Telepon seluler milik warga di Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur ditempatkan di dinding salah satu rumah, tempat di mana mereka bisa mendapat sinyal. (Foto: Rosis Adir/Floresa)

Borong, Floresa.co – Setiap kali hendak memanfaatkan telepon selulernya untuk berkomunikasi dengan keluarga di tempat yang jauh dan mengakses internet, Yovinianus Juang harus mendatangi kebun kemiri di dekat kampungnya.

Hanya di bawah salah satu pohon kemiri di kebun itulah, ia dan warga lainnya di Dusun Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur bisa mendapat sinyal.

“Jaringan cukup bagus hanya ada di bawah pohon kemiri ini,” kata Yovinianus, Rabu, 16 Januari 2019.

Floresa.co menemuinya di kebun kemiri itu saat ia sedang berupaya menelepon salah seorang kerabatnya.

“Kalau kami mau beri informasi ke keluarga yang di Borong, Ruteng, Jawa atau daerah lain, terpaksa harus tunggu lama di sini,” tambahnya.

Itupun, kata dia, mereka harus sabar menunggu berjam-jam karena sinyal yang kadang muncul, kadang hilang, diduga akibat cuaca.

Jarak Kampung Munda dengan tower pemancar sinyal sebenarnya tidak jauh, di mana dengan tower di Paanleleng, Desa Paanleleng hanya kurang lebih 10 km dan dengan tower di Mukun, Desa Golo Meni hanya 20 km.

Sulitnya sinyal di tempat itu, dipicu oleh letak dusun yang berada di lembah, sementara tower persis berada di balik bukit di dekat dusun tersebut.

Selain Dusun Munda, ada juga dusun lain yang kesulitan mengakses sinyal, yaitu Dusun Lait di Desa Gunung Baru serta Dusun Nonggu dan Dusun Watu Rajong di Desa Rana Mbata.

Kondisi berebeda dialami Dusun Lendo, Desa Gunung Baru yang letaknya lebih tinggi dari bukit di timur Desa Paanleleng. Koneksi jaringan telepon seluler di dusun-dusun itu sangat baik.

Kesulitan mengakses sinyal harus dibayar mahal oleh warga.

Armandus Robert, warga Dusun Munda mengatakan, mereka baru bisa berkomunikasi dengan kerabat yang tinggal jauh jika mereka yang terlebih dahulu melakukan kontak.

“Kalau ada informasi penting dan segera dari keluarga di luar (kampung), sulit untuk cepat kami peroleh,” katanya.

Hal ini juga menjadi masalah tersendiri bagi dua lembaga pendidikan, yaitu SDI Munda dan SMPN Satap Munda serta satu Puskesmas Pembantu (Pustu) di wilayah itu.

Banyak informasi terkait pendidikan dan kesehatan tidak bisa diperoleh segera.

Bernadinus Mere, Kepala SDI Lengko Munda mengatakan kepada Floresa.co, mereka selalu terlambat mengetahui informasi-informasi baru dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pihak yang kerap berhubungan dengan mereka.

Dampaknya, kata dia, pada tahun lalu pernah ada guru di sekolahnya yang batal mengikuti program pendidikan profesi guru (PPG) karena terlambat mendapatkan informasi soal batas waktu memasukkan berkas pendaftaran.

“Padahal, kalau ada sinyal di sini, informasinya pasti cepat kami dapat. Dengan demikian, lebih cepat juga untuk selesai kuliah PPG itu,” katanya.

Guru bersangkutan, kata dia, terpaksa harus menunggu jadwal pendaftaran PPG di tahun ini.

Sementara itu, Yasinta, salah seorang petugas kesehatan yang bertugas di Pustu Munda mengatakan, ia dan rekan-rekannya selalu terlambat mendapatkan informasi-informasi dari pihak Puskesmas induk di Mok, Desa Mbengan.

“Kadang mereka yang di Puskesmas juga sering kecewa dengan kami karena selalu susah jika mereka hubungi untuk memberikan informasi-informasi penting yang berkaitan dengan kerja kami,” ungkapnya.

Rosis Adir/Floresa