Ilustrasi

Saya tidak tahu tetek-bengek Hari Valentine atau Valentine Day sampai dengan kelas 1 SMA di Seminari Pius XII Kisol. Kala itu, seorang guru yang tidak lain seorang frater masuk kelas dan tiba-tiba mengumumkan, “Hari Minggu kita piknik ke pantai dan tukaran kado Valentine day dengan anak asrama Putri Ursulin Borong.”

Kelas gaduh seketika. Ada yang teriak kegirangan. Suit-suitan bikin kelas ramai. Tertawa sembari pukul-pukul meja. Yah, mirip-miriplah kegaduhan yang dibuat kelompok pemusik di acara Opera Van Java dari Sule, Andre dan kawan-kawan.

Namun, saya tidak yakin banyak yang tahu soal Valentine Day. Saya sendiri sedikit bingung, meski kemudian tak mau kehilangan momentum bersenang-senang dulu.

Setidaknya senang karena akan piknik ke pantai, yang biasanya hanya mungkin terjadi sekali dalam setahun. Juga karena akan keluar dari asrama yang biasanya hanya terjadi sekali dalam sebulan.

Dan, terutama ketemu teman-teman perempuan yang biasanya hanya lewat surat-menyurat korespondensi. Kini, piknik bersama pula.

Imajinasi langsung jauh seketika. Berenang sama di laut. Kejar-kejaran. Main kubur-kuburan di pasir. Ah…..pokoknya asyik.

“Apa Valentine Day?” Seorang teman tanya setengah berbisik ke teman duduknya.

Pertanyaan yang hampir sama muncul dalam batin saya. Saya yang duduk di belakang meja mereka, ingin ikutan menyimak, karenanya berusaha mendekati keduanya.

Bukannya langsung dijawab, teman itu malah tertawa berderai panjang. Saya mengelus dada. Untung bukan saya yang tanya duluan. Damn!….Apes kamu bro, kata saya dalam hati.

“Woe……dia belum tahu Valentine Day?” kontan dia berteriak agar seisi kelas termasuk guru dengar. Seketika kelas menggelegar karena tawa. Saya juga otomatis tertawa meledak sekencang-kencangnya.

Menertawakan teman saat itu adalah soal waktu dan giliran saja. Sekali ada kesempatan menertawakan teman, dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidak perlu ada rasa kasihan. Karena saat giliran saya yang buat kekonyolan, tentu tak ada ampun pula.

Teman itu tidak marah. Ia tampak menikmati dan tabah kekonyolannya dijadikan bahan lelucon. Namun, sepertinya ia tahu, ia tak sendirian. Ia tersenyum sembari menatap seisi ruangan kelas. Ia menoleh ke arah saya. Senyumannya makin lebar. Hati saya deg-degan. Tapi saya berpura-pura tertawa makin ngakak.

“Ada yang pura-pura tahu frater!” tiba tiba dia teriak begitu. Saya makin cemas. Namun frater malah tertawa.

“Untuk tukaran kado, kalian harus menyiapkan hadiah yang kreatif dan dibuatkan sendiri,” kata frater, tak peduli dengan ucapan teman itu.

Setelah sehari penyampaian itu, tak ada yang bergegas menyiapkan kado. Hingga beberapa hari setelah itu. Semua tampak tenang, seperti tak memikirkan itu.

Padahal saya berharap saya bisa menemukan contoh. Saya bisa diam-diam memperhatikan. Saya tidak punya ide sama sekali tentang hadiah valentine. Saya mulai khawatir apa yang biasa diberikan saat Valentine Day.

“Apa kira-kira kado yang kreatif dan dibikin sendiri?”, tiba tiba saya kepikiran membuat miniatur bangunan sekolah dan asrama kami. Di depannya ada gereja. Saya kepikiran membuatnya dari kertas. Memotongnya dengan rapi. Merangkainya dengan kreatif. Namun saya tidak yakin apakah hadiah begitu yang dimaksud pada hari Valentine.

Cara yang paling taktis, saat mempersiapkan itu mesti tak ada yang tahu. Diam-diam saya mempersiapkan kado saat jam olahraga. Saat semua orang umumnya bermain bola, tak ada di kelas. Saya memotong kertas manila di bawah meja. Setelah beberapa hari, kado selesai. Dibungkus dengan rapi. Disimpan tersembunyi.

Sehari menjelang acara piknik bersama, ketua kelas menyampaikan pengumuman di kelas.

“Hari ini, semua kado dikumpulkan. Nanti tukarannya diacak”, katanya.

Rupanya hanya beberapa yang menyiapkan kado. Sebagian besar tampak terkejut mendengar pengumuman tersebut. Menyiapkan kado ibarat mau ujian yang menunggu detik-detik deadline baru huru-hara.

Beberapa teman tampak sudah membawakan kado valentine dengan antusias. Mereka membungkusnya dengan kertas berwarna-warni.

Saya tak mau ketinggalan kendati sedikit ragu. Ukuran kado saya lumayan besar. Lebih besar dari semua yang sudah kumpulkan depan kelas. Saya mulai menebak-nebak kado yang dibingkiskan teman-teman yang berukuran jauh lebih kecil.

Saya lantas juga mengumpulkan kado saya. Saat saya membawa ke depan podium kelas, saya tiba tiba saja disorak-sorai oleh teman-teman. Kelas kontan gaduh. Mereka mulai penasaran apa yang berada dalam kado besar saya. Kendati tersenyum, ada kegetiran juga di hati saya.

Sementara, sebagian kecil mulai buru-buru ke kios terdekat. Dalam waktu yang terbatas, sore itu mereka membeli coklat, buku agenda, sabun cuci. Saya mulai heran dengan hadiah mereka. Apakah yang begitu yang disebut hadiah yang “kreatif dan dibuatkan sendiri?”

Saya mulai berbangga. Beberapa teman yang membeli coklat hari itu, bukan karena mereka tahu coklat adalah hadiah yang paling umum saat Valentine day, tetapi karena tidak punya pilihan. Sambil membungkus coklatnya, mereka mengungkapkan penyesalannya.

“Aduh maunya dipersiapkan lebih lama. Hanya bisa bungkus coklat yang sekali makan ini saja. Kamu siapkan hadiah apa?”

“Surprise Bro! Jangan coklat saja. Beli Rinso juga, biar bungkusan lebih besar” saya mengusulkan. Mereka lari terburu-buru lagi ke kios.

Keesokan harinya saat mau pergi ke pantai, saya mulai ragu. Tumpukan kado digabungkan di dalam keranjang. Kado saya di bagian paling bawah mengingat ukurannya yang paling besar. Puluhan tumpukan kado di atasnya membuat sebagian bungkusan sudah penyok.

“Tolong simpan bagian atas saya punya!” usul saya kepada ketua kelas.

“Emang kamu punya kado apa?”

“Oh tidak apa-apa…biar saja di bagian paling bawah”

Dia menatap dengan tatapan yang menyelidiki.

Di pantai, semangat kami menggebu-gebu. Beberapa orang baru saja turun dari mobil, berkenalan, dan sudah mulai jalan berdua-duaan di pinggir pantai. Sambil jalan, sesekali mereka mengambil pasir, saling melempar satu satu lain. Hanya terdengar teriakan manja dari jauh yang mengalihkan perhatian kami semua.

Yang lain, hanya bisa bermain bola di pantai. Namun dari yang biasanya malas olahraga dan skill di bawah standar, beberapa di antaranya bisa lincah main di lapangan berpasir pantai itu dan bisa mencetak gol. Saat mencetak gol, layaknya pemain bola dunia, langsung membuang diri ke atas pasir. Tepukan beberapa cewe membuat selebrasi gaya begitu terjadi berulang-ulang. Setelah kejadian itu, beberapa hari setelah pulang dia tidak masuk sekolah. Dia kecapean.

Saya sendiri duduk termenung dan mulai was-was. Mulai kehilangan semangat. Padahal tadinya berencana bisa berenang bersama di laut. Saya bisa melatih teman-teman asrama putih berenang.

Maklum-maklum saja, hanya itu saja skill yang saya bisa bagikan kepada mereka. Saya dari Wae Pesi yang dekat Reo, sudah terbiasa berenang baik di sungai maupun di laut.

Namun saya kehilangan semangat. Saya sudah mulai menduga-duga, miniatur yang saya buat sudah penyok karena ditindih. Saya juga sudah mulai menebak duluan, jika kado itu dibuka, bagaimana teman-teman menertawakan saya. Hanya saya yang menyiapkan hadiah seaneh itu.

Tiba-tiba terbersit dalam pikiran saya ide gila. Saya mengusulkan kepada ketua kelas, agar kadonya setelah ditukarkan dibuka setelah kembali ke asrama masing-masing.

“Lebih surprise! Efek jangka panjangnya, kita penasaran dan pasti berusaha saling ketemu ke depannya! Kan belum tentu kita tahu nama-nama mereka semua dalam waktu singkat ini,”

Sepertinya ide ini membuka cakrawala hayalan si ketua kelas. Dia mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum lebar. Saya merasa aman.

Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Kami tukaran kado saat misa bersama di pantai. Nama dipanggil ketua kelas dan hadiah diberikan secara random.

Usai dibagikan, ketua kelas mengingatkan, “hadiahnya dibuka di asrama masing-masing. Jangan di sini!”

Serentak keributan terjadi. Hampir semua menolak dan protes. Ketua kelas mengalah.

“Setuju dengan ketua!” Saya menyemangati. Suara protes malah tambah besar.

Saya melirik ke samping, yang saya lihat pertama adalah teman yang saya tertawakan di kelas. Tatapan dan senyumannya ke saya, saya rasakan kedalamannya. Hancur.

Usai misa, saya langsung menjauh. Saya bersembunyi di balik pohon kelapa. Saya membuka kado yang diberikan ke saya. Terdapat sebuah coklat dan kertas berwarna yang berisikan untaian puisi. Sambil makan coklat, saya membaca puisi. Isinya seperti ungkapan hati orang yang esoknya mau menikah.

Namun, saya mulai memperhatikan dari jauh. Teman yang tertawakan itu, mulai mencari-cari kado saya di antara teman-teman asrama putri. Ketika dia menemukan, dia berteriak di pantai.

“Oe. Ini kadonya Greg!” teman-teman seketika berkumpul. Mereka meminta teman cewe itu membuka bersama kadonya. Dalam seketika, mereka berhamburan lari dan jatuh merebah di pantai karena tertawa.

“Mana dia…mana dia…..!” teriakan itu saya dengar dari balik pohon kelapa sore yang kelam itu. (Gregorius Afioma)

NB: Cerita ini gabungan fiksi dan non-fiksi

Advertisement