Valeriu Darman, pedagang sayur yang dianiaya oleh Pol PP Kabupaten, Manggarai Timur. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa – Kasus penganiayaan terhadap pedagang sayur di Pasar Borong, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur (Matim) oleh oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) kabupaten itu dikabarkan akan diselesaikan secara kekeluargaan.

Hal itu disampaikan oleh AKP Vigantara Sjarifudin, Kapolsek Borong, saat dikonfirmasi Floresa.co, Selasa siang, 12 Maret 2019.

Oknum Pol PP itu menganiaya pedagang sayur itu saat tengah menjajalkan dagangannya di jalan raya sebelah barat UPT Puskesmas Borong pada Senin, sore sekitar pukul 17.00 Wita.

Menurut Vigantara, kesepakatan untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan terjadi usai pada Senin malam, 11 Maret, sekelompok pedagang sayur dari Pasar Borong yang dipimpin Hilarius Jodi (48) mendatangi Polsek Borong untuk mengadukan oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja itu.

Lalu, pada Senin malam pukul 22.20 Wita, tiga orang perwakilan Satuan Pol PP, yakni Titus Moi Sau, Benediktus A. Moa dan Kanisius Tantu, mendatangi Polsek Borong untuk bertemu para pedagang yang menjadi korban kekerasan oleh Oknum anggota Pol-PP itu.

Hasilnya, kedua pihak bersepakat menyelesaikannya secara kekeluargaan.

“Rencananya akan dimediasi langsung oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, pada hari Selasa, 12 Maret 2019 di Kantor Bupati Manggarai Timur,” tutupnya.

Sebelumnya, pada Senin sore, Valerius Darman, pedagang sayur yang menjadi korban kekerasan oknum Pol-PP itu, kepada Floresa.co mengatakan, ia dianiya ketika sedang beristirahat dipinggir jalan sebelah barat Puskesmas Borong.

Menurutnya, ia beristirahat di tempat itu karena kelelahan setelah sepanjang hari keliling mendorong gerobak sayur dagangannya.

“Tiba-tiba Pol-PP datang langsung angkat kami punya gerobak. Bahkan, sayurnya ditumpahkan,”

Seletah itu, lanjutnya, ia dan beberapa temannya ditendang dan dipukul dibagian dada oleh oknum tersebut.

Sementara itu, Siprianus Jandut, ayah Valerius, mengaku memilih untuk menjual keliling menggunakan gerobak. Sebab, lapak tempat penjualan sayur yang dibangun pemerintah di pasar Borong, yang ia tempati, sepi pembeli.

“Saya selalu tekor. Makanya saya keluar dari situ dan memilih untuk menjual di tempat dimana banyak orang jual di situ,” kata pedagang sayur yang mengaku sudah 17 tahun menjual di pasar Borong itu.

Ia berharap, pemerintah kabupaten itu untuk memperbaiki sistem di pasar tersebut, agar tidak ada pedagang yang dirugikan.

Rosis Adir/Floresa