Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula. (Foto: Floresa.co).

Labuan Bajo, Floresa.co – Bupati Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), dikabarkan akan memerintahkan PT Sarana Multi Investasi (SMI) agar menggelar sosialisasi ulang terkait proyek geothermal di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang.

Hal itu disampaikan tokoh masyarakat Desa Wae Sano, Yosef Erwin usai menghadap Bupati Dula pada Senin, 19 Februari 2019.

“(Bupati bilang) PT SMI harus sosialisasi ulang, mulai dari awal, hadirkan ahli,” kata Yosef mengulang hasil pembicaraan dengan Dula kepada Floresa.co, Senin.

Selain Yosef, orang yang juga dipanggil Dula ialah Kepala Desa Wae Sano.

Dalam pertemuan itu, jelas Yosef, Dula berkeinginan agar PT SMI melakukan sosialisasi ulang karena masyarakat Wae Sano menolak proyek yang sumber pendanaannya itu dari APBN dan Bank Dunia.

“Kalau dalam sosialisasi itu membawa dampak kepada masyarakat sampai pada evakuasi, maka masyarakat harus menolak. Jangan menerima!” jelas Yosef mengulang penegasan Dula.

Selain itu, terang Yosef, alasan yang juga membuat Dula menolak ialah karena PT SMI tidak menuruti perintah Dula agar memindahkan titik-titik pengeboran yang sangat dekat dengan rumah warga itu.

“Dia (Bupati Dula) sudah pindahkan pihak PT untukpindahkan titik itu. Tetapi, pihak PT tidak jalankan perintah itu,” katanya.

Padahal, jelas Yosef, perintah itu sudah disampaikan Dula beberapa bulan sebelumnya. Tetapi, hingga saat ini, PT SMI tidak melaksanakan perintah itu.

Malah, salah satu titik pengeborannya hanya berjarak 5 meter dari rumah warga.

Lebih lanjut,  kata Yosef, Dula juga menyampaikan, sekalipun dalam sosialisasi ulang tidak disebutkan dampak buruk proyek itu, PT SMI harus membuat pernyataan hukum jika nantinya berdampak buruk.

“Kalau tidak ada dampak, pihak PT dan ilmuwan membuat pernyataan jika sesewaktu terjadi dampak,” ujar Yosef.

Ketimbang geothermal, kata Yosef, Dula menginginkan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian masyarakat Wae Sano.

“Lebih baik dorong pariwisata kalau geothermal itu membawa dampak buruk kepada masyarakat,” kata Yosef.

Sementara, Paulus Dulu juga tokoh masyarakat Wae Sano berharap Dula berpegang tidak mengingkari janji tersebut. Pasalnya, sejauh ini, kehadiran geothermal di desanya itu telah membuat kehidupan Wae Sano menjadi kurang kondusif.

‘Kami akan tetap tagih omongan beliau. Kami akan tetap menolak proyek ini karena tanah itu warisan leluhur kami yang tak ternilai harganya,” pungkas Paulus.

ARJ/Floresa