Ruteng, Floresa.co – Tahun lalu, saat berlibur di Ruteng, Dewi Sukur berjumpa dengan seorang siswi SMP yang malu-malu berbicara Bahasa Inggris meski mengaku bahwa bahasa asing itu adalah pelajaran favoritnya.

“Ketika saya coba tanya dengan Bahasa Inggris, why do you chose English over all,’ (mengapa memilih Bahasa Inggris di antara semuanya), ia langsung bilang, ole kae, Bahasa Manggarai kat e (Aduh kaka, bicara pakai Bahasa Manggarai saja),” kisah Dewi.

Pengalaman itu begitu membekas dalam diri Dewi, yang kebetulan sedang berlibur dari pekerjaannya sebagai pengajar di English First, lembaga studi bahasa asing ternama berbasis di Jakarta.

Ia pun mulai berpikir, ‘apa yang bisa dibuat agar kemampuan Bahasa Ingggris anak-anak di Manggarai’ bisa berkembang.

Pertanyaan itu kemudian ia diskusikan dengan pihak Yayasan Mariamoe Peduli, sebuah lembaga nirlaba di Ruteng yang fokus pada sejumlah isu sosial, termasuk pendidikan.

Perbincangan dengan pimpinan yayasan itu berujung pada komitmen mengambil langkah yang mesti segera dieksekusi: membentuk kelas bahasa, yang kemudian diberi nama Mariamoe Speaking Space.

Saat ide itu sudah mantap, proses persiapan pun dimulai. Sejak akhir Oktober lalu, mereka mulai bekerja menyiapkan segala hal bagi kelas itu. Dewi pun berani memilih mundur dari English First, tempat kerjanya selama dua tahun terakhir sejak tamat dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

“Saya ingin fokus mengembangkan kelas ini,” katanya kepada Floresa.co, Senin 21 Januari 2019.

Dewi Sukur saat sedang mengajar di English First, lembaga khursus Bahasa Inggris yang berbasis di Jakarta. (Foto: dok. pribadi)

Mariamoe Speaking Space, jelas Dewi, secara spesifik mengembangkan konsep belajar “berbasis siswa bahagia,” dengan fokus pada pengembangan kemampuan berbicara Bahasa Inggris dengan strategi belajar yang bervariasi.

Salah satunya adalah pengembangan metode Total Physical Response (TPR) seperti Snow Ball Throwing, Talking Stick, Musical Chair dan masih banyak lagi.

“TPR merupakan salah satu contoh metode belajar yang sangat efektif dalam pengembangan kemampuan berbahasa siswa karena penerapannya berhubungan dengan perintah, ucapan dan gerak tubuh/fisik,” katanya.

“Penggunaan TPR oleh tutor ESL atau yang kita kenal sebagai English as a Second Language memfasilitasi siswa untuk menyerap dan mengerti materi pembelajaran dengan lebih baik dan efisien,” tambahnya.

Oleh karena peran fisik yang cukup banyak dalam metode ini, klaim Dewi, proses pembelajaran menjadi lebih menarik. 

“Siwa tidak hanya diam dan duduk mendengarkan tutor tetapi juga turut serta secara aktif menghasilkan dan menggunakan Bahasa Inggris sesuai dengan materi yang diberikan,” katanya.

Selain TPR, menurut Dewi, metode lain yang akan digunakan adalah prinsip bahwa siswa sebagai pusat pembelajaran, di mana kemudian mereka diberikan ruang yang lebih luas untuk memproduksi bahasa yang dipelajari, dibandingkan mendengar tutor.

“Dalam hal ini, guru bersifat memfasilitasi dan memonitor serta memberikan feedback (umpan balik) terhadap peserta didik.”

Mariamoe Speaking Space juga tidak hanya merancang kelas regular, tetapi juga menawarkan materi yang bersifat kontekstual dengan situasi di Manggarai sehingga para siswa menjadi lebih dekat dengan lingkungan sekitar.

“Kami menyediakan kelas ekstra yang dinamai Fun Class, di mana siswa akan diajak untuk keluar kelas regular dan mengunjungi tempat baru yang memfasilitasi mereka dengan ilmu baru dan kesempatan untuk mempraktekan Bahasa Inggris dengan frekuensi yang lebih banyak,” jelas Dewi.

Mariamoe Speaking Space membuka kelas untuk peserta didik SD-SMA.

Setiap kelas, kata dia, terdiri dari 10 orang anak. Dengan biaya Rp 250.000, setiap siswa akan mengikuti delapam pertemuan intensif  selama 2 kali dalam seminggu.

Dewi mengatakan, animo warga kota Ruteng dengan kehadiran kelas ini cukup tinggi. 

“Sejauh ini, kami sudah mendapat empat kelas. Tapi, kami tetap membuka kesempatan bagi yang berminat,” katanya.

Untuk sementara, ruang kelas memanfaatkan lantai dua di kafe Toto Kopi, Jalan Arabika No.41, Tenda, Ruteng.

Selain Dewi sendiri, para pengajar adalah mereka yang berpengalaman, yang diseleksi secara ketat.

Beberapa di antaranya adalah Hendrika Michelin Amelia, lulusan beasiswa Sampoerna Academy.

Ada juga Erin Janggu, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari  PGRI Adi Buana, Surabaya.

Sebeleumnya Erin pernah berpengalaman menjadi guru Bahasa Inggris di Sekolah Internasional Gloria dan Cita Hati Surabaya.

Albina Redempta, direktur Yayasan Mariamoe Peduli mengatakan, Mariamoe Speaking Space adalah salah satu bentuk implementasi konsep sekolah bahagia, yang memang menjadi fokus perhatian mereka dalam beberapa tahun terakhir. 

“Anak-anak di Manggarai harus mendapat asupan dan hak yang sama dengan anak-anak lain di seluruh dunia dalam penguasaan bahasa,” katanya.

“Kami percaya betul bahwa dengan penguasaan bahasa asing yang baik, anak-anak Manggarai di masa depan mampu bersaing dengan anak-anak lain di seluruh dunia,” tambah Albina.

ARL/Floresa