Tokoh masyarakat Wae Sano, Yosef Erwin. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Pengakuan datang dari warga Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) terkait upaya PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) memuluskan proyek pengembangan geothermal di wilayah desa itu.

Yosef Erwin, demikian nama warga tersebut, mengaku, karena proyek itu ditolak masyarakat, dirinya mendapati berbagai macam cara ditempuh PT SMI untuk menyakinkan masyarakat agar menerima proyek itu.

Salah satunya yakni menawarkan pekerjaan, seperti yang pernah dialaminya yakni ditawari menjadi bendahara di perusahaan tersebut.

Namun, terhadap tawaran yang datang dari karyawan PT SMI bernama Sapto itu, Erwin menolak.

“Ada yang namanya Sapto, datang ke kebun saya saya saya lagi kerja. Dia tawarin saya pekerjan. Saya bilang, maaf, saya tidak bisa. Mata saya sudah kabur,” kata Erwin kepada Floresa.co pekan lalu, mengulang jawabannya kepada Sapto.

Erwin mengaku, kaget mendengar tawaran itu. Ia menduga langkah itu ditempuh PT SMI agar dirinya serta warga desa Wae Sano lainnya menerima proyek itu.

Pasalnya, usaianya sudah menginjak 60-an tahun. Namun, PT SMI yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan itu menawarkan pekerjaan menjadi bendara yang tentu membutuhkan keterampilan khusus.

“Dalam hati saya kaget dan merasa lucu juga. Di saat orang-orang muda yang baru tamat kuliah berlomba-loma test masuk BUMN, saya malah ditawarin pekerjaan. Menjadi bendahara pula. Kan aneh,” ujarnya.

BACA JUGA: Tolak Geothermal, Warga Wae Sano: “Datang dari Jakarta, Jangan Bawa Omong Bodok”

Karena tawaran pertama itu ditolak, rupanya Sapto masih berusaha menyakinkan. Ia kembali menawarkan pekerjaan lain yakni menjadi satpam di perusahaan itu. Namun, lagi-lagi Erwin menolak.

“Saya sudah tua. Tidak mungkin saya bisa berdiri sepanjang hari (tidak kuat),” kata Erwin kepada Sapto.

Menurut Erwin, langkah yang ditempuh Sapto itu hanya akal-akalan, agar dirinya bisa menerima proyek itu.

Pasalnya, selama ini, ia mengaku sangat tegas menolak proyek itu sekali pun saat berhadapan langsung dengan pihak perusahaan.

Cara seperti itu, kata Erwin, sudah menunjukkan niat busuk yang tidak menghargai warga setempat.

“Melalui cara-cara seperti itu, mereka tengah berusaha menjinakkan, melunkkan hati warga agar proyek itu berjalan mulus,” uangkapnya.

Apalagi, tambah Erwin, saat survei lokasi proyek, karyawan PT SMI masuk ke kebun warga tanpa seizin pemilik.

“Mereka juga pernah survei di kebun saya, tanpa izin hingga stek vanili putus,” ungkapnya.

Proyek geothermal di Desa Wae Sano merupakan salah satu proyek percontohan salah satu pembiayaan infrastruktur sektor panas bumi (PISP) dikelola oleh PT SMI.

Sumber pendanaannya, selain dari PT SMI, juga memanfaatkan hibah dari Bank Dunia.

Namun, menurut Erwin, jika proyek itu bertujuan memenuhi pasokan listrik di wilayah itu, sebenarnya masih ada potensi lain yang lebih ramah lingkungan, misalnya tenaga surya.

Bahkan, sekalipun proyek itu tidak dikembangkan dan warga tidak mendapat pasokan listrik, Erwin juga tidak mempersoalkannya.

“Dan, kalau tidak jadi, kita di sini bisa hidup dari apa yang ada. Alam di sini sudah cukup bagi kami,” katanya.

Begitu pun tekait alasan pengembangan ekonomi. Menurut Erwin, alasan itu tidak mendasar karena masih ada sektor pertanian dan pariwisata yang belum digarap serius.

“Hari-hari kami hidup dari kemiri, kopi, vanili dan kelapa.”

“Begitu pun serta sektor pariwisata berbasis masyarakat. Sebenarnya bisa berkembang baik di sini,” pungkasnya.

ARJ/Floresa

Advertisement