Pastor Yuvensius Rugi Pr (baju hijau) saat memberikan bantuan untuk Aleksius Dugis (31), ODGJ asal Sola, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Senin, 18 Februari 2019.

Borong, Floresa.co – Keuskupan Ruteng, Manggarai-Flores, NTT, mulai menunjukkan geliatnya untuk memperhatikan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah pelayanannya.

Pastor Yuvens Rugi mengatakan, mulai tahun ini, pihak Keuskupan Ruteng, melalui caritas keuskupan itu akan memperhatikan kelompok ODGJ di wilayah itu.

Ia mengaku, selama ini fokus perhatian caritas adalah penanganan bencana alam dan program pemberdayaan keluarga migran.

“Kita sadari bahwa gangguan jiwa adalah bencana kemanusiaan. Jadi, kita ke depannya juga akan memperhatikan ini,” ujarnya Senin, 18 Februari 2019.

Keuskupan ini melayani tiga wilayah, yaitu, Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur (Matim) dan Manggarai Barat (Mabar).

Pastor Yuvens yang dijumpai Floresa.co, Senin, saat mengunjungi Aleksius Dugis (31) dan Rikardus Non (29), dua ODGJ di Sola, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Matim mengaku sangat prihatin ketika melihat secara langsung kondisi kedua umat keuskupan itu.

Pasalnya, kedua OGDJ itu dipasung dan ditempatkan di gubuk reyot.

“Mereka boleh dibilang diperlakukan layaknya bukan manusia,” ucap Romo Yuven.

Ia mengakui, selama ini, keuskupan belum memberi perhatian khusus, meski tentu saja sudah ada bentuk perhatian dari lembaga milik gereja, seperti Panti Renceng Mose.

“Misalnya karya pelayanan para bruder di Panti Rehabiltasi Renceng Mose. Itu adalah bagian dari pelayanan gereja terhadap ODGJ, khususnya keuskupan Ruteng. Para Bruder ini kan bagian dari gereja Katolik,” katanya, Senin, 18 Februari 2019.

Meski demikian, kata dia, gereja hanya bisa membantu sesuai kemampuan dan kapasitasnya, misalnya memberikan motivasi dan penghiburan kepada keluarga agar tidak berkecil hati karena ada anggota keluarga yang menderita ODGJ.

“Kita tidak bisa intervensi secara medis,” katanya.

BACA JUGA: Komitmen Setengah Hati Pemkab Manggarai Timur Tangani ODGJ

Berdasarkan data Kelompok Kasih Insanis (KKI), sebuah wadah solidaritas dan sosial karikatif, yang sejak 2014 memberi perhatian khsusus terhadap ODGJ di NTT, di Keuskupan Ruteng, ada 1013 penyandang gangguan jiwa. Dari jumlah itu, 112 orang dalam kondisi terpasung.

Sementara, di pihak keuskupan sendiri, kata Pastor Yuven, belum memiliki data lengkap terkait OGDJ.

Hal itu dibenarkan Pastor Paroki Kisol, Daniel Sulbadri di mana di wilayah parokinya itu juga belum memiliki data, walaupun, dirinya pernah meminta pengurus Kelompok Basis Geraja (KBG) untuk mendata umat difafabel dan OGDJ.

“Tahun ini, kita sudah siapkan format dari sekretariat paroki untuk mendata umat yang difabel dan gangguan mental ini,” ujar Pastor Daniel yang ikut mengunjungi Aleks dan Rikardus.

Mengatasi itu, kata Pastor Yuven pihaknya akan berkoodrinasi dengan Caritas di setiap paroki untuk mendata kelompok ini.

Dalam kunjungan itu, Caritas Keuskupan Ruteng juga memberi bantuan berupa zink, paku dan balok untuk membangun rumah layak huni bagi Aleksius yang selama 10 tahun belakangan dipasung di gubuk reyot tanpa dinding.

Selain itu, pihak Caritas juga memberi bantuan beras, kasur, selimut dan bantal.

Pastor Yuven berharap agar kepedulian terhadap penyandang gangguan jiwa harus menjadi aksi kemanusiaan bersama.

BACA JUGA: Kunjungi ODGJ: Cara Wartawan di Matim Peringati Hari Pers

Ia juga berterima kasih kepada Pater Avent Saur SVD dan relawan KKI yang selama ini gencar mengadvokasi ODGJ. “Perhatian mereka adalah perhatian gereja,” ungkapnya.

Sementara, Sekretaris Desa Ruan, Ferdinandus Spur menyampaikan terima kasih kepada gereja yang mulai memperhatikan penyandang gangguan jiwa, di desa itu.

“Jujur, kami di (pemerintah) desa memang belum sama sekali menyentuh saudara-saudara yang sakit (jiwa) ini,” ujarnya di hadapan Romo Yuven dan sejumlah relawan KKI Manggarai Timur.

 “Apa yang dilakukan oleh gereja hari ini tentunya menjadi pelajaran bagi kami (pemerintah), menggerakan hati kami, dan juga sebagai masukan positif, sehingga kedepannya, kami bisa ikut memberi perhatian untuk penyandang gangguan jiwa di desa ini,” pungkasnya.

Rosis Adir/Floresa