Rumah Adat (Mbaru Gendang) Nunang, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang. (Foto: Floresa).

Floresa.co – Warga Wae Sano, Kecamatan Sanonggoang sebenarnya bukan tak punya alasan untuk menerima rencana pemerintah pusat untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di wilayahnya.

Setidaknya hal itu terungkap dalam rapat pada 9 Februari 2019 di Wae Sano yang dihadiri sekitar 100-an warga.

Wae Sano, yang letaknya sekitar 60 kilometer dari Kota Labuan Bajo tidak hanya dilalui jalan buruk tetapi juga tanpa aliran listrik dan sinyal Telkomsel. Bertahun-tahun warga yang sebagian besar petani tersebut, hidup di pinggiran Danau Sanonggoang sebagai petani yang sulit berpindah tempat, tidak mendapat listrik serta sulitnya mengakses informasi. 

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) ibaratnya membawa keajaiban. Perusahaan milik BUMN itu sejak tahun 2015 berencana membangkitkan listrik tenaga panas bumi di wilayah itu. Menariknya, bukan hanya listrik yang dijanjikan bagi warga yang sekian lama terabaikan itu, tetapi juga lapangan pekerjaan serta akses kebutuhan dasar seperti air minum, serta infranstruktur jalan.

Yosef Erwin, misalnya, salah seorang warga desatersebut, berusia 60 tahun itu ditawari bekerja sebagai bendahara di perusahaanBUMN yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan itu. Kendati kesempatan itusangat emas mengingat susahnya orang masuk BUMN, Erwin menolak. Ia tak tahumenahu komputer. Ia lantas ditawari sebagai satpam. Lagi-lagi ia tolak karenausia yang sudah 60 tahun. 

Belakangan Bupati Mabar, Gusti Dulla turut menyakinkan masyarakat dengan kehadiran PT SMI. Katanya, Wae Sano yang kini berstatus sebagai desa, dapat menjadi kota madya. Kota dengan sendirinya mengimajinasikan sebuah keadaan yang minimal sudah difasilitasi listrik, jalan yang baik, dan sinyal komunikasi. 

Lantas mengapa warga Wae Sano tetap menolak? Mengapa mereka tidak tertarik bekerja di perusahaan BUMN itu?  Mengapa mereka tak mau menjadi kota madya?Mengapa mereka mesti berdemo di depan kantor DPRD dan bupati pada Desember 2018 silam?

Bertahun-tahun tinggal di dekat Danau Sano Nggoang,membuat mereka lebih percaya pada alam dan pengalaman mereka sendiri. Apalagi ketiadaan listrik dan akses informasi melalui sinyal internet dan komunikasi selama ini juga membuat mereka lebih peka dan intens dalam berinteraksi dengan alam sekitar mereka.

Menurut mereka dalam pertemuan sekitar 100-an warga pada9 Februari, kandungan zat Hidrogen Sufida (H2S) di danau itu cukup tinggi. Sudah menjadi rahasia umum, dalam suatu waktu pada setiap tahun, hampir semua warga jatuh sakit. Mereka alami batuk dan pilek. Bahkan satwa ikutan mati. Mereka tahu saat itulah gas H2S sudah mulai meninggi dari danau Sano Nggoang tersebut.

Karena itu, mereka skeptis dengan rencana pemerintah yang akan melakukan pengeboran listrik tenaga panas bumi.  Kendati PT SMI yang bernaung di bawah Kementerian Kuangan itu menyakinkan mereka dengan mendatangkan sejumlah tenaga ahli bahkan didatangkan dari luar negeri, mereka tetap tidak percaya.Pengeboran bukan tidak mungkin meningkatkan pencemaran gas H2S dan menyebabkan dampak lingkungan yang masif.

Apalagi, lokasi pengeboran cukup dekat dengan rumah warga. Empat titik lokasi pengeboran hanya berjarak sekitaran 5-150 meter saja dari rumah warga. Ada lokasi pengeboran yang berjarak hanya 100 meter dar sumber mata air.  Ada yang berjarak sekitar 5 meter dari rumah warga kendati letaknya dalam hutan tutupan. Sementara pusat pengembangannya berada sekitar 100 meter di belakang rumah adat (mbaru gendang Nunang). Pusat pengembangan itu direncanakan memakan area seratusan meter persegi.

Mereka tambah sangsi dengan letak lokasi pengeborannya. Keempat lokasi tersebut umumnya berada di ketinggian, sementarakampung berada di lokasi yang lebih rendah. Apalagi, dalam lembaran sosialisasi rencana pengeboran PT SMI, mencantumkan informasi soal evakuasi warga kampung.Ketika dikonfrontasi, pihak SMI berdalih informasi itu adalah persoalan “salahketik” saja.

Warga Wae Sano juga masih mempercayai sektor pertanian sebagai penompang utama kehidupan mereka. Bertahun-tahun merekabersandar pada sektor pertanian dengan tanaman komoditi seperti kemiri, kopi, cengkeh, kakao, kelapa dan vanili.

Dengan penetapan Labuan Bajo sebagai kota pariwisata, sektor pertanian mereka rasakan makin penting ketimbang ditinggalkan. Pertanian bisa mendukung pariwisata dengan mengembangkan model agrowisata. Menurut mereka, geliat ekonomi pertanian itu hanya perlu memerlukan fasilitas infrastruktur yang memadai seperti jalan, listrik, dan komunikasi.

BACA JUGA: BOP: Negara Rasa Perusahaan

Beberapa warga marah saat tanaman komoditi merekaikutan dirusakkan saat ekplorasi awal PT SMI. Ada vanili yang rusak. Yangmengherankan beberapa warga, para pekerja PT SMI masuk ke kebun warga dan melakukan survei tanpa ijin. Padahal, lokasi survei tersebut terdapat banyak dalam kebun warga.  

Sebaliknya, mereka mengkritisi sejumlah langkah PTSMI yang kelihatan semena-mena. Sekitar empat kali sosialisasi menjadi ajangakal-akalan saja. Sosialisasi antara lain tidak mengakomodir suara-suarapenolakan, tetapi justru hanya memuluskan rencana tersebut. Sosialisasi misalnya hanya mengundang pihak-pihak yang setuju, bahkan mengundang warga diluar Wae Sano. Ada juga sosialisasi yang diselenggarakan di kantor bupati dan tidak menghadirkan warga setempat.

Sementara itu, warga juga menyayangkan sikap PemdaMabar yang ikutan mendesak warga menyepakati rencana tersebut. Janji surgawiGusti Dula soal listrik dan “kota Madya” dianggap bukan hanya tak masuk akan tetapi juga meremehkan warga setempat.

Padahal kebutuhan listrik di kampung itu tak perlumenunggu PT SMI mengoperasikan tenaga panas bumi. Listrik bisa disupplai daripembangkit listrik tenaga gas di Rangko yang masih surplus. Apalagi listrik PLNsudah masuk ke Werang yang hanya berjarak 10 kilometer dari Desa Wae Sano.Lebih ekstremnya, jika PLN belum masuk, mereka lebih memilih masih gelap gulita dan mengandalkan listrik tenaga surya ketimbang listrik pembangkit panas bumi tersebut.

Sementara janji manis Dula yang menyulap desa WaeSano menjadi kota madya, warga hanya bisa tertawa saat pertemuan tersebut.Salah satu mengatakan, “walaupun kami tidak ada listrik dan sinyal, tapi jangan bodohi kami”.

Begitu pun soal tawaran kerja di perusahaan tersebut, Yosef Erwin mengaku selalu tertawa kala kembali mengingatnya.

“Saya bilang ke mereka, datang dari Jakarta, jangan bawa omong bodok di sini. Kami di Wae Sano orang cerdas.”

Tim Litbang Floresa dan Tim Riset Sunspirit

Advertisement