM yang datang dari dermaga Reo, melewati Ruteng, dan selanjutnya ke Labuan Bajo selama ini dalam 6-7 jam perjalanan.

Pentingnya minyak kian dirasakan di kota wisata terkemuka di Flores itu. Antrean mobil mengular hingga berkilo-kilometer di dua pom bensin yakni Sernaru dan Wae Mata menanti pasokan BBM dari Sape.

Sementara harga bensin eceran sungguh mencekik. Dari biasanya hanya 15 per botol ukuran 1,5 liter menjadi 30-50 ribu. Dalam beberapa hari itu, sejenak lalu Lalang kendaraan sepi di jalanan, apalagi pada malam hari.

Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang bapak di Wae Mese berujar, “semua terjadi seperti mimpi. Kami bangun dan semua ternak kami sudah menghilang bersama kandang.”

Floresa