Poco Ndeki. (Foto: jagarimba.id).

Floresa.coBagi para pengamat burung yang mengunjungi pulau Flores, pasti tidak asing dengan nama Poco Ndeki. Gunung berhutan teropis kering di pesisir selatan Manggarai Timur itu begitu mudah ditemukan dalam berbagai laporan pengamatan burung di masa silam. Beberapa laporan yang sebagian besar dibuat oleh para pengamat dari luar negeri itu mencatat daftar burung yang mencengangkan.

Sampai saat ini ada sekitar 8 jenis endemik Flores tercatat ditemukan di hutan Poco Ndeki. Mereka antara lain; Elang Flores, Punai Flores, Celepuk Wallacea, Perkici Flores, Opior Flores, Gagak Flores, Opior Paruh Tebal, Kipasan Flores dan Opior Jambul. Beberapa warga lokal yang saya temui mengaku juga kadang menemukan  Serindit Flores di lereng gunung dengan ketinggian 940 mdpl ini. Pada tahun 80-an hingga pertengahan 90-an bahkan kawasan hutan di pesisir laut Sawu ini juga dihuni oleh kelompok Kakatua Jambul Kuning. Kakatua Jambul Kuning, seperti yang juga terjadi di daerah lain di Flores, telah hilang secara misterius dalam kurun waktu yang sangat singkat di tahun 90-an.

Kisah hutan Poco Ndeki sepertinya telah berubah. Dalam kurun dua dekade belakangan, perburuan burung di kawasan ini benar – benar masif dilakukan oleh oknum warga lokal dan para pemburu dari luar. Ternyata, pesona Poco Ndeki sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan burung yang tinggi juga dikenal luas di kalangan para pemburu burung kicau dan pelaku perdagangan burung.

Versi lengkap artikel ini bisa dibaca di jagarimba.id