Ene Ojing, warga Baga, Desa Bamo, Kota Komba, Matim penghasil kerajinan tangan dari tanah liat.

Borong, Floresa.co Wajah Yustina Ojing tampak sumringah. Namun, sesekali ia mengomel kepada Sandi, teman yang membawa kami ke rumahnya itu pada Senin pagi, 29 Januari 2019.

Ia protes, lantaran Sandi tidak memberitahu lebih awal tentang kedatangan kami pada pagi itu.

Kendati demikian, ia tetap menyambut kami dengan hangat, penuh keakraban.

Ene (nenek) Ojing, demikian ia biasa disapa, merupakan  satu-satunya orang di kampung Baga, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, yang sampai saat ini masih bertahan mengolah tanah liat menjadi perkakas dapur seperti pondo tana bahasa Suku Rongga yang berarti periuk tanah) dan sewe tana (kuali/wajan tanah liat).

Rambutnya sudah memutih. Kulitnya pun sudah berkeriput. Namun, semangat wanita kelahiran 1940 itu sepertinya tak tergerus usia.

Ia mengaku masih bisa menghasilkan lima sampai enam kuali tanah dalam sehari.

Sedangkan untuk satu periuk tanah, lanjutnya, butuh waktu satu sampai dua hari.

“Karena pondo tana itu proses (pembuatan)-nya jauh lebih sulit. Rumit dia,” jelasnya penuh semangat.

Ia mengisahkan, dulu, semasa dirinya masih remaja, yaitu sekitar tahun 1950-an, pekerjaan mengolah tanah liat adalah pekerjaan yang menjajikan. Pundi-pundi rupiah bisa didapat dari hasil penjualan periuk dan kuali tanah.

Kala itu, kisahnya, hampir semua orang di kampung Baga menggeluti usaha itu.

Namun, sejak munculnya peralatan dapur yang terbuat dari aluminium pada sekitar pertengahan tahun 1960-an, pekerjaan sebagai pengrajin tanah liat mulai ditinggalkan oleh kebanyakan orang di kampung itu. 

Peredaran peralatan dapur aluminium itu perlahan menggeser peralatan tanah liat. Perlahan juga, peralatan tanah liat yang mereka hasilkan tak lagi laris di pasaran.

“Bahkan untuk memasak saat acara-acara adat yang sebelum-sebelumnya menggunakan pondo tana, sudah tidak lagi. Semua sudah pakai periuk aluminium,” katanya.

Akibat serbuan produk aluminium itu, jelas Ene Ojing, orang-orang di kampungnya yang lahir di atas tahun 1970-an sudah tidak tahu lagi cara membuat pondo tana.

“Di sini (Baga) hanya saya sendiri saja yang masih buat pondo tana. Kalau yang lain sudah tidak buat (pondo tana) lagi. Mereka paling hanya buat sewe tana, dan itu jarang juga mereka lakukan,” tutur wanita kelahiran April 1940 itu.

Cara Bertahan Hidup

Semenjak suaminya, Aloisius Jalo meninggal dunia pada 2010 lalu, Ene Ojing terpaksa harus menggantikan posisi suaminya, menjadi tulang punggung keluarga.

 “Semua anak saya sudah merantau ke Kalimantan,” kata janda 12 anak itu.

Kehidupan keluarga yang serba kekurangan memaksa wanita renta itu untuk berpikir keras tentang cara  bertahan hidup. Apalagi, di rumah itu, ia hidup bersama empat cucunya yang masih berusia Sekolah Dasar.

Berbekal keterampilan yang diajarkan oleh nenek-nya sejak ia berusia remaja, Ene Ojing pun kembali menekuni pekerjaan sebagai pengrajin tanah liat.

Hasilnya pun cukup memuaskan. Untuk kebutuhan makan dan minum bisa terpenuhi.

“Untuk hasilnya itu pas untuk beli beras,” ujarnya lirih.

Menurutnya,  konsumen yang membeli hasil kerajinan tangannya itu, kebanyakan adalah para peracik tuak (moke), baik dari daerah Matim sendiri maupun dari daerah luar seperti Aimere,  Kabupaten Ngada dan Labuan Bajo, Manggarai Barat.

“Tidak setiap hari saya buat. Tunggu ada yang pesan,” ujarnya.

Meski demikian, Ene Ojing tetap optimis bahwa setiap bulannya pasti selalu ada orang yang memesan.

Bagi Ene Ojing, keterampilan membuat pondo tana’ dan sewe tana’ adalah sesuatu yang sangat langka dan berharga.

Ia berkomitmen untuk mewarikan keterampilannya itu kepada cucu-cucunya.

“Nanti kalau sudah waktunya, kalau mereka sudah bisa mengerti, saya akan latih mereka,” katanya.

Ene Ojing tidak berharap banyak. Di usianya yang semakin rentah ia hanya ingin agar pemerintah bisa membantu mengembangkan usaha kecil menengah kreatif seperti yang ia lakukan saat ini.

Rosis Adir/Floresa