Ilustrasi

Oleh: FLAVIANUS RIANTIARNO, staf pengajar STIKes Maranatha Kupang, sedang studi Magister Keperawatan di Universitas Brawijaya Malang

Tentu masih melekat dalam ingatan banyak orang peristiwa rencana aksi bunuh diri seorang wanita di Jembatan Wae Garit, Kabupaten Manggarai pada Januari 2019 lalu. Baru-baru ini, publik kembali dikagetkan dengan kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pemuda di Kuwu, Cibal dan seorang kakek di Satar Mese yang memilih menggorok lehernya sendiri.

Ini merupakan kejadian kesekian kalinya di tanah Nuca Lale. Pada 2017, seorang siswi SMP membakar dirinya. Lalu, ada sekitar dua kejadian pada tahun 2018. 

Terulangnya kejadian bunuh diri perlu menjadi perhatian berbagai pihak. 

Berdasarkan data, bunuh diri menyumbang 1,4% dari semua kematian di seluruh dunia, menjadi penyebab kematian ke-18 pada tahun 2016. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Heath Organization, WHO), hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun atau satu orang setiap 40 detik. Ada indikasi bahwa untuk setiap orang yang meninggal karena bunuh diri, kemungkinan ada lebih dari 20 orang lain yang mencoba bunuh diri.

Indonesia, dibandingkan dengan negara Asia lainnya, prevalensi bunuh dirinya terbilang rendah, yaitu 3,7 per 100.000 penduduk. Namun dengan jumlah total penduduk 265 juta, berarti ada 10 ribuan orang yang bunuh diri di Indonesia tiap tahun, atau satu orang per jam.

Tanda dan Gejala

Bunuh diri merupakan tindakan seseorang yang mengakhiri hidupnya atau menghilangkan nyawanya sendiri dengan berbagai cara dalam waktu yang sangat singkat. Bunuh diri adalah kata yang gampang diucapkan, namun memiliki makna yang relatif sulit secara psikologis. 

BACA JUGA: Kasus Bunuh Diri Marak, JPIC OFM dan STKIP Ruteng Gelar Diskusi

 Bunuh diri biasanya diawali dengan ide bunuh diri, yaitu pikiran seseorang untuk membunuh dirinya sendiri. Ide bunuh diri biasanya disampaikan oleh pelaku kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. 

Setelah ide bunuh diri, muncul isyarat bunuh diri. Ucapan atau tindakan seseorang adalah sebuah isyarat bunuh diri. Misalnya seorang mengatakan ‘Saya sudah tidak sanggup menghadapi semua ini atau saya ingin mati saja’. 

Mengenali tanda-tanda orang yang memiliki keinginan bunuh diri adalah hal yang perlu. Beberapa tanda umum misalnya  ketika seseorang berbicara tentang kematian atau bunuh diri, mengungkapkan keinginan untuk mati, mengungkapkan rasa bersalah, mengungkapkan keputusasaan, sering melukai diri sendiri, berbicara tentang perasaan tidak berharga, menghindar dari teman ataupun keluarga/suka menyendiri, pesimis akan masa depan dan selalu merasa gagal.  Beberapa hasil penelitian menunjukan tanda yang paling sering adalah mengeluarkan pernyataan tentang keinginan untuk mati dan keputusasaan. 

Jika ada sikap atau pernyataan demikian dari seseorang terutama anggota dalam keluarga, hendaklah kita perlu waspada, meresponnya, menanyakan secara pribadi serta perlu membawanya ke petugas medis.

Depresi

Penyebab orang bunuh diri tidak bisa diketahui secara langsung. Hanya pelaku saja yang mengetahui alasannya. Sulit untuk mengetahui penyebab paling utamanya. Namun dari beberapa penelitian menunjukan bahwa depresi adalah faktor penyebab paling utama.

BACA JUGA: Diduga Depresi, Ibu 55 Tahun di Reo Bakar Diri

Depresi adalah suatu kondisi dimana terganggunya mood dan emosional seseorang secara berkepanjangan yang melibatkan proses berpikir, berperilaku, dan berperasaan. Hal ini umumnya timbul karena seseorang kehilangan harapan ataupun perasaan tidak berdaya. 

BACA JUGA: Mahasiswi STIKES St Paulus Ruteng yang Bunuh Diri Sedang Hamil 4 Bulan

Suasana hati yang tertekan, perasaan sedih, murung, suka menyendiri, tidak berminat dalam berbagai aktivitas sehingga menyebabkan kualitas hidupnya menurun secara signifikan adalah tanda-tanda seseorang mengalami depresi. Suasana hati yang buruk sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari bisa menyebabkan munculnya ide mengakhiri hidup. 

Peran Keluarga 

Memang benar bahwa bunuh diri adalah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Bisa saja bunuh diri merupakan pengaruh faktor sosial ataupun ekonomi. Walau demikian, perlu ditangani segera terutama terkait pencegahan-pencegahan tindakan bunuh diri. 

Undang-undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa menyatakan bahwa perlunya kerja sama berbagai lini dalam mencegah masalah–masalah yang berhubungan dengan kesehatan jiwa. Dalam upaya pencegahan bunuh diripun, perlu kerja sama lintas sektor.

Keluarga memiliki peran terpenting. Keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan setiap orang. Keluarga sesungguhnya sangat menentukan proses tumbuh kembang psikologis anggotanya. Keluarga menjadi faktor pendukung pokok dalam upaya pencegahan bunuh diri. 

BACA JUGA: WVI Mabar: “Bullying” di Kalangan Pelajar Sebabkan Bunuh Diri

Keluarga sebagai unit sosial terdepan pencegahan bunuh diri dapat lebih sensitif terhadap perubahan perilaku individu dalam keluarga. Jika ada keluarga yang mengalami keanehan dalam perilakunya atau mengalami masalah, maka keluarga harus menjadi ruang sehat bersama.

Keluarga harus peka dengan keadaan anggota keluarganya masing-masing. Ketika ada anggota yang memilki masalah psikologis, maka keluarga mesti mengambil peran untuk menangani secara bersama dan mencari jalan keluar. 

Masing-masing individu dalam keluarga perlu saling berbagi, saling memberikan dukungan, karena ada kalanya orang bunuh diri karena adanya tekanan dalam keluarga.

Peran Dinas Kesehatan

Dalam Undang- undang no 18 tahun 2014 juga ditegaskan bahwa intitusi kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam upaya promotif dan preventif. Di sini, inas kesehatan perlu menggerakan upaya-upaya tersebut. 

Kasus yang muncul setiap tahun di Manggarai mesti disikapi secara serius oleh dinas kesehatan. Karena itu, dinas kesehatan tidak boleh diam saja.

BACA JUGA: Seorang Kakek di Satar Mese Gorok Lehernya Sendiri

Yang mesti dilakukan adalah memberdayakan fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan untuk mencegah bunuh diri. Tindakan promotif harus gencar juga dilakukan. 

Semoga dinas kesehatan melihat ini sebagai masalah yang serius.

Advertisement