Uskup Kalookan, Mgr Pablo Virgilio David merayakan Misa pada bulan Januari di sebuah komunitas miskin kota di keuskupannya di mana pembunuhan terkait kasus narkoba sering terjadi. (Foto: Vincent Go/ucanews.com)

Floresa.co – Mgr Pablo Virgilio David, Uskup Kalookan di Filipina yang telah menerima ancaman pembunuhan karena mengkritik tindakan keras pemerintah dalam perang melawan narkotika menyatakan akan terus berbicara menentang hal itu.

Ia mengatakan meskipun ia mengkhawatirkan keselamatannya, ia “lebih takut dengan anak-anak dan orang miskin yang menjadi korban perang melawan narkoba ini,” demikian laporan Ucanews.com.

Ia mengatakan orang miskin telah menjadi kelompok paling “rentan” dalam perdagangan narkoba ilegal karena “keputusasaan dan kehilangan harapan.”

“Perang melawan obat terlarang” oleh pemerintah telah menjadi “tidak bermoral dan tidak bisa diterima akal,” kata wakil Ketua Konferensi Waligereja Filipina itu.

Kampanye ini akan lebih berhasil jika penegak menghormati ketentuan hukum yang menjamin penghormatan terhadap hak asasi manusia, tambahnya.

Di awal kepresidenannya pada tahun 2016, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte berjanji untuk mengakhiri perdagangan obat-obatan terlarang dalam waktu tiga hingga enam bulan masa pemerintahannya.

Setelah tiga tahun, kampanyenya melawan narkoba telah menewaskan hingga 20.000 orang yang diduga sebagai pengguna dan pedagang narkoba, demikian menurut kelompok hak asasi manusia.

Uskup David mengatakan dia akan terus bekerja dengan para pejabat setempat di wilayah keuskupannya untuk membantu rehabilitasi berbasis komunitas bagi para pecandu narkoba.

“Kami bukan anti-pemerintah, kami telah menemukan banyak orang baik di pemerintah daerah,” katanya.

Ia mengatakan, bahkan, relawan dalam kerja samanya dengan dewan anti-narkotika di pemerintah daerah telah menerima ancaman pembunuhan.

Minggu ini, kelompok-kelompok hak asasi memberi Uskup David “Penghargaan Hak Asasi Manusia Ka Pepe Diokno,” yang diambil dari nama mantan pembela hak asasi manusia Filipina, karena keberpihakan uskup itu pada hak-hak orang miskin.

Dalam sebuah pesan yang dibacakan selama upacara, uskup itu meminta maaf karena tidak hadir.

“Teman-teman yang bermaksud baik yang mengkhawatirkan keselamatan saya telah menyarankan saya untuk tidak menganggap enteng ancaman ini,” kata uskup.

Ia mengatakan dia tidak ingin ada “bahaya yang tidak perlu bagi kehidupan orang-orang yang akan menemani” dia ke acara tersebut.

Pada 25 Februari, Duterte memperingatkan agar tidak mengancam para pemimpin agama.

Namun, Uskup David mengatakan ancaman adalah “bagian dari bahaya” menjadi seorang imam dan uskup.

“Bersaksi tentang Injil, bersaksi tentang kebenaran, adalah sesuatu yang bisa mengorbankan hidup Anda,” katanya.

Ucanews.com/Floresa