“Bisa gantikan giliran saya? Saya merasa sedikit demam,” tawar saya kepada seorang teman.

Kala itu giliran saya untuk siaran radio. Namun, saya coba melimpahkannya kepada seorang teman. Beberapa teman sudah saya tawarkan, namun mereka menolaknya. Mereka tahu niat saya.

Kami duduk di kelas satu SMA Seminari Pius XII Kisol ketika itu. Menjadi penyiar adalah bagian dari pelajaran jurnalistik.

Saat angkatan kami memasuki SMA, seminari memang mempunyai radio. Jangkauan siarannya lumayan luas.

Hampir seluruh wilayah Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Komba. Hanya sebagian area untuk Borong. Lalu konon, sinyalnya juga sampai di Satarmese dan Sumba.

Kami sebenarnya tidak tahu siapa yang mendengarkan radio. Saat tinggal di asrama, kami dilarang bawa handphone, walkman, dan radio sekalipun.

Jadi, praktisnya saat kami siaran, yang dengar bukan kami, tetapi masyarakat di sekitar seminari atau tempat lain yang terjangkau frekuensi.

Saat itu, saya memang takut menjadi penyiar. Saya awalnya tidak habis pikir bagaimana seorang penyiar berbicara sendiri depan mic. Rasanya lucu dan aneh saja. Perasaan waktu itu.

Suatu kali, saya pernah menonton teman siaran.  Dengan sangat ekspresif, dia berbicara depan mic.  Kalimat  “kacian deh loe lu” lagi terkenal saat itu.

Tiap beberapa saat saja, kata-kata itu selalu dia ucapkan. Ekspresinya sedikit genit. Saya di sampingnya, ngakak so hard, lihat dia omong dengan mic sendiri. 

“Banyak yang dengar?” tanya saya basa-basi dan setengah berbisik. 

“Banyak. Ini kan terhubung dengan pemancar ke kampung-kampung” katanya.  Lalu dia menjelaskan kepada saya fungsi alat-alat di depannya. 

Setelah memutarkan sebuah lagu, dia beranjak dari kursi. Seperti seorang guru, dia mengajarkan fungsi beberapa alat.

“Aduh!” teriaknya yang tiba tiba mengejutkan saya.

“Ada apa?”

“Saya belum tekan tombol yang menghubungkan dengan pemancar,” katanya dengan muka penuh penyesalan.

Saya tertawa sambil membayangkan seberapa gregetnya dia menyiarkan sejak sejam lalu.

Tapi bukan karena itu saja.  

“Harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” kata guru pengampu pelajaran ini sekaligus pengampu pelajaran Bahasa Indonesia.  Setiap kali jadwal siaran, dia sudah siap-siap menilai dan mengevaluasi. 

“Kita perlu menyiapkan  kata-kata dengan baik dan benar. Bila perlu, kita sebaiknya menuliskannya terlebih dahulu” katanya lagi. 

Sebagian teman-teman benar-benar melakukannya.  Mereka yang mendapatkan giliran awal, dua tiga hari sebelum jadwal siaran, sudah menuliskan teks siaran.

Untuk tahu modelnya, saya intip catatan seorang teman.

“Insan-insan pendengar yang Budiman, salam hangat dari saya bung Maesro yunior. Sebelum kita mendengarkan bingkisan rindu sore hari ini, mari kita panjatkan syukur kepada Tuhan yang maha Esa atas karunia kesehatan yang baik. Kita masih diberikan kesempatan mendengarkan nada-nada  yang menyejukkan dari musisi dan band-band kebanggaan kita,” tulisnya. 

Saya mengernyitkan dahi. Bingung. Teks siarannya seperti pidato formal.

“Mana bagian ‘kacian deh loe’ nya?” tanya saya kemudian.

“Mulai sekarang, Itu tidak boleh. Kalimat itu tidak baku” katanya.

Saya tiba tiba teringat secarik kertas berisi request lagu di sebuah box di depan gedung administrasi sekolah. Di box itu, biasanya penduduk di sekitar seminari datang dan menitipkan kertas permintaan lagu untuk disiarkan lewat radio.

Isinya, biasanya berbunyi: ” Salam rindu dari Tanti untuk anak rona di Wae Rana  …(deretan nama) dan anak wina di Wae Lengga……. Dengan ucapan, saya rindu kamu semua.”

“Apakah Kita perlu terjemahkan anak rona dan anak wina?” saya tiba tiba bertanya sekonyol itu. 

Teman itu tertawa. “Kayaknya bisa.  Tapi coba saja tanya Romo”

Pikiran saya mulai macam-macam. Saya mengurungkan niat.

Teman-teman penyiar  yang mendapat giliran awal selalu pulang dengan beberapa cerita yang membuat saya tambah takut.    

“Tadi dia ditegur dan mungkin dilarang siaran lagi. Dia sudah putar lagunya. Katanya, ini lagunya Ungu, eh tau-taunya pas pertengahan lagu, dia sadar itu lagunya Peter Pan.”

“Dia kecilkan volumenya, lalu bilang di pertengahan lagu, ‘maaf ini bukan lagunya Ungu, tapi Peter Pan’”

“Sebenarnya romo tidak tahu itu lagunya siapa.  Harusnya dia biarkan saja. Jangan dikoreksi.”

Demikian beberapa diskusi setelah evaluasi beberapa teman penyiar yang giliran awal.

Saya langsung khawatir. Saya membayangkan diri saya yang tak tahu menahu tentang lagu-lagu terkeren saat itu. Saya tidak kenal baik band-band nasional. Pengetahuan musik, zero.

Ada juga teman yang kebingungan saking terpaku pada teks. Dia membaca teks, tiba-tiba dia terhenti karena dengan bunyi guntur.

“Eh, ada guntur di luar!” Spontan dia berujar begitu.  Hening sesaat setelah dia menyadari dia sudah keluar dari teks dan kebingungan memulai dari mana lagi. 

Atau kisah lain. Saking terpaku pada teks, seorang teman membacakan beberapa ekspresi yang harusnya penuh emosi dan lebih natural. 

“…Dengan ucapan hahahaha”. Demikian akhir tulisan di secarik kertas. 

Harusnya dia tertawa senatural mungkin, tetapi kalimat itu dia bacakan.  Di pertengahan membacakan “hahahaha”, dia sadar kalau dia salah , lalu dia lanjutkan tertawa layaknya Mak Lampir. 

Beberapa orang itu kena skors dari studio radio.

Saya juga mulai memikirkan diri saya. Skors memang saya rindukan, tetapi ditertawakan teman-teman yang rasanya mengerikan.

**

Tiba-tiba suatu hari, sekelompok teman sedang berunding. Mereka tampak berbicara hati-hati. Saya ikut nimbrung.  Rupanya mereka mengumpulkan uang untuk membelikan radio seukuran ibu jari. Harganya hanya belasan ribu.

Ketika seorang teman ke kota Borong, kami beramai-ramai membelikan radio.

Kendati dilarang, beberapa teman sudah diam-diam membelikan radio.  Saat studi sore, mereka mengenakan sweater dengan tutupan kepala.  Mereka pura-pura menutup kepalanya saat belajar, meskipun di dalamnya headset menutupi telinga mendengarkan siaran radio.

Ulah beberapa orang itu dengan cepat menyebar bak virus. Ramai-ramai anak asrama membeli radio. Saat tidur malam, di dalam selimut, ramai-ramai orang mendengar siaran radio.

Saat itu, saya juga ikutan membelikan radio. Bukan untuk mendengarkan lagu-lagu terkeren. Bukan untuk juga memperhatikan kesalahan penyiar agar esoknya dijadikan lelucon. Saya mau belajar jadi penyiar.

Tiap menjelang tidur malam di hall yang terisi ratusan siswa itu, saya menyelimuti diri rapat-rapat. Pakai headset, putar frekuensi, dan mendengarkan siaran dalam selimut.

Tentu saya tidak sendirian.

Setelah beberapa hari, tibalah pada malam yang menghebohkan. Semua sudah berada dalam selimut masing-masing dengan headset.

Tiba-tiba, penyiar yang hari itu, tak lain pembina asrama kami mengumumkan di siaran radio, “ bagi Eka—bukan nama sebenarnya—dan kawan-kawan di asrama yang sedang mendengarkan siaran radio ini, harap kumpulkan radionya esok pagi depan kamar saya.”

Kontan malam itu, hampir sebagian besar kami bangun serentak dari tempat tidur. Kendati tertawa ngakak karena ketahuan, Eka tiba-tiba saja sudah berjalan keliling mengumpulkan radio.

Ia terlampau khawatir dikeluarkan dari asrama. Malam itu juga,  tumpukan radio tersusun di depan kamar pembina asrama.

Saya kecewa. Baru saja asyik mengenal lagu-lagu band saat itu, namun harus sudah berakhir. Baru saja belajar menjadi penyiar, padam seketika.

**

 “Kamu tipu sakit. Saya tidak mau,“ kata teman menolak tawaran sambil cengengesan. Beberapa teman ikutan meledek. Mereka rupanya menanti-nanti giliran saya menjadi penyiar.

Dua hari menjelang siaran, saya tidak tidur pulas. Saya menyiapkan coretan-coretan di kertas. Selama itu pula, teman-teman mulai membayangi dengan beragam cerita.

Pada hari siaran, jantung saya mulai berdegub kencang. Saya tenangkan diri. Saya menggegam erat tiga helai kertas berisi catatan siaran. Saat menuju studio radio, saya melewati kapel. Tiba-tiba terselip keinginan berdoa terlebih dahulu.

Di studio radio saya tenangkan diri. Seorang penyiar lain, ada di sana. Membantu memasang peralatan.

 “Sudah siap?” katanya. Saya menganggukan kepala.

 “Para pendengar dimanapun Anda berada. Saya…”

 “Tek………”

Tiba-tiba listrik mati. Saya senang bukan main. Dalam hati, doa saya terkabul. Sebelum listrik nyala kembali, saya cepat-cepat membereskan catatan saya dan beranjak dari studio radio.

Saat saya membukakan pintu dan hendak pulang, Romo pengampu ternyata melintas di luar koridor tersebut dan baru saja mau mendengarkan siaran saya.

 “Kamu mau kemana?”

 “Mau pulang romo. Listrik mati.”

Sejenak dia memperhatikan saya.

 “Itu apa?” dia menunjukkan kertas di tangan saya.

 “Persiapan siaran tadi room.” kata saya dengan nada merendah.

“Bagus….!!! Kasian kamu sudah siap dengan baik, tapi tidak jadi on air. Ayo ke ruangan di sana. Saya mau dengarkan kamu baca model  siaran kamu,” katanya sembari jalan menuntun saya ke ruangan lain.

“Tapi Romo…..”

Dia melirik ke saya. Saya tersenyum dingin.

[Cerita ini gabungan fiksi dan non-fiksi]

Gregorius Afioma