Paul Serak Baut. (Foto: FB Paul S Baut).

Floresa.co – Paul Serak Baut, sosok yang dikenal sebagai politisi di level nasional menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin, 18 Maret 2019 di Jakarta.

Ucapan belasungkawa dan doa datang dari banyak pihak terutama keluarga serta sahabat dan kenalan, mengiringi kepergiannya. 

Politisi Partai PDI Perjuangan ini pernah menjadi anggota DPR RI pada periode 1999-2004 dari daerah pemilihan Papua.

Selain berkiprah di level nasional, Paul juga pernah ikut dalam perebutan kursi bupati dan wakil bupati Manggarai Barat (Mabar).

Pada Pilkada Mabar 2015 lalu, ia maju sebagai calon wakil bupati, berpasangan dengan Mateus Hamsi, mantan Ketua DPRD Mabar.

Sebelumnya, pada Pilkada Mabar tahun 2010, ia bertarung sebagai calon bupati.

Paul lahir di Lempa – Orong, Lembor pada 28 April 1954 dari pasangan Bapak Blasius Baut dan Ibu Adelheid Djenai.

Ia tercatat sebagai salah satu alumnus Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur. 

Setelah tamat dari sekolah pendidikan calon imam tersebut, ia sempat bergabung dengan Ordo Fransiskan, namun kemudian memilih jalur hidup lain.

Paul menyelesaikan studi sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara Jakarta, lalu S2 dan S3 Ilmu Pemerintahan di Universitas Satyagama Jakarta. Ia juga pernah mengenyam studi sastra di Universitas Indonesia dan studi hukum di Universitas Cenderawasih, Jayapura.

Rekam jejak Paul tidak hanya di dunia politik. Ia juga meniti jalan hidup dengan menjadi aktivis. 

Ia pernah bergabung bersama Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), di mana ia pernah mewakili organisasi tersebut dalam salah satu seminar di Cebu City, Filipina pada 1982.

Paul juga lama bergabung di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Di lembaga itu, ia bekerja bersama Bambang Widjayanto, yang pernah menjadi Wakil Ketua KPK.

Sementara di dunia akademis, ia pernah menjadi dosen di Universitas Atmajaya Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Jakarta, STF Driyakara dan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur – Jayapura.

Pada 2012, ia juga pernah ikut dalam seleksi komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Komarudin Watubun, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bidang Kehormatan PDI Perjuangan menyebut Paul sebagai guru di bidang politik.

“Saya merasa kehilangan sosok yang telah banyak mengajar kami cara berpolitik dengan menjunjung etika dan moral. Dia kami anggap sebagai guru, kakak dan sahabat,” ungkapnya.

Pada zaman reformasi, kata dia, Paul menularkan semangat demokrasi kepada anak muda untuk  berani mengungkapkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat.

Paul, demikian menurut Komarudin, sangat patuh dan taat menghayati nilai-nilai Fransiskan, karena pengalamannya bergabung dengan ordo religius itu.

Dan, menurut Komarudin, nilai-nilai yang dihayatinya itu harus dicontohkan oleh politisi muda.

Paul disebut sangat menghayati kesederhanan dan berkomitmen memperjuangkan nasib masyarakat kecil.

“Dia selalu membela yang kecil dan lemah. Semangat dan idealismenya luar biasa,” ujar Komarudin.

ARJ/Floresa