Penandatanganan berita acara kesepakatan (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Masyarakat pemilik sawah atau pemaanfaat mata air Wae Sele di Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT akhirnya menyetujuti pembabatan hutan di mata air Wae Sele di desa tersebut untuk proyek saluran udara tegangan tinggi (SUTT).

Kesepakatan itu terjadi saat rapat untuk memediasi soal pro-kontra pembabatan hutan itu, antara pemerintah desa dengan masyarakat pemilik sawah pemanfaat air dari mata air di hutan tersebut, pada Jumat, 1 Februari 2019.

“Kita sudah sepakat bahwa hutan itu tetap dibabat agar proyek SUTT tidak terhambat,” kata Kepala Desa Lembur, Antonius Jelorong, Sabtu pagi, 2 Februari 2018.

Menurut Kades Anton, dalam rapat itu, disepakati bahwa dana kompensasi yang diberikan pihak PLN sejumlah Rp 71.824.000. Masyarakat pemanfaat mata air memperoleh sebesar Rp 50.000.000 serta Rp 21.824.000 untuk desa.

BACA JUGA: Dilaporkan Bantu PLN Babat Hutan di Mata Air, Kades Lembur-Matim Bantah

Uang tersebut, lanjutnya, akan diberikan oleh pemerintah desa Lembur selaku pemilik hutan lindung mata air Wae Sele ke pemanfaat mata air itu pada Rabu, 6 Februari 2019.

Selanjutnya, jelas Anton, uang yang diberikan oleh pemerintah desa ke pemilik lahan sawah itu nantinya digunakan untuk reboisasi seluruh areal hutan tersebut.

“Proses penanaman kembali (reboisasi) hutan mata air Wae Sele menjadi tanggung jawab kelompok pengguna mata air Wae Sele dan masyarakat dengan pendampingan pihak pemerintah desa Lembur,” katanya.

Proyek PLN di Matim Hancurkan Hutan di Mata Air, Masyarakat Mengadu ke DPRD

Selain itu, lanjutnya, dalam rapat itu juga kelompok pengguna mata air Wae Sele  sepakat untuk tidak menghambat atau menghalangi proses penebangan hutan itu lagi.

Kesepakatan itu, kata Anton, sudah dituangkan dalam berita acara kesepakatan bersama.

Sebelumnya, pada 27 Januari 2019, sejumlah pemilik lahan sawah yang menyuplai air dari mata air Wae Sele mendatangi kantor DPRD Matim untuk melaporkan persoalan pembabatan hutan mata air Wae Sele.

Masyarakat itu menyatakan menolak pembabatan hutan itu karena akan berdampak pada mengecilnya debit air ke sawah yang merupakan sumber kehidupan mereka.

 Rosis Adir/Floresa